Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Adik Angkat


__ADS_3

"Ny_nyonya.." ucap Suti dengan wajah yang terkejut melihat kehadiran majikannya tiba-tiba ada di dekatnya.


"Ma_maaf nyonya,saya cuma numpang ke toilet saja.Kebetulan saya sedang nunggu kakak saya di dalam. Kebetulan saya tiba-tiba teringin buang air kecil. Jadi ,minta ijin untuk ketoilet." terang Hanna.


"lya nyonya, tadi non ini mau numpang di toilet pos satpam tapi sedang di pakai. Makanya non ini ijin ke toilet dekat paviliun." jelas Suti.


Mutia pun mengangguk angguk mendengar penjelasan dua orang yang ada di dekatnya.


"Tadi kamu bilang sedang nunggu kakak kamu yang masuk ke dalam rumah ini,siapa?" tanya Mutia karena heran dengan ucapan Hanna yang bilang jika kakaknya bertamu ke rumahnya sementara dia tahu tak ada tamu di hari ini.


" Emmm..bang Fir'aun,eh maksud Hanna bang Firman nyonya." ucap Hanna dengan wajah yang terlihat tidak enak hati karena kebiasaannya memanggil Firman dengan sebutan Fir'aun.


"Firman? kamu yakin adiknya atau adik ketemu gede, maksudnya pacar atau kekasih Firman. Maaf jika saya bicara begini,karena saya tahu kalau Firman anak tunggal. Jadi,dia tidak mungkin punya adik kan?"


Mendengar penuturan Mutia membuat Hanna tersenyum kecut.


"Maksudnya adik angkat bang Firman nyonya." terang Hanna.


"Adik angkat? Kenapa Firman nggak pernah cerita ke kami dia punya adik angkat?" tanya Mutia.


"Entahlah lah nyonya.Mungkin karena saya tidak tinggal di sini.Jadi,buat bang Firman itu tidak penting." ujar Hanna membuat alasan.


Di ruangan kerja Albi setelah pembicaraan tentang pekerjaan Teungku Emir pun keluar dari ruangan kerja sang putra.


"Ada yang perlu gue kerjain lagi nggak?" tanya Firman.


"Nggak sih,kenapa memang? Kayaknya mau buru-buru pergi saja lo. Lagian biasanya juga weekend begini lo sibuk main game doang,kayak punya pacar saja lo." cibir Albi pada sahabatnya.


"Emangnya jomblo nggak boleh jalan-jalan apa? gue capek abis jalan sama Hanna." ungkap Firman.


"Hanna?" tanya Albi memastikan.


"lya,Hanna bini lo.Tadi kita jalan ke mall buat ngusir rasa bosen. Lagian,Hanna BT di rumah sama mak Yah doang apalagi dia belum pernah jalan-jalan selama di Jakarta. Rana lagi balik ke Bandung soalnya." terang Firman.

__ADS_1


Rasanya Albi ingin mengumpat habis sahabatnya itu. Bisa bisanya mereka jalan berdua. Hanya berdua lho, sementara dirinya sibuk kerja walaupun sedang libur. Hanna juga tidak bilang kalau dirinya akan pergi dengan Firman.


"Terus Hanna sudah di anter pulang kan?" tanya Albi


"Justru itu, gue tinggalin Hanna di mobil dari tadi." ungkap Firman santai.


"Hahh, yang bener saja lo bawa Hanna kemari. Kalau dia ketemu sama bokap sama nyokap gue gimana? nggak bisa diandalkan !!" cerocos Albi dan dia pun beranjak dari tempat duduknya.


"Lo kata gue nggak bisa diandalkan,Lo sendiri gimana? bini di biarin sendiri dirumah.Sudahlah , gue balik." ucap Firman pamit pulang.


Sebenarnya kesal juga Albi bilang dirinya tidak bisa diandalkan tapi, Firman dengan cepat menepis pikirannya itu.Albi mungkin khawatir jika Hanna akan bilang hal yang tak pernah dia inginkan pada kedua orang tuanya.


Saat kedua pria itu melangkah keluar dari ruangan kerja Albi mereka mendengar suara orang yang sedang tertawa dari arah ruang keluarga.


Keduanya saling pandang dan langsung melangkah menuju ruang keluarga dan benar saja disana ada Hanna dan juga kedua orang tua Albi yang sedang berbicara. Entah berbicara tentang apa, mereka sepertinya sedang asyik dengan pembahasan yang menyenangkan.


"Heii..kalian sudaj selesai dengan diskusinya? Kamu Fir,kenapa nggak pernah cerita kalau punya adik semanis ini." ucap Mutia memuji kecantikan alami Hanna.


" lya adik.Kamu juga belum tahu Al, sahabat kamu itu..punya adik angkat yang manis seperti ini. Mama rasanya ingin punya anak cewek. Hanna kamu tinggal di sini saja sama mama yaa..?"


Albi dan juga Firman melotot mendengar permintaan Mutia.Terlebih Hanna yang merasa tubuhnya menegang dan otaknya langsung blank.


"Wah,tidak bisa mama..dia masih kuliah. Lagian dia disini hanya tiga bulan. Dia kebetulan magang di kantor." ucap Firman membuat Hanna menaikkan wajahnya dan melotot ke arah Firman.


"Magang di kantor kita maksudnya?" tanya papa Albi


"l_lya pa." jawab Firman.


Firman yang memang sudah akrab dengan keluarga Albi tentunya tidak sungkan lagi memanggil orang tua Albi sama seperti Albi.Namun,jika ada orang lain,dia akan memanggil uncle dan aunty. Jika acara formal pun akan memanggil tuan dan nyonya.


"Mama baru ingat, sepertinya kita pernah bertemu di kantor. Benar kan Hanna? " tanya Mutia pada Hanna.


"Ah i_ya nyonya." jawab Hanna dengan gugup.

__ADS_1


"Aduh kamu ini,jangan panggil saya dengan nyonya. Kamu bukan bawahan suami saya atau anak saya.Kamu panggil kami seperti Albi dan Firman yaaa?"


"Tapi...


"Tidak.ada tapi tapian Hanna,saya setuju dengan istri saya. Melihat kamu dan saat bicara dengan kamu rasanya saya punya putri. Maukan, menganggap kami seperti orang tua kamu sendiri?"


Teungku Emir menyela omongan Hanna yang ingin menolak.


Hanna menatap sang suami yang juga sedang menatapnya. Dengan samar Albi mengangguk. Semua itu Albi lakukan untuk membuat orang tua nya todak curiga. Setidaknya Hanna tidak merasa bersalah.


Namun,siapa sangka semua keputusan Albi itu akan menimbulkan masalah kedepannya nanti.


"Baiklah, terimakasih. Karena Hanna pun sudah tidak punya orang tua lagi." ucap Hanna dengan suara yang tercekat menahan tangis.


Mutia yang mendengar ucapan Hanna pun langsung memeluk Hanna atau menantunya itu namun sayang nya dia tidak tahu akan status Hanna saat ini. Entah apa yang terjadi nanti jika mereka mengetahui kebenaran akan status Hanna yang menjadi istri kedua Albi.


Rasa hangat menjalar di hati Hanna.Pelukan Mutia membuat dirinya merasa terharu.Merasakan pelukan seorang ibu yang sudah lama dia dambakan. Apalagi Mutia adalah ibu mertuanya. Namun, ada rasa bersalah di hati Hanna karena dirinya sudah merasa menipu Mutia dan suaminya karena mereka tidak tahu jika dia adalah istri kedua sang putra.


Setelah acara melow karena perlakuan manis orang tua Albi,Hanna dan Firman di minta makan malam di rumah itu.Tentunya Hanna awalnya menolak namun,saat Albi ikut bicara Hanna pun menyetujui permintaan Mutia.


Hanna pun mengakrabkan diri dengan ibu mertuanya dengan memasak bersama dan itu adalah moment yang Mutia impikan setidaknya dengan menantu nya namun,nyatanya dia dan suaminya belum bisa menerima Rossa sebagai menantu yang baik.


Hanna diminta Mutia untuk bebersih di kamar atas.Suti dengan setia mengantarkan Hanna ke kamar tamu yang ada di lantai atas dimana kamar yang akan Hanna gunakan dekat dengan kamar Albi.


"Terimakasih mba Suti,biar Hanna masuk sendiri." ucap Hanna pada Suti.


"lya non Hanna,ini baju gantinya.Kalau gitu mba Suti turun dulu,mau cek cek lagi sebelum makan malam." ujar Suti.


"lya mba." jawab singkat Hanna dengan senyum ramahnya.


Setelah Suti pergi Hanna pun membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam kamar itu namun,saat akan menutup pintu kamar itu, tiba-tiba ada yang mendorong lumayan kuat dan ternyata Albi ikut masuk ke dalam kamar itu.Melihat Albi yang menerobos masuk membuat Hanna terkejut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2