Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Meminta Jawaban


__ADS_3

"Hallo Han,ada apa?" tanya Firman saat dia baru mengangkat penggilan telpon dari Hanna.


"Bang Fir'aun,bisa bantu Hanna buat ketemu dia nggak?" tanya Hana dengan rasa ragu.


"Maksudnya Albi?" tanya Firman dengan melihat ke arah Albi yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Mendengar namanya di sebut otomatis Albi langsung mendongakkan kepalanya menatap sahabatnya dengan menanyakan siapa yang sedang telpon.


"Siapa?" tanya Albi dengan suara yang tak keluar dari mulutnya hanya dengan gerakan mulut saja.


"Hanna." jawab Firman dengan sikap yang sama.


"Hemm..,bang,bang Fir'aun masih di situ kan.. hellow..!!" pekik Hanna membuat Firman menjauhkan ponselnya dari kupingnya.


Melihat tingkah sahabatnya itu,Albi jadi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Lalu dia pun memberikan kode untuk me-loud speaker panggilan telepon itu.Dengan cepat Firman pun melakukan apa yang Albi perintahkan.


"Abang Fir'aun bude* yaa..dari tadi aku ngomong juga." protes Hanna.


"Sorry Han,habisnya kamu hampir bikin bude* kuping ku alhasil aku singkirkan dulu lah,emangnya kamu mau minta tolong apa hemm?" tanya Firman dengan melirik ke arah Albi yang masih setia menyimak obrolan keduanya.


"Aku sama dia mau ketemu pas waktu makan siang.Tapi, dia nyuruh aku ke ruangannya,Abang tahu sendiri kan..kalau aku pastinya akan ke kantin bareng satu team aku,nggak mungkin aku bilang mau ke ruang big bos,nanti apa kata mereka denger begitu."


"Terus ,aku harus bantu kamu supaya bisa ke ruangan Albi gitu?"


" Emmm.. sebenarnya aku takut ke ruangan dia bang,lagian kenapa dia harus nyuruh aku keruangannya sih,padahal aku cuma mau minta cerai sama dia tapi, nyuruh aku ke ruangannya.Aneh kan?"


"Ya sudah ikutin saja apa maunya,nanti aku ke sana buat alasan biar teman-teman kamu nggak kepo." ujar Firman.


" Beneran,kalau gitu terimakasih bang Fir'aun." ucap Hanna dengan suara yang riang.


"Hemmm..apa siah yang nggak buat adek Abang sayang.. hehehe.." ujar Firman dengan menggoda Hanna.


"Halah gombal,ya udah aku balik ke ruangan aku."


"Lah emangnya kamu lagi dimana ?"tanya Firman.


"Toilet,tadi kebelet.bye bang.."


Tutttttttttt tutttttttttt


Panggilan telepon dari Hanna pun akhirnya berakhir.


"Sial,kita diajak ke toilet sama dia.Benar-benar bini Lo yang satu ini lain dari yang lain.Asli kalau Lo hidup sama dia , pastinya lo nggak akan sekaku dan selempeng ini Al." ujar Firman

__ADS_1


Albi hanya bisa mengangkat kedua bahunya.Tak tahu apa yang saat ini doa rasakan namun, mendengar ucapan Hanna dan seolah sosok yang berbeda tentu membuat Albi penasaran dengan sifat asli istri keduanya itu.


Di lain benua saat ini Rossa bersama dengan Sheril sedang berada di sebuah club'malam yang cukup terkenal di New York.


"Ros,lo udah telpon Albi?" tanya Sheril sembari menikmati koktail yang ada di tangannya.


"Rasanya begitu susah hubungi Albi akhir akhir ini.Dia bilang ada di Singapore.Sepertinya disana ada masalah serius.Setahu aku kalau sampai Al turun tangan pasti ada hal yang tidak bisa di selesaikan oleh orang lain Walaupun Firman sekalipun."ujar Rossa yang memang tahu sifat Albi yang pastinya sangat menjunjung tinggi tanggung jawab.


"Iya juga.Papa aku bilang,disana ada penyelewengan dana dari salah satu rekan bisnis nya.Papa ku bilang Firman beberapa waktu lalu malah ke New York." terang Sheril.


Rossa yang mendengar jika Firman akhir-akhir ini ke New York pun menghentikan pergerakannya.


"Maksudnya,Firman ke New York buat apa?"tanya Rossa dengan wajah yang terlihat seperti cemas.


"Kenapa Lo kayak cemas gitu denger Firman ke New York? wilayah ini luas juga kali,Lo emang nggak tahu kalau perusahaan laki lo punya cabang disini dan sebagian lagi juga ada di Australia dan beberapa negara lain."terang Sheril.


"Yah,gue tahu kalau Al punya bisnis lain selain bisnis keluarganya.Tapi, memang gue lupa kalau suami gue sekaya itu.. hehehe.."ujar Rossa dengan tergelak dengan dorinya sendiri yang lupa akan kekuasaan suaminya.


Sebelum bergabung dengan GA Group memanglah Albi punya sebuah bisnis yang tak kalah majunya dengan bisnis keluarganya.Bisnis mereka memang bersekala Internasional.


Albi mempunyai saham di beberapa club di New York dan juga ada bisnis bergerak di bidang Property dan ada juga di Amerika pun mempunyai pabrik pengolahan keju. Sementara di New Zealand dia pun mempunyai peternakan sapi yang luas.


Rossa terdiam sejenak untuk meredam perasaan yang saat ini dia rasakan seperti tak karuan.


"Lo nggak ada masalah kan Ros?" tanya Sheril dengan wajah menyelidik.


Kali ini Sheril mencoba untuk percaya dengan apa yang di katakan Rossa.


...****************...


"Lo mau kemana Han?" tanya Jana saat melihat sosok Hanna yang beranjak dari tempat duduknya.


"Gue mau ke toilet.Kalian ke kantin saja dulu ,nanti gue nyusul." ujar Hanna dengan bergegas menuju arah toilet.


Namun,di depan ruangan itu sudah ada Firman yang stanby.


"Bang Fir'aun." panggil Hanna.


"Eh kamu sudah datang,ayo.." ucap Firman menarik tangan Hanna.


Firman membawa Hanna ke lantai sebelas.


"Bang,kita mau kemana? kok ke lantai sebelas? bukannya ruangan dia di lantai dua puluh?" tanya Hanna dengan rentetan pertanyaan.


"Albi nyuruh abang antar kamu ke ruangan yang sangat privasi.Temapatnya pun jarang di gunakan.Jadi,minim orang yang akan kesana." ujar Firman

__ADS_1


"Serem dong.." ujar Hanna.


"Sereman lo kalau lagi ngomel.." canda Firman.


"Abang..serius nih,malah bercanda."protes Hanna.


Ceklek.


"Sudah masuk sana,lima menit lagi Albi dateng." ucap Firman mendorong tubuh Hanna masuk ke dalam ruangan itu.


Setelah Hanna di dalam ruangan itu Firman pun mengirimkan pesan pada Albi supaya cepat ke sana.Agar Hanna tidak kabur duluan.


Lima menit kemudian Hanna melihat pergelangan tangannya melihat jam tangannya bertepatan dengan pintu ruangan itu terbuka dan menampakan Albi masuk ke raungan itu dengan membawa paper bag.


"Sorry lama,duduklah."ujar Albi saat melihat Hanna yang melihat dirinya datang dia ikut berdiri.


"Emmm, langsung saja.Aku nggak ada banyak waktu buat basa basi.Aku ingin kamu talak aku sekarang.Aku nggak mau buat kamu jadi laki-laki yang berdosa."ucap Hanna dengan memandang wajah Albi sejenak.


"Apa yang kamu harap dari perpisahan kita?kalau aku nggak mau cerai dengan kamu bagaimana?" tanya Albi dengan mode santainya.


"Aku ingin kamu tidak merasa terbebani dengan pernikahan kita.Lagi pula sudah tidak ada yang mau aku jaga hatinya.Ayah sudah nggak ada,kamu bebas dari tanggung jawab atas diriku."


Deg.


"Apa maksud kamu? ayah, maksudnya ayah udah nggak ada maksudnya apa?" tanya Albi mulai menatap tajam kearah Hanna.


"Ayah sudah meninggal dua bulan lalu,jadi kamu bebas." ucap Hanna dengan menahan air matanya.


"Kenapa berita sepenting ini kamu nggak kasih tahu aku,ayah mertua ku Han !!" ucap Albi dengan nada tinggi.


"Mertua,mertua apanya,sedangkan anak dari laki-laki yang kamu anggap mertua itu,kamu nggak pernah menganggap dia sebagai istri kamu,aku tidak ada di sini..di hati kamu,aku hanya beban,kamu menikahi aku cuma karena tanggung jawab.Ingat,hanya tanggung jawab.Maka ceraikan aku sekarang juga,ceraikan aku..ceraikan aku sekarang juga."


Hanna sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya,dia dorong tubuh Albi yang ingin meraih tubuh nya.


"Tenang Han, kamu tenangkan dirimu.. please?!"


"Ceraikan aku bangs*t,cera...


Belum juga menyelesaikan ucapannya Albi sudah membungkam bibir Hanna dengan bibir Albi.Hanna mendapatkan perlakuan yang tidak pernah terduga itu hanya bisa diam dan membatu saat sedikit lum*tan dari Albi mengambyarkan hatinya.


Melihat tak ada respon apapun dari Hanna,Albi pun menghentikan aksi gil*nya.


Tubuh Hanna sedikit oleng namun,dengan cepat Albi meraih tubuh kecil itu dan mendekapnya lalu dia pun mencium pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.


Bersambung

__ADS_1


Heii para readers,jangan lupa like dan juga Vote yaa..


Kita ramaikan cerita ini supaya author tambah semangat buat up date🙏


__ADS_2