
Sampai di kampus Hanna terlihat lebih banyak diam.Rasanya hari ini dia terlalu banyak berpikir.
"Kamu kenapa Han?" tanya Ello yang duduk di depan Hanna.
Hanna menatap Ello sekilas dan memijit pangkal hidungnya juga kepalanya terasa berdenyut.
"Aku nggak apa-apa,cuma sedikit pusing saja." jawab Hanna dengan senyum di paksa.
"Kenapa ?" tanya Rana saat dia baru saja datang dan duduk di samping Hanna.
"Katanya pusing sih,tapi..nggak tahu benar apa nggak nya gue juga nggak tahu." ucap Ello santai.
Hanna melirik kearah Ello dengan pandangan mata sinis.
"Kenapa ngeliat gue gitu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang suami lo lakuin sampai-sampai lo murung gini?" tanya Ello dengan pandangan mata yang intens.
Hanna terkejut dengan pertanyaan Ello. Bahkan Ello saat ini sudah tahu kalau dia sudah menikah.
"Lo tahu gue sudah nikah?" tanya Hanna dan melirik ke arah sahabat nya.
Rana dengan wajah khawatir dan juga gerak gerik nya yang terlihat gugup pertanda jika sahabatnya itu sudah mengatakannya."Raa...apa ini..
"Jangan salahkan Rana untuk masalah ini Han,gue yang maksa dia buat jujur.Memang Rana mengiyakan kalau kamu sudah menikah. Tapi, dia nggak pernah bilang lebih dari itu." potong Ello menatap wajah sendu Hanna.
"Sorry Han, gue terpaksa jujur.Karena gue juga nggak mau Ello berharap banyak sama lo." ucap Rana menggenggam tangan Hanna erat.
"Berharap, maksudnya? Sebenarnya kalian ada rahasia apa yang gue nggak tahu. Ran,gue sudah pernah bilang tolong rahasiakan pernikahan gue.Tapi, lo sudah bocorin sama Ello, terus lo bilang dengan alasan biar Ello nggak berharap lebih dari gue maksudnya apa? gue benar-benar nggak paham!"
"Memang lo benar-benar nggak peka jadi orang Han, maksud nya Ello suka sama lo." jawaban Rana sontak membuat Hanna melongo sementara Ello saat ini menunduk dalam.
"Apa benar yang di bilang Rana El? Sejak kapan?" pertanyaan Hanna membuat Ello mendongakkan kepalanya dan tersenyum getir mendengar pertanyaan itu.Mungkin jika Ello belum tahu status menikah Hanna dia merasa senang dan excited mengatakan kapan dan dengan segala alasannya.Tapi, saat ini lain keadaannya.Ello tahu jika Hanna sudah menjadi seorang istri.
"Itu nggak penting Han,cukup lo tahu gue ada rasa sama lo tapi, hati gue patah saat Rana mengiyakan status lo.Gue kalah sebelum berperang." ungkap Ello dengan senyum miris.
__ADS_1
.
.
Di kantor Albi merasa tak tenang.Apalagi mengingat sikap aneh istrinya itu tadi pagi yang terlihat seperti marah padanya.
"Lo kenapa mondar mandir kayak setrikaan sih Al,pusing gue lihatnya!" tegur Firman yang sedari tadi lihat kelakuan sahabatnya yang selalu mondar mandir tak karuan.
"Apaan sih,gue cuma kepikiran sama Hanna."
"Hanna kenapa,sakit?" tanya Firman yang mendadak ikut khawatir.
"Kenapa Lo jadi kepo gitu?' tanya Albi heran.
"Serius Al gue kalau soal Hanna nggak main-main.Dia sudah kayak adek gue sendiri.Kalau terjadi apa-apa sama dia gue juga sedih." ungkap Firman.
"Gue juga nggak tahu kenapa dia tadi pagi kelihatan marah sama gue. Perasaan gue nggak ngelakuin apa-apa kecuali nina ninu sama dia." ujar Albi dengan bahasa absurd nya.
"Ya iyalah,mana bisa lo anggurin ladang subur gitu." canda Firman dengan terkekeh geli.
"Tapi, tadi pagi dia kelihatan marah sama gue.Apa gue susul dia ke kampus yaa?"
"Lo yakin, yang ada nanti ada Hot news kalau lo buat keributan di kampus dia." ujar Firman.
"Itu tugas lo,jangan sampai berita apapun masuk ke akun gosip atau lainnya.Gue ke sana sekarang.Lo sterilkan tempat." ujar Albi dengan entengnya.
"Astaga,enak banget dia kalau ngomong.Emang gampang apa bikin apa yang dia mau.Kalau gue Jin sakti bisa kabulkan banyak permintaan baru dia songong begitu.Untung sahabat, kalau nggak males gue." Firman terus saja menggerutu dengan segala perintah Albi yang kadang nggak masuk akal.
Dari pada pusing mikirin Albi dan Hanna, Firman pun ke pantry untuk membuat kopi agar otaknya nggak sepaneng karena kelakuan bosnya sekaligus sahabatnya itu.
"Loh bang Firman..." sapa seseorang yang baru saja masuk. Ke pantry yang sama dengan Firman.
"Eh..Fiza,kamu mau ngapain? Mau kopi ,biar abang buatin sekalian." tawar Firman pada adik angkat sang boss.
__ADS_1
"Aku mau buat teh sih bang, biar aku buat sendiri." ujar Fiza.
"Ya sudah ayok kita bareng-bareng buat nya."ujar Firman.
Setelah selesai membuat minuman masing-masing,mereka memutuskan untuk duduk di pantry sambil cerita-cerita.Kebetulan tepat di jam makan siang mereka.
"Abang kenapa kelihatan kusut gitu ?" tanya Fiza menatap wajah Firman intens.
Deg
Firman yang spontan melihat ke arah Fiza pun membuat pandangan keduanya bertemu.Perasaan yang sama-sama terasa aneh mereka rasakan.
Tiba-tiba keduanya sama-sama memutuskan untuk mengakhiri tatapan mereka dan membuang tatapan mereka ke sembarang arah.
"Abang belum jawab pertanyaan Fiza,apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa abang kelihatan kusut banget gitu?" tanya Fiza lagi bermaksud untuk mencair kan suasana.
"Tahulah, pusing Abang mikirin dia.Dia kan selalu bossy,apalagi kalau menyangkut tentang masalah istri-istrinya upsss!'
Firman menutup mulutnya karena keceplosan.
"Hahaha..tenang saja bang, Fiza sudah tahu soal yang kedua kak Al kok.." ungkap Fiza dengan tawa kala melihat tingkah Firman yang spontan menutup mulutnya karena sempat keceplosan.
"Syukurlah, tapi..aku juga sudah duga kalau Al pastinya sudah cerita sama kamu. Kalian kan bestie." ucap Firman mengingat hubungan Albi dengan Fiza yang terlalu erat.
"Aku sebenarnya kasihan sama Hanna bang, dia di posisi seperti ini ,aku takut nantinya dia di cap sebagai perempuan nggak bener."ucap Fiza dengan wajah sendu.
Memang sebenarnya Fiza begitu suka dengan sifat Hanna yang dewasa dari umurnya itu, apalagi mengingat Albi yang notabene nya seorang yang susah-susah gampang.
"Sepupu Lo Eman cocok dengan predikat perempuan nggak bener,kalau dia benar..nggak mungkin dia nginep di rumah Albi yang notabene nya rumah itu milik Albi dan Rossa."
Ucapan panjang lebar dari seseorang dan tepatnya dari seorang Cheryl yang juga baru saja masuk ke pantry dan mendengar ucapan Fiza barusan pun akhirnya dia ikut bersuara.
"Kalau lo nggak tahu apa-apa jangan sok tahu deh Lo , cukup diam..kerja yang benar dan jangan pernah menjelek-jelekkan adik sepupu gue.Kalau sampai Lo berbuat nekad gue juga bisa nekad." ancam Firman.
__ADS_1
Mendengar ancaman Firman, Cheryl hanya tersenyum miring lalu pergi begitu saja meninggalkan pantry.
Bersambung