
"Haii Cher..kamu di sini juga?" tanya Albi dengan di buat sesantai mungkin.
"Iya, ternyata aku berhasil memergoki suami sahabat aku sedang tergoda sama cewek gatel." sindir Cheryl pada Hanna yang saat ini cemas karena dia takut jika Cheryl akan membocorkan hal ini pada Rossa.
"Cher..jangan keterlaluan lah, aku sama Hanna nggak ada maksud buat selingkuh atau apapun kami...
"Kami hanya kebetulan ketemu mba, Bang Firman tadi bilang aku di kasih voucher gratis buat makan di sini. Ternyata kak Al baru ketemu orang disini. Jadi, kak Al ngajak aku sekalian gabung dari pada makan sendiri-sendiri kan? kalau kak Al tahu mba Cheryl kesini pastinya diajak buat gabung juga kan kak?"
"Iya benar kata Hanna, aku juga nggak tahu kamu akan kemari juga.Aku baru ketemu sama orang disini." sanggah Albi.
"Aku sebenarnya masih nggak percaya sih kalian bisa tega bermain belakang di belakang Rossa.Lagian aku juga tahu selera kamu Al.Nggak mungkin kan, kamu mau sama bocah model kayak dia?"
Albi hanya bisa tersenyum kaku saat mendengar ucapan Cheryl.
"Ya sudah, aku mau pergi duluan. Al kalau nanti ada waktu ketempat biasa. Aku pengen kamu bersenang-senang sekali-kali.Dari pada kami stres mikirin Rossa yang entah di mana kan,aku duluan ya bye..."
Akhirnya Cheryl pun pergi meninggalkan kedua orang yang saat ini merasa lega setelah sepeninggal Cheryl tadi.
Albi menatap Hanna yang masih terlihat sangat cemas tentang kejadian tadi.
"Sayang,kamu nggak papa?"
Albi menggenggam tangan Hanna erat.
Hanna terkejut dan tersadar dari lamunannya.Lalu dia menatap ke arah suaminya." Aku nggak papa mas,cuma sedikit cemas."
"Cemas, kamu cemas kenapa?" tanya Albi dengan mengernyitkan dahinya.
Hanna menghembuskan nafas kasar dan menatap wajah suaminya."Mas sadar nggak, aku takut kalau mba Cheryl bisa ngomong sama mba Rossa tentang kita.Bagaimana pun aku sadar, aku istri yang selamanya mungkin di rahasiakan."
Ucapan lancar yang meluncur dari mulut Hanna membuat hati Albi tercubit.Bukan maksud Albi untuk merahasiakan status mereka.Namun,Albi ingin mengatakan pada Rossa dulu dan baru pada keluarga besarnya.
__ADS_1
"Maafkan mas ya, mas akan buka setelah Rossa kembali nanti." ucap Albi meyakinkan Hanna.
"Iya. Aku ngerti. Maaf mas.." ucap Hanna dengan wajah sendu.
"Sudah, jangan sedih lagi. Jangan pikirin apapun yang buat kamu stres. Tentang Cheryl dan Rossa itu jadi urusan mas.."
Hanna mengangguk mengiyakan permintaan suaminya.
Setelah makan malam mereka pun kembali ke apartemen.Namun, saat ini Hanna sedikit lebih banyak diam.Bicara pun hanya sekedarnya.Hanya menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Kamu istirahat dulu yaa,mas mau periksa pekerjaan dulu."
"Iya mas, kalau bisa jangan terlalu di forsir tenaga nya.Kamu juga butuh istirahat."
"Iya sayang,"jawab Albi dan mengecup kening istrinya itu.
Melihat Hanna yang sudah masuk ke dalam kamar Albi pun masuk ke dalam ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar utama .
Dia langsung membuka laptop miliknya dan mengutak atiknya.Jari jarinya menari di atas keyboard dan juga ekspresi wajah nya pun berubah-ubah.
"Sebenarnya kamu kemana Ros, kenapa kamu buat aku selalu khawatir.Walaupun saat ini di sampingku ada Hanna, dia tidak bisa menggantikan posisimu di hatiku.Maafin aku, jika nanti kamu terluka dengan semua keputusan ku.Hanna juga berhak atas diri ku."
Albi terus memandang pigura yang dia sembunyikan di dalam laci kerjanya.
"Aku harap kamu tidak marah jika suatu hari kamu tahu aku sudah tidak melakukan apa yang kamu lakukan padaku.Aku juga nggak bisa terus menghindar dari permintaan Hanna untuk hamil.Aku sudah melakukan apa yang kamu larang. Percayalah,jika nanti Hanna hamil, tak akan pernah berkurang rasa cinta aku padamu Ros, aku pun akan berusaha meyakinkan kedua orang tuaku untuk hubungan kita."
Albi mendekap erat pigura foto itu lalu menci*minya.
Sementara tanpa sepengetahuan Albi semua yang di ucapkan Albi barusan tentu di dengar jelas oleh Hanna.Dia menutup mulutnya mendengar penuturan suaminya barusan.
Dengan perlahan dia menutup pintu ruangan itu dan kembali kekamar.Niat hati ingin menawarkan kopi atau coklat panas untuk suaminya namun,dia malah mendapati suaminya sedang melepas kerinduan nya pada sosok kakak madunya.
__ADS_1
"Bagaimana pun aku bersikap baik kamu begitu mencintai mba Rossa mas."gumam Hanna dalam keadaan berbaring di tempat tidurnya.
Ceklek.
Terdengar suara pintu dibuka dan Hanna langsung tahu jika itu adalah suaminya karena bau parfum nya sudah sangat hafal.
Terdengar suara gemericik air pastinya Albi sedang membersihkan diri untuk segera tidur.
Tak butuh waktu lama Albi pun langsung menyusul sang istri untuk tidur di dekatnya.Hanna menutup matanya dengan rapat.Berpura-pura sudah terlelap tidur.
Tangan besar Albi sudah melingkar di pinggangnya dan memeluk tubuh nya dengan erat.
"Terima sayang, kamu selalu menjaga ku memeberikan yang terbaik untuk diriku.Aku harap kita akan selalu begini.Walaupun ada Rossa diantara kita pasti dia akan segera mengerti.Kalaupun kamu nanti tahu akan hal yang membuat aku selama ini tak menjawab keinginan kamu semoga kamu nggak marah. Aku sudah melakukan hal besar untuk kamu dan melanggar janji pada Rossa. I love you Hanna." bisik Albi
Dia tak tahu jika ucapannya terdengar jelas di telinga Hanna. Rasanya ingin sekali Hanna menangis namun, tangis untuk apa dia seperti di bod*hi dan sekaligus di perjuangkan.Dirinya dalam dilema.
...----------------...
Pagi hari Hanna menyiapkan sarapan seperti biasanya.Walaupun hatinya sedang tak baik-baik saja.
"Morning sayang..."
Sapaan Albi membuat atensi Hanna pun teralih ke arah suaminya yang sedang berjalan kearahnya.
Dengan senyuman yang memaksa pun Hanna menyambut suaminya duduk di meja makan dekat dengan dapur.
"Pagi mas, sarapan.Maaf cuma nasi goreng sama roti panggang.Aku ada kelas pagi, pulang jam sebelas tapi, aku mau minta ijin buat ke tempat Rana yaa..?"
Albi merasa Hanna sedang tak baik-baik saja.Dia tahu jika Hanna akan selalu memandang dirinya jika berbicara namun, lain dengan saat ini.Dia terlihat banyak menunduk dan melihat ke sembarang arah.
"Sayang, are you okey?" tanya Albi dengan memegang tangan Hanna.
__ADS_1
Dengan pergerakan lambat Hanna melepaskan genggaman tangan Albi. Hal itu membuat Albi mengernyitkan dahinya.Bertanya pada hatinya apa dia buat salah atau ada hal yang menyinggung istrinya itu, namun...sikap Hanna pagi ini jelas berbeda.
Bersambung