Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Hari Pertama tinggal satu atap


__ADS_3

Mak Yah mendengar pengakuan Albi tentu saja terkejut.Karena memang yang dia tahu jika Albi menikahi Rossa.


"Maksudnya den Albi bagaimana,Mak nggak salah dengar kan?" tanya Mak Yah memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Memang benar mak,Al menikahi Hanna karena sebuah tanggung jawab." ucap Albi dan tak sungkan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi sampai dia menikahi Hanna.


"Ya Allah den,terus keluarga den Al juga nggak tahu soal pernikahan kedua den Al?"


Albi menggeleng membuat Mak Yah menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa.


"Mak nggak bisa menyalahkan kalian.Tapi, pernikahan kalian harus di ungkap suatu hari nanti.Mak yakin kalau Hanna mengerti akan posisinya tapi, emak juga khawatir dengan respon non Rossa.Mak takut Hanna yang akan tersakiti nantinya.Kalau den Albi meneruskan pernikahan cuma karena tanggung jawab,lebih baik lepaskan Hanna.Kalau den Al mau memulai dari awal dengan baik,den Al harus adil nantinya pada kedua istri den Al." ucap Mak Yah.


"Terimakasih Mak, sekarang Mak istirahat." ujar Albi dan Mak Yah pun mengiyakan ucapan tuannya.


Sebenarnya Mak Yah sudah tidak ingin bekerja seperti dulu lagi tapi, karena kesepian di rumah anak satu-satunya dia menanyakan pekerjaan lagi pada Albi dan kebetulan Albi membutuhkan seorang yang bisa mengawasi istri keduanya.


Mak Yah sudah mengabdi pada keluarga Pramudya sudah dari Albi kecil.Setelah anaknya menamatkan pendidikan kemiliteran Mak Yah diminta sang putra untuk berhenti bekerja namun,tugas negara yang di emban sang putra mengharuskan dia pergi ke perbatasan untuk menjaga perdamaian dunia selama beberapa tahun kebelakang.


Albi menuju kamar di mana biasanya dia tempati jika berada di rumah tersebut.


Lain dengan rumah yang kemarin sempat Al dan Hanna datangi rumah yang saat ini dia tempati lebih besar dan dengan design modern klasik.


Albi mengambil ponselnya di atas nakas yang dia tinggalkan saat membersihkan dirinya.


Dia mengecek baberapa email dan panggilan serta pesan pada ponselnya.Namun,rasa kecewa lagi-lagi melanda hatinya.


Tak ada satupun pesan atau panggilan dari sang istri tercinta guna memberikan kabar tentang kondisinya di belahan dunia lain sana.


"CK..sia*an !!" umpatnya sesaat setelah menghubungi beberapa kali nomer Rossa namun tak bisa.


"Kemana dia,semakin hari dia semakin tidak bisa di kontrol dan terkesan tak peduli dengan keberadaan ku disini.Kenapa kami seegois ini Ros,rasanya jika kamu nggak berubah juga, nggak mungkin aku tolak pesona dari orang lain.Bahkan dia lebih nyata dan berhak juga atas diriku." gumam Albi mengingat ada istrinya yang lain yang mungkin bisa lebih menghargai dirinya.

__ADS_1


Di kamar yang di tempati Hanna,dia masih belum bisa tertidur dengan lelap.


Setelah beberapa saat melakukan panggilan telepon dengan sang bibi dan juga Rana,Hanna berusaha memejamkan matanya.


"Apa mas Al sudah bilang sama Mak Yah kalau aku istrinya.Apa tanggapan Mak Yah kalau tahu aku istri mas Al,pasti aku dianggap pelakor." gumam Hanna menerka-nerka apa yang akan terjadi jika Mak Yah tahu bahwa Hanna istri kedua Albi.


Pusing mikirin hal yang membuat Hanna semakin over thinking akhinya dia susah payah mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur.


...****************...


Pagi hari Hanna turun ke bawah dan melangkah ke dapur.Dia dengan cekatan menyiapkan sarapan pagi ini.


Saat sedang sibuk dengan masakannya Mak Yah masuk ke dalam dapur.


"Pagi non Hanna,wah..non masak apa? baunya wangi banget.Kecium sampe paviliun."ucap Mak Yah.


"Ck..Mak Yah bisa saja.Hanna cuma buat nasi goreng buat sarapan."ucap Hanna dengan menuangkan nasi goreng yang tadi dia buat ke dalam wadah.


Mendengar penuturan Mak Yah sudah di pastikan jika Mak Yah sudah tahu status Hanna dan Albi.


"Mak Yah sudah tahu soal Hanna sama mas Al?" tanya Hanna dengan tersenyum kikuk.


"Santai saja non,den Al itu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.Apapun biasanya den Al akan menyampaikan pada emak,jadi..rahasia aman."ucap Mak Yah.


"Mak Yah nggak benci sama Hanna, maksudnya..Mak Yah nggak anggap Hanna pela-kor?"


Hanna tersenyum dan mengelus kepala Hanna seperti layaknya seorang ibu pada putrinya.


"Mak nggak punya alasan buat benci sama Hanna atau marah sama den Al karena kawin dua.Tapi,yang jelas..Mak Yah cuma ingin mengingatkan jika Hanna harus sabar dan juga legowo menerima takdir Hanna.Dampingi den Al saat senang dan susah."ujar Mak Yah membuat Hanna mengernyitkan dahi mendengar penuturan Mak Yah.


"Kenapa Mak Yah bilang begitu sama Hanna?" tanya Hanna.

__ADS_1


"Itulah dari sekian banyak tugas istri Hanna harus berusaha perhatian dan juga selalu menjaga diri Hanna dan juga jaga makan minum suami Hanna.Semua itu pahala Hanna." ucap Mak Yah .


"Tapi Mak,Hanna dan mas Al nggak saling cinta.Kami menikah pun karena sebuah kecelakaan dan hanya sebatas tanggung jawab." tutur Hanna.


"Maka dari itu,rasa tanggung jawab itu bisa kamu kembangkan dan juga tak ada salahnya memanjakan suami.Itu pahala lho.." ujar Hanna.


Hanna hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Mak Yah.


"Ya sudah ,Mak bersih-bersih dulu yah.." ucap Mak Yah berlalu dari hadapan Hanna.


Setelah Mak Yah pergi datang dari lantai atas Albi yang melangkah ke arah meja makan.


"Ehemmm.." deheman Albi membuat Hanna mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.


"Pagi mas.." ucap Hanna dengan wajah yang terlihat tertuduk.


"Pagi.." jawab Albi dan mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Hanna terlihat menyodorkan piring yang sudah berisi nasi goreng dan telor mata sapi.Serta tak lupa kopi juga air putih untuk Albi.


"Mau kemana kamu?" tanya Albi saat melihat Hanna yang akan pergi dari tempat itu.


"Ke kamar mas,aku mau siap-siap dulu." jawab Hanna.


"Baiklah,cepat bersiap.Sarapan,setelah itu..kamu ke kantor diantar supir." ucap Albi.


"Nggak usah mas,aku bisa pesan ojol kok." ucap Hanna.


"Nggak ada penolakan Hanna,cepat bersiap.Sebentar lagi supir datang sekalian bawa barang-barang kamu yang ada di kost-an buat di pindahkan ke sini.." terang Albi.


Mendengar penuturan Albi rasanya ingin Hanna menolak namun,bagaimana lagi..nggak akan mungkin Albi membiarkan dirinya pisah rumah lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2