Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Keinginan Hanna


__ADS_3

Sore hari saat Hanna sedang asik membaca novel kesukaan nya di balkon kamar nya dia mendengar deru mesin mobil. Karena memang dia penasaran,dia pun melongok sekilas dan ternyata mobil Albi sudah terparkir di depan rumah mereka.


Terlihat Albi keluar dari dalam mobil dan dia pun mendongakkan kepalanya menatap di mana Hanna yang sedang melihat kearahnya juga Albi dengan tatapan dingin.


Albi pun melempar senyum tipis namun siapa sangka Hanna malah terlihat cuek padanya.


Terlihat oleh mata Albi Hanna beranjak dari tempat dimana dia duduk dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Ada rasa kecewa di hati Albi saat dirinya merasakan sikap Hanna yang cuek padanya.


Albi pun akhirnya memilih melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum.." ucap Albi saat masuk ke dalam rumah dan sosok pertama yang dia lihat adalah mak Yah.


"Wa'alaikumsalam sudah pulang Al?" tanya mak Yah yang sedikit heran karena biasanya Albi akan sampai di rumah pas di jam-jam magrib. Namun, sekarang baru saja baru jam lima sore Albi sudah sampai dirumah.


"Iya mak." jawab Albi singkat.


"Apa kamu sakit, sampai-sampai jam segini sudah pulang?" tanya mak Yah dengan cemas.


"Al baik-baik saja mak, jangan khawatir yaa, oh iya Fiza jadi balik ke Jogja mak?" tanya Al menanyakan hal tersebut karena sedari dia berangkat kantor nomer Fiza tak bisa di hubungi.


"Kenapa kamu malah nanyain soal Fiza. Sebaiknya sekarang ini yang lebih penting itu Hanna Al. Soal Fiza kamu nggak perlu khawatir mak yang akan datang ke wisuda Fiza nanti." ucap mak Yah.

__ADS_1


Mak Yah memanglah salah satu ART kepercayaan keluarga Albi. Di depan orang lain mak Yah bersikap layaknya seorang ART namun,di keluarga Albi dan yang tahu history mereka Mak Yah akan bersikap layaknya seorang ibu pada sang putra.


Albi pun menganggap mak Yah seperti ibu kedua baginya. Nasehatnya akan selalu Albi dengarkan. Dari situlah keluarga Albi tak keberatan untuk membiayai pendidikan Fiza karena memang mak Yah yang seharusnya mengambil kewajiban itu dari ibu Fiza.


"Baiklah mak, Al ke kamar dulu." ucap Albi dan melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


...****************...


Hanna sudah rapi saat setelah melihat Albi pulang Hanna buru-buru membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke tempat Rana.


"Loh Han,kamu mau kemana?" tanya mak Yah saat melihat Hanna yang baru turun dari atas.


"Eh Mak,Hanna mau ke tempat kost Rana sahabat Hanna dari Bandung." jawab Hanna santai.


"Tapi,Albi baru saja pulang. Apa nggak sebaiknya kamu jangan pergi, bukan mak bermaksud untuk memerintah kamu.. sebaiknya seorang istri lebih bersabar dalam menghadapi perangai suaminya." ucap mak Yah membuat Hanna tersenyum miring mendengar ucapan Mak Yah barusan.


"Mak, apa emak pernah ada di posisi kau? aku hanya wanita yang terpaksa dia nikahi karena dia sudah menid*riku. Apa emak pernah merasakan sebagai istri yang tak dianggap tapi dia dengan teganya menggantung hubungan kita. Apa yang harus aku perbuat buat hadapi dia, jangankan buat mandang aku, dia saja nggak pernah hargai perasaan aku sebagai istri. Aku punya perasaan mak, baiklah..aku hanya istri kedua yang nggak dia harapkan, jika dia tidak mau menjadi laki-laki dayus lebih baik ceraikan aku. Tapi, apa yang dia lakukan, dia bersikap manis dengan wanita lain tanpa mau menghargai bagaimana sakitnya hati aku sebagai istrinya. Walaupun dia tidak akan pernah mencintai aku, setidaknya dia hargai aku sebagai manusia yang punya perasaan. Aku juga mau bahagia mak, bukan hanya dia yang mau bahagia hiks hiks hiks.."


Luapan emosi dan semua unek-unek yang selama ini ada dalam hati Hanna pun dia tumpahkan pada mak Yah.


Sungguh, mak Yah iba dengan nasib Hanna . Dengan kasih sayang mak Yah mengusap punggung Hanna yang masih terlihat bergetar dalam dekapan mak Yah. Isakan Hanna pun masih jelas terdengar di telinga mak Yah dan juga Albi yang mendengar penuturan Hanna dari lantai atas.


Albi yang tadinya mau keruang kerja nya di lantai bawah, tiba-tiba mendengar suara Hanna yang terdengar lantang dan Albi merasa tercubit hatinya dengan apa yang Hanna ucapkan.

__ADS_1


"Maafkan aku Han. Aku sudah buat kamu sedih. Padahal kamu hanya ingin bahagia seperti orang lain. Tapi, aku suamimu malah buatmu bersedih bahkan sakit hati." batin Albi melihat Hanna yang menangis karena dirinya .


Di saat Albi merasa bersalah di tempat yang jauh di sana ada dua sahabat yang sedang duduk di sebuah bangku taman.


" Lo mau berapa lama disini? Program pendidikan lo hanya dua tahunan . Apa lo mau langsung balik ke lndonesia?" tanya Sheril pada sosok sahabat nya yang tak lain adalah Rossa.


"Kalau tidak ada tawaran buat gue berkarier di sini pastinya gue bakal balik. Terus, lo kapan balik ke lndonesia?" tanya Rossa balik.


"Kayaknya pas liburan musim digin deh, lo balik kan ?"


"Kayaknya gue enggak balik Sher, ada tawaran pekerjaan buat masa liburan musim dingin. Kalau gue balik mana bisa gue manfaatin peluang ini demi karier gue. Sher, sejauh ini gue sudah berkorban waktu dan pikiran. Bahkan aku rela meninggalkan Albi sementara. Walaupun pastinya orang tuanya akan menari celah untuk memasukkan sosok lain diantara kami." ungkap Rossa dengan pikiran melayang saat seminggu yang lalu tiba-tiba ibu mertuanya menghubungi dirinya.


"Jangan salahkan Albi jika suatu saat dia akan melepaskan dirimu dan jangan pernah salahkan wanita yang akan datang menggantikan posisimu di hati Albi."


Begitulah kira-kira ucapan yang dia dengar dari ibu mertuanya saat pertama dan terakhir ibu mertuanya itu menghubungi dirinya.


"Emangnya lo nggak takut kalau seandainya Albi akan berpaling dari lo?" tanya Sheril dengan senyuman miring.


"Gue percaya sama Al, kita juga sudah buat perjanjian. Al begitu mencintai ku dari jaman kita sekolah. Buktinya dia nggak pernah tergoda sama cewek seksi manapun yang dengan suka rela mengangk*ng di depannya." ucap Rossa dengan penuh percaya diri.


"Ya ya ya..memanglah Al begitu bod*h dalam urusan cinta. Padahal otaknya encer dalam segala hal. Satu lagi kekurangannya yaitu dia nggak akan peka dengan orag yang mungkin bisa lebih membuat dirinya bahagia." ucap Sheril.


" Hemmm..dia sudah terlalu sibuk mikirin aku sana pekerjaan jadi, nggak akan ngaruh kalau mereka menggoda nya." ucap Rossa dengan terkekeh.

__ADS_1


Melihat kepedean yang tinggi sahabatnya itu membuat Sheril tersenyum jahat namun,saking pintarnya Sheril musuhnya tidak akan menyangka jika di antara mereka ada musuh dalam selimut.


Bersambung


__ADS_2