Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Meminta Bertanggung Jawab


__ADS_3

Benar saja setelah selesai cuci muka,Firman langsung keluar dari kamar hotel yang dia tempati.Dia ada di kamar satu lantai di bawah kamar Albi.


Tok tok tok.


Firman mengetuk pintu kamar Albi.Sementara Albi yang sedang mondar mandir menunggu Firman dan berpikir bagaimana menjelaskan apa yang terjadi semalam pada Firman.Lalu belum lagi dia memikirkan bagaimana caranya untuk bertanggung jawab atas apa yang akan dia perbuat untuk menebus kesalahannya pada gadis itu.


Mendengar suara pintu di ketuk,dengan cepat Albi membuka pintu kamarnya dan benar saja Firman yang masih terlihat mengantuk sudah ada di depan pintu kamar miliknya.


"Masuk."ucap Albi singkat.


"Ada apa sih Al,tumben banget lo telpon gue pagi-pagi buta.Biasanya kalau kita ke luar kota pastinya lo akan bangun paling pagi jam 9 pagi.Lalu ada apa ini sama kamar lo?"


Saat awal masuk ke dalam kamar Albi ,Firman terus mengoceh namun,saat melihat penampakan kamar yang terlihat tak biasa pun Firman penasaran.


Firman melangkah mendekat ke arah dimana pakaian seragam staf hotel yang saat ini mereka berada masih teronggok di atas lantai.


Melihat Firman mengangkat seragam hotel dari lantai,Albi menepuk jidatnya mengingat dia sudah lupa untuk mengamankan benda itu.


"Apa ini,apa yang terjadi sama lo?" tanya Firman menuntut penjelasan.


Albi yang tak mungkin mengelak lagi pun akhirnya dia menceritakan tentang apa yang terjadi semalam pada dirinya dan gadis yang ternyata adalah pegawai hotel tersebut.


"Astaga Albi,kenapa lo jadi gini sih,terus sekarang perempuan itu dimana ?" tanya Firman.


Namun, sebelum Albi menjawab pertanyaan Firman tiba-tiba pintu kamar mandi pun terbuka dan menampakkan sosok wanita yang berjalan tertatih di ambang pintu kamar mandi.


Melihat penampilan perempuan yang sudah di ambil kegadisannya oleh Albi,Firman tersenyum tipis mengingat kegila*n sahabatnya itu.Di dalam otaknya sudah ada sederet rencana untuk sahabatnya itu.


"Keluarlah,dia asisten saya,namanya Firman.Jangan takut." ucap Albi pada Hanna yang meremas dan merapatkan handuk kimononya.


"Duduk nona...?"


"Ha_Hanna.Nama saya Hanna." jawab Hanna dengan tergagap.


Firman melihat wajah Hanna tanpa make up dan mata yang terlihat sembab.Firman pastikan jika Hanna pasti habis menangis.


"Fir,carikan baju dan perlengkapan untuk dia pakai." ucap Albi dengan wajah yang menatap lurus ke arah luar hotel.

__ADS_1


"Oke,gue sekalian pesan sarapan untuk kalian."ucap Firman.


"Ti_tidak usah tuan,saya hanya perlu pakaian untuk saya cepat pulang.Pasti ayah saya menunggu saya.Kasihan kalau nggak ada saya tidak ada yang mengurus beliau." ucap Hanna.


Albi dan juga Firman saling pandang.Albi dengan cepat membuka kopernya.Dia mengambil kaos miliknya.Lalu dia melangkah mendekat ke arah Hanna namun,siapa sangka reaksi Hanna tiba-tiba beringsut menjauh dari Albi.


"So_sorry,saya cuma mau kasih kaos ini.Apa bisa kamu pakai ini ?" tanya Albi.


Tanpa memandang wajah Albi,Hanna mengangguk dan dengan perlahan dia mengambil kaos yang Albi berikan.Lalu Hanna mengambil celana yang semalam dia pakai lalu dengan cepat dia melangkah menuju kamar mandi tanpa mempedulikan lagi sakit yang di rasakan di bagian intinya.


"Apa yang akan lo perbuat sekarang?" tanya Firman melihat sekilas ke arah kamar mandi.


"Entahlah," jawab Albi yang terlihat bingung dengan apa yang akan dia perbuat.


Tak lama Hanna keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju Albi dan Firman yang duduk di sofa dengan kepala menunduk.


"Duduklah,kita perlu bicara," ucap Albi dengan nada tegas.


Albi melangkah ke arah tasnya yang tergeletak di atas nakas.Lalu mengambil sebuah cek dan mengisinya dengan tanda tangannya.Dia kembali lagi ke tempat dimana tadi dia duduk.


Albi meletakkan sebuah cek kosong diatas meja.Firman yang melihatnya melotot melihat apa yang sahabatnya lakukan.


Tangan Albi menggantung keatas pertanda untuk Firman tak berkomentar.


Hanna melihat apa yang di lakukan Albi sontak mengalihkan pandangannya menatap Albi dengan tajam.


"Isi berapapun jumlah yang kamu inginkan."ucap Albi dengan datar.


Hanna mendengar perkataan Albi pun mengeratkan giginya.Dia merasa geram dengan tindakan Albi saat ini.Hanna pun mengambil kertas yang Albi letakkan di atas meja.Albi melihat Hanna yang mengambil cek itupun tersenyum miring.


Dia berpikir bahwa wanita sama saja.Uang bisa membungkam dan menyelesaikan masalahnya saat ini.


Breettt..


Tanpa Albi duga,Hanna merobek cek kosong pemberian Albi di depan Albi langsung dan menghamburkan nya di depan Albi.


"Apa anda anggap saya pela*ur yang dengan senang hati akan menulis sejumlah uang untuk sebuah kesucian?!"

__ADS_1


Hanna memandang Albi dengan nyalang.


"Lalu apa yang kamu mau selain uang?" tanya Albi dengan berusaha bersikap sesantai mungkin.


Hanna menghela nafas dalam.Dia menelan silvanya dengan susah payah.Rasanya berbicarapun dia tidak bisa.Namun,apa yang terjadi pada dirinya akan berpengaruh terhadap masa depannya nanti.


"Sa_saya ingin anda bertanggungjawab atas apa yang anda lakukan pada saya tuan." ucap Hanna sedikit terbata.


"Apa yang kamu maksud dengan pertanggungjawaban itu kalau bukan untuk uang?" tanya Albi dengan sinis.


"Saya tidak butuh uang untuk sebuah keperawan*n saya.Apa anda tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya nanti.Kalau saya hamil...


"Nggak akan !" potong Albi membuat Hanna dan juga Firman terkejut dan menatap wajah Albi.


"Maksud lo gimana Al,maksud lo nggak akan itu yang gimana?" tanya Firman merasa heran dengan ucapan Albi.


Albi begitu percaya jika perbuatan yang dia lakukan semalam tak akan ada benih yang tumbuh di rahim Hanna.


"Nggak akan ,karena benihku nggak akan menghasilkannya." ucap Albi.


"Lo nggak bisa ngomong gitu dong Al,kalau kejadiannya nggak sesuai dengan omongan lo gimana?"tanya Firman.


"Saya pun berdoa semoga nggak ada benih anda yang tumbuh di rahim saya tuan.Karena saya akan membuat ayah saya bertambah parah penyakitnya.Sudahlah miskin, harta yang saya punya hanya kehormatan saya tapi,sekarang saya sudah kehilangan hal itu.Lalu apa yang akan saya banggakan,kalaupun saya menikah dengan orang lain dan mengetahui keadaan saya,pastinya dia akan kecewa karena merasa telah di bohongi." ucap Hanna dengan panjang lebar.


"Kamu bisa jujur dengan calon suami kamu kalau kamu mendapat musibah,selesai." ucap Albi tak berperasaan.


Firman memupuk jidatnya mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Hehh..oncom,lo kata ini luar negeri yang dengan mudah menerima orang yang sudah tidak suci.Disini masih mengikuti faham ketimuran.Jadi,jangan pernah lo samain dengan kehidupan lo sebelumnya."ucap Firman menceramahi sahabatnya itu.


"Lalu ,apa mau mu ?" tanya Albi


"Nikahi saya."jawab Hanna singkat.


Jawaban Hanna membuat Albi tersentak dan memandang wajah Hanna dan beralih ke arah Firman.


Hahaha

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2