
"Bawa barang-barang aku, maksudnya?" tanya Hanna memastikan.
"Mulai sekarang ini rumah kamu.Saya sebagai suami kamu tidak mengijinkan kamu tinggal di kost an kamu lagi .Kamu pasti tahu bahwa istri harus patuh pada suaminya dan saya harap kamu paham dengan status kamu." ucap Albi menyeruput kopinya.
Hanna menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Saya sangat tahu posisi saya kok.Jadi istri kedua,tanpa bisa memiliki hati suaminya sendiri. Jadi,jangan biarkan saya mengharap lebih banyak lagi nantinya mas.Aku pun nggak akan biarkan aku tersakiti di sini.Karena memang sejatinya wanita hanya ingin memiliki suaminya seutuhnya." ucap Hanna dan langsung berlalu dari ruang makan lalu segera dia naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Mendengar penuturan Hanna membuat Albi mematung.Albi menggenggam sendok yang ada di tangannya dengan erat.Ucapan Hanna membuat dirinya berpikir keras untuk nasib rumah tangganya atas keputusannya untuk berpoligami.
Hanna tak bisa menolak lagi dengan perintah Albi yang memintanya untuk ke kantor menggunakan sopir khusus yang disiapkan Albi.
Hanna turun dari mobil yang membawanya sampai ke kantor.
Tak disangka sang sopir dengan cekatan membukakan pintu untuk nya.Hal itu membuat Hanna merasa itu berlebihan.
"Terimakasih pak,tidak perlu bapak lakukan hal itu." ucap Hanna dengan sedikit menundukkan tubuhnya.
"Tidak apa-apa non,semua sudah jadi tanggung jawab saya." jawab supir yang bernama pak Darto.
"Terserah bapak deh kalau gitu.Nanti saya akan protes sama mas Albi.Bapak boleh istirahat.Terimakasih pak." ucap Hanna dan berlalu dari mobil itu.
Banyak orang yang melihat Hanna yang diantar oleh mobil mewah.Mereka pastinya sangat heran dan penasaran sekaya apa anak magang sekelas Hanna yang berasal dari Bandung dan dari desa kecil juga bisa mempunyai fasilitas mobilitas yang mewah.
"Hanna !!" panggil Rana saat Hanna baru menjejakkan kaki di lobby kantor.
"Ran,kamu baru datang juga?" tanya Hanna pada sahabatnya.
__ADS_1
"lya lo tega sih pindah nggak bilang-bilang.Cuma Wa doang lagi.Biasanya kan lo yang jadi alarm gue.Sekarang Lo sudah tinggal sama si bos jadi gitu deh..kesiangan,gue juga belum sarapan." ungkap Rana pada sahabatnya dengan wajah lesu.
"Uuuhhh..kasihannya sahabat gue ini ,maaf yaa..gue juga nggak tahu dia buat keputusan mendadak gitu.Apalagi dia bilang sudah mengesahkan pernikahan kita secara agama." kata Hanna.
"Hahh..serius?!!" pekik Rana membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka yang sedang mengantri untuk masuk ke lift melihat ke arah Hanna dan Rana.
"Apaan sih lo, pake teriak-teriak segala.Liat deh,kita jadi diliatin sama orang-orang." bisik Hanna
"Biarin ajalah,lagian kalau pun mereka tahu lo istri boss nya pasti mereka akan tunduk sama lo kok."bisik Rana.
"Lo mau gue di hujat satu lndonesia karena tahu kalau gue cuma istri kedua.Mereka pastinya akan ngatain gue sebagai pelakor ngerti kan lo?"
Bisikan Hanna membuat Rana meneguk ludahnya sendiri dengan sedikit susah.
Benar adanya jika ora tahu status Hanna istri kedua tentunya banyak yang akan beranggapan kalau Hanna sebagai perebut suami orang.
"Hanna,tadi pagi gue lihat lo dianter sama mobil mewah plus supir yang sampai-sampai harus bukain pintu buat lo keluar dari mobil.Nggak nyangka yah,lo yang kelihatan B aja samapai di anter sama mobil mewah.Apa jangan-jangan Lo itu punya sugar daddy..upss!"
Mereka yang mendengar penuturan salah satu orang yang merupakan karyawan dari divisi marketing yang bernama Farhana itu membuat teman-teman nya satu meja bahkan yang lain meja menatap ke arah Hanna.
"Kenapa memangnya kalau gue dianter mobil mewah? lo iri? Jangan samain gue sama lo.Apa yang gue lakuin lebih baik dari pada apa yang lo lakuin di luaran sana.Gue nggak butuh dandanan yang kayak Lo ini." ucap Hanna dengan menunjuk wajah Farhana membuat perempuan itu melotot tak menyangka jika Hanna berani untuk menjawab omongannya.
"Lo cuma bisa membanggakan wajah polesan Lo ini sama laki-laki hidung belang di luar sana.Kenapa,heran? Heran sama orang kampung kayak gue ini bisa tahu kehidupan Lo.Padahal kita pun hanya sebatas ketemu di kantor kan?"
Hanna berdiri dari tempat duduknya dan medekat pada Farhana dan membisikkan sesuatu.
"Gue tahu,lo itu punya sugar daddy orang bule.Mana ada kamu yang punya selera tinggi mau sama aki-aki gitu.Gue lihat kok,tadi pagi Lo dianter sama dia." bisik Hanna membuat Farhana tambah makin kaget dengan omongan Hanna.
__ADS_1
Padahal Hanna cuma menebak saja karena saat di jalan menuju kantor dia tak sengaja melihat Farhana di mobil bersama pria bule yang pastinya tidak muda lagi dan mereka memamerkan perlakuan yang tak sepantasnya saat lampu merah menyala.
"Sial*n,dari mana dia tahu gue punya sugar daddy? apa jangan-jangan dia cenayang,hiiiii..kok jadi ngeri sih.." batin Farhana dan langsung pergi begitu saja tanpa sepatah katapun
keluar dari mulutnya.
Melihat Farhana yang berlalu begitu saja membuat orang-orang yang tadinya memandang sinis Hanna seketika beralih menatap Farhana dengan pandangan mengejek.
Huuuuuuuu...
Terdengar seruan keras dari orang-orang yang ada di kantin melihat kejadian dua perempuan yang sudah membuat kehebohan di kantin siang ini.
Semua kejadian itu tak lepas dari pandangan Albi dan Firman yang sebenarnya tak pernah menyangka jika Hanna bisa bersikap seperti itu pada orang yang berusaha menindasnya atau di bilang berusaha untuk menjadi bahan bully.
"Benar-benar dia perempuan yang tak bisa diremehkan.Gue malah senang kalau dia bisa bersikap begitu.Karena dengan sikapnya seperti itu sangat pas menjadi pendamping Lo." cerocos Firman.
Mendengar komentar dari Firman membuat Albi mengernyitkan dahinya "sangat pas menjadi pendamping"
"Maksud lo apa,apa Rossa nggak pas buat jadi pendamping gue selama ini?" tanya Albi membuat Firman gelagapan dibuatnya.
"Ah..bu_bukan gitu ma_maksudnya,gue bilang kalau Rossa nggak pas buat lo,karena Lo kan yang suka dan cinta bucin sama Rossa.Tapi,terus terang gue belum pernah lihat Rossa bersikap santai tapi membu*uh lawan .Tapi, selama ini jika dia punya karakter yang nggak bisa slow dia itu selalu meledak-ledak kesannya dia itu egois.ltu sih ,menurut gue." ungkap Firman dengan melihat ekspresi Albi yang masih terlihat datar-datar saja.
Tanpa mengatakan apapun Albi pun melangkah mendekati meja di mana Hanna dan para teman-teman nya sedang asik menikmati makan siang.
Kemunculan tiba-tiba Albi pun membuat mereka yang ada di meja yang sama dengan Hanna di buat terkejut.
Bersambung
__ADS_1