
Dua minggu berlalu Rana dan juga Hanna magang di GA Group.
Selama magang tak ada kendala berarti bagi kedua mahasiswa itu.
Para senior disana pun dengan senang hati berteman dengan dua mahasiswa magang itu.
"Hanna..ini dokumen untuk projects di Nusa Dua.Kamu tolong cek,kalau ada kejanggalan bisa kasih tahu saya dan kalau pun kamu bisa selesaikan kamu tulis angkanya saja nanti saya kasih ke pak Firman dulu sebelum laporan itu lanjut ke tangan tuan Al."terang Jana pada Hanna.
Deg
Mendengar nama Firman dan juga Al tiba-tiba detak jantung Hanna berdetak dengan kencang tak seperti biasa.
Hanna meraba dadanya yang merasakan debaran jantung yang sangat kuat.
"Han,Hanna !!" tegur Jana yang melihat Hanna tiba-tiba melamun.
"Ah i_iya kak,maaf." ucap Hanna gelagapan setelah Jana menyentuh bahu Hanna baru tersadar dari lamunannya.
"Kamu melamun,ada masalah?" tanya Jana menatap serius pada Hanna.
Mendengar teguran Jana yang menanyakan keadaan Hanna,Rana yang tempat kerjanya ada di samping Hanna langsung menoleh pada sang sahabat.
"Han,kamu beneran ada masalah? menapa nggak cerita sama aku. Kamu anggap aku apa sih, pokoknya habis kita kerja kamu harus cerita sama aku,semua!"
Pertanyaan dan juga peringatan dari Rana membuat Jana dan juga Hanna terkekeh dengan kelakuan gadis yang selalu buat mereka tepok jidat.
"Kamu ini.Kamu itu nanya apa itrogasi, kelakuan..ck ..ck ..ck "timpal Jana menggelengkan kepala melihat tingkah Rana yang terlihat over.
"lssttt ..aku cuma khawatir sama kamu Han,aku nggak mau kamu di sakiti siapapun." ucap Rana memberi alasan.
"Terimakasih Rana sayang, terimakasih selama ini jagain aku.Tapi,aku memang nggak ada masalah apapun seperti yang kamu sangkakan itu." terang Hanna meyakinkan sahabatnya.
Waktu makan siang tiba dan saat nya para karyawan di GA Group berhamburan keluar kantor untuk mencari makan siang mereka.
Begitu pun dengan Hanna dan team.Mereka melangkah menuju kantin perusahaan.Seperti biasa mereka mengambil jatah makan mereka.Sistem kantin yang mengusung konsep peresmanan memudahkan mereka memilih menu yang mereka inginkan dan porsi yang cukup untuk mereka.
__ADS_1
"Eh iya, dengar-dengar dari anak design besok bos sudah balik dari Singapura.Alamat kita akan kembali mendengar teriakan dia kapau kurang puas dengan kerjaan kita." ucap Veni yang sedang menyantap makan siangnya.
"Emangnya dia segarang itu kak?"tanya Rana
Veni mengangguk mengiyakan.
" Wow.. kita harus ekstra kerja keras dan super perfect dong." ucap Rana lagi dengan ekspresi wajah yang dibuat sedih.
"Nama lengkap pak bos itu siapa sih,karena setahu aku, masih banyak orang yang mengira perusahaan ini masih di pegang tuan Emir sepenuhnya ."sambung Rana.
"Namanya Albieza Pramudya." jawab Jana
"Uhuk uhuk uhuk.."
Mendengar nama itu membuat Hanna yang sedang minum pun terbatuk. Nama yang sudah sebulan ini tak pernah tahu kabar beritanya.Berstatus suami istri tak pernah di sangka seperti orang asing yang tak pernah mengenal.
Rasanya Hanna seperti terjebak dalam keadaan yang sangat sulit .Niat hati ingin melupakan namun,mengapa takdir seperti sedang mempermainkan dirinya.
Rasa benci memang tak ad namun,ada rasa tak terima saat dia membutuhkan seorang laki-laki yang seharusnya menjadi penguat saat dia benar-benar merasa terpuruk karena kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.Namun sayang,dia tak pernah mengambil peran itu untuk sekedar menjadi tempat bersandar.
"Emmm.. thanks." ucap Hanna dan menundukkan wajahnya.
Rana dan Jana saling pandang melihat ada yang lain pada diri Hanna.
"Kamu yakin kamu nggak papa Han?" tanya Veni memastikan.
Hanna menggelangkan kepalanya tak menatap orang-orang di sekitarnya.
"Sudahlah,nggak perlu di paksa untuk dia cerita.Kalau itu privasi dia,kita nggak perlu turut campur dalam urusan pribadi seseorang kan?" ucap llham membuat yang lain pun tak menuntut lagi jawaban dari mulut Hanna.
Hanna menghela nafas panjang dan berusaha bersikap biasa saja.
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia.Apakah ini jalan untuk aku meminta dia untuk melepaskan aku.Allah begitu murah hati memudahkan jalanku."batin Hanna mengingat kembali apa yang menjadi tujuannya pada Albi saat mereka di pertemukan.
Sampai saat selesai makan siang mereka pun kembali dengan kesibukan mereka masing-masing.Namun,saat ini Hanna juga sedang merasa tidak nyaman dengan fakta yang terungkap jika dia saat ini berada dalam perusahaan besar dan itu milik keluarga suaminya.
__ADS_1
"Ehh..lihat deh,istri bos posting akan adakan fashion show di Amerika dan dia salah satu designer yang cukup di perhitungkan di sana." oceh Dania dengan memperlihatkan ponselnya pada teman-teman satu teamnya.
Semua pun melihat ke arah ponsel Dania termasuk Hanna.
"Cantik." celetuk Hanna saat melihat sosok Rossa yang bergaya glamornya.
"Memang cantik,tapi..buat apa cantik tapi dia tega sama suaminya." ujar Veni dengan wajah tak suka melihat gambar yang ada di ponsel Dania.
"Kak Veni kok ngomong gitu?" tanya Rana merasa aneh.
"Kalian berdua baru kemaren disini,jadi nggak bakal tahu perangai istri si bos ini.Dia memanglah cantik tapi,dia terlalu mengejar karier semantara dia sudah punya tanggung jawab atas suaminya.Aku malah ingin sekali bos nikah lagi.Biar dia tahu rasa !" ucap Veni sinis.
"Hust..ngawur kamu !" tegur Jana menatap tajam kearah Veni.
Sedangkan Veni hanya cuek saja menanggapi tingkah Jana.
Sementara Hanna mendengar penuturan para seniornya makin pusing dengan kehidupan suaminya yang benar-benar dia tak pernah tahu.
"Dia pergi berapa lama buat studi?" tanya Hanna tiba-tiba.
Pertanyaan Hanna sontak membuat semua yang ada di teamnya pun menoleh ke arah dirinya.
"Maksudnya kayaknya nggak mungkin lama kan dia harus pergi dari suaminya.Dia punya tanggung jawab untuk mendampingi suaminya dan juga pastinya tugas seorang istri itu penting bahkan lebih penting dari segala pencapaiannya nanti." sambung Hanna mencoba mengungkapkan pendapatnya.
"ltu bagi kita yang punya pemikiran waras Han,bukan seorang Rossa yang pastinya punya obsesi untuk lebih berhasil dari keluarga suaminya." ucap llham yang kini buka suara.
"Betul tuh,aku rasa ada saatnya bos akan jenuh menunggu dan juga merasa di belakangkan istrinya.Pendapatnya saja sepertinya tak pernah di gubris sama perempuan itu." ucap Veni.
"Tapi,aku heran..kenapa kalian bisa tahu masalah ini dengan sedetail itu?" tanya Rana dengan polosnya.
Kelima senior itu pun mengulas senyum mendengar pertanyaan Rana.
"Rana sayang,asal kamu tahu.Kau juga Han,di sini nggak ada tembok pembatas atara divisi dan juga bagian lain pastinya berita sekecil apapun akan di naikkan di goup diskusi." ungkap Jana.
Memang benar adanya ruang kerja mereka memang terbuka dan publis. Berita sekecil apapun pastinya akan cepat menyebar.
__ADS_1
Bersambung