Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Minta Bantuan Firman


__ADS_3

Hanna melihat punggung suaminya menjauh dari tempatnya berdiri.


Walaupun memang dirinya belum mencintai Albi namun,rasanya begitu sakit dirasakan oleh hatinya.


"Ya Allah kenapa sesakit ini rasanya.Aku yakin,semua ini demi kebaikan ku dan juga kebaikan mas Al.Ayah sudah tidak ada dan aku pun sudah terus terang dengan bi Lia.Tenang Hanna,semuanya akan baik-baik saja." batin Hanna terus berbisik pada dirinya sendiri.


"Han,are you okey?" tanya Rana yang sudah ada di samping Hanna.


Hanna menatap wajah sahabatnya.Entah mengapa tiba-tiba rasa sedih menyeruak kembali dalam dada.


Tanpa pikir panjang lagi Hanna dengan cepat memeluk tubuh sahabatnya.


"Hiks hiks hiks,aku nggakmau nangis Ran..kenapa air mata sia*an ini keluar sendiri.Aku mau lepas dari peranku menjadi seorang yang tak dianggap,aku nggak mau di cap sebagai perempuan yang memanfaatkan orang Ran,ayah sudah nggak ada,aku sudah nggak harus menjaga perasaannya saat ini.Aku nggak mau menjalani pernikahan seperti ini.. hiks hiks hiks."Hanna terus saja mengungkapkan perasaannya dengan gamblang pada Rana.


Awalnya Rana tak mengerti dengan tujuan Firman menuruh Hanna ikut dengan Albi namun,saat sayup-sayup terdengar suara Hanna yang meminta Albi menceraikan dirinya,otak laule nya pun bekerja dengan cepat.


"Apapun yang kamu dengar sekarang, tolong rahasiakan.Mereka menikah karena terpaksa, pernikahan tanpa cinta membuat Hanna meminta berpisah dengan Albi yang sebenarnya saya tidak ingin mereka berpisah.Hanna tepat untuk menjadi istrinya.Namun,Albi bukan orang yang tepat untuk Hanna,karena Albi dengan sadar menyakiti hati Hanna.Menjadi istri tanpa diakui itu sakit.Tapi, semoga Albi tidak akan menyesal kalau seandainya dia memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka." ungkap Firman panjang lebar.


Rana tidak bisa berkata-kata lagi.Dia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Firman.Sebenarnya dia begitu syok dengan kenyataan jika bos mereka yang terkenal kaku plus dingin itu,ternyata suami dari Hanna sahabatnya.


"Kamu mencintainya?" tanya Rana dengan menuntun Hanna duduk di salah satu bangku taman.


Hanna menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Rana.


"Terus,arti dari air mata kamu apa?merasa sedih, perasaan hacur atau merasa kehilangan?"


Rentetan pertanyaan Rana membuat Hanna terdiam dan dia pun tidak tahu kenapa dia harus menangis.


"Nggak ada cinta Rana,rasanya daaku sesak,hatiku sakit itu saja." jawab Hanna.


Rana tersenyum tipis mendengar jawaban sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kalau masih bisa di perjuangkan dan di perbaiki,nggak perlu ada kata perceraian.Walaupun tidak di haramkan namun, perceraian salah satu hal yang di benci Allah." tutur Rana.


Hanna mencoba untuk menghapus air matanya.Rasanya susah untuk dia hentikan untuk tidak menetes.


"Cobalah sholat istikharah.Minta petunjuk dari Allah.Ketetapan Allah lebih baik dari segi manapun.Walaupun awalnya ada rasa kesakitan.Namun,percayalah suatu saat Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kamu." terang Rana.


"Baiklah ustazah.Kita pulang,sudah mau magrib." ujar Hanna menghentikan pembicaraan mereka di sore itu.


...****************...


"Sebenarnya apa yang ada di otak lo itu Al,kenapa lo nggak langsung putuskan secara lo nggak benar-benar ingin menjalani kehidupan rumah tangga dengan Hanna.Jangan buat anak orang susah hati.Wanita itu,butuh pengakuan.Kalau pun akhirnya memilih untuk tetap menjaga cinta yang selama ini lo agung-agungkan itu,lepaskan Hanna.Dia berhak untuk bahagia." ucap Firman panjang lebar.


"Lo pikir rumah tangga itu segampang yang lo bayangkan? nggak semudah itu Fir,banyak yang harus gue pertimbangkan.Gue berjanji atas nama Allah,di depan saksi atas pernikahan gue.Memang pernikahan gue sama Hanna kesannya seperti main-main tapi,banyak hal yang tidak Lo ketahui.Gue harus juga jaga perasaan keluarga besar Hanna dan terutama ayahnya.Dia mertua yang begitu baik dan berjiwa besar. " ungkap Albi mengingat sosok mertuanya yang dia kenal baru-baru ini.


Walaupun baru mengenal sosok Hilman namun,banyak pembelajaran yang dia dapat selama dia bicara berdua dengan mertuanya itu.


.


.


Namun,kali ini rasanya Hanna begitu malas untuk pergi bekerja.


"Han,Lo nggak napa-napa kan ?" tanya Rana yang melihat Hanna yang lebih banyak diam dan banyak melamun.


"Oke,nggak ada masalah." jawab Hanna malas.


"Tapi, dari cara lo jawab menggambarkan kebalikannya tahu," tutur Rana mengingat ekspresi wajah Hanna yang ogah-ogahan.


"Jujur saja gue malas datang ke kantor Tapi, apa boleh buat..kita hanya mahasiswa magang yang harus rajin dan tentunya bekerja keras." ujar Hanna.


Sampai kantor GA Group kedua sahabat itu turun dari mobil Rana dan jalan berdampingan masuk ke gedung tinggi nan megah itu.Saat baru saja selangkah masuk ke lobby kantor, terdengar suara yang begitu Hanna kenal.

__ADS_1


"Hanhan !!"seru seseorang dari arah belakang mereka berdua.


Keduanya pun menoleh ke belakang dan mendapati ada Firman dan juga Albi yang terlihat memancarkan sifat dingin dan kaku mereka berjalan di belakang mereka.


Rana yang melihat ekspresi kedua atasannya yang terlihat dingin akhirnya menarik Hanna untuk menepi membiarkan kedua atasannya berjalan lebih dahulu.


"Tadi aku nggak salah denger kan Ran,ada yang manggil aku Hanhan?" bisik Hanna bertanya pada sang sahabat.


"Kuping lo ngga bude* kali Han,gue juga denger.Sudahlah,jangan di perpanjang.Yang ada nggak kelar-kelar urusannya." jawab Rana dengan berbisik pula.


Kejadian tadi pagi membuat Hanna bertanya kepada dirinya sendiri.Apa maksudnya Firman manggil namanya Hanhan,apa dia ke geeran.


"Masih mikirin yang tadi pagi?" tanya Rana tiba-tiba sudah ada di samping Hanna dengan kursinya.


"lssttt..Rana,ngagetin aja deh !" protes Hanna yang terkejut dengan pertanyaan Rana menyadarkan dirinya dari lamunannya.


"Habisnya lo ngalamun aja dari tadi,kamu kepikiran soal jawaban pak bos nanti.Apapun jawaban dia,pasti yang terbaik Hanna.Kalaupun dia tidak mau bercerai,lo harus kasih kasih syarat." ujar Rana dengan berbisik pada Hanna.


"Syarat apa maksudnya?" tanya Hanna dengan mengernyitkan dahinya tanda tak paham dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.


"lya syarat.Jangan biarkan dia mempermainkan perasaan dan juga pernikahan kalian.Dosa tahu.." ujar Rana.


"Gimana caranya gue ke ruangan dia,Lo tahu sendiri untuk kekantin saja kita selalu bareng-bareng." ucap Hanna yang bingung dengan cara untuk ke ruangan Albi.


"Jangan bod*h dong otak encer Lo itu,ada Firman. Lo bisa minta tolong sama Firman buat ke ruangan suami lo,dia pasti bisa.Percaya deh.." ujar Rana.


Hanna pun mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya.Saat ini memang dia butuh bantuan Firman untuk menyelesaikan semuanya.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2