
"Lo mau kemana?" tanya Albi saat melihat Firman mengambil kunci mobil miliknya.
"Ah..iya gue lupa, gue mau jemput Hanna di Rumah Sakit.Katanya dia sudah boleh pulang." ucap Firman santai.
"Hanna di Rumah Sakit dan lo nggak bilang sama gue,Man.. sebenarnya lo itu sahabat gue apa bukan sih..lo tahu kalau Hanna bini gue.Kenapa lo nggak ngasih tahu gue.Biar gue yang jemput dia, sekarang kasih tahu gue dia di Rumah Sakit mana?"
Firman segera mencekal pergelangan tangan Albi dan bahkan mendorong tubuh kekar Albi sampai dia pun terdorong dan jatuh duduk di sofa.
"Nggak perlu, Hanna nggak butuh lo saat ini.Hanna cuma butuh ketenangan."cegah Firman.
Albi melotot mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Lo waras bisa ngomong gitu sama gue, dia bini gue.Dia milik gue dan gue berhak atas diri nya."ucap Albi dengan suara yang terdengar lantang.
"Gue nggak beg* kayak otak lo Al, Lo terkenal pinter, bahkan jenius.Tapi, mikirin perasaan orang nggak bisa."ejek Firman.
Albi mengepalkan kedua tangannya mendengar ejekan Firman barusan.
"Gue sudah bilang tadi, Hanna saat ini nggak butuh lo dan gue harap lo ngerti dan paham atas perasaan dan kekecewaan Hanna saat ini sama lo.Kalau lo sampai nekad, untuk tetap menemui Hanna saat ini yang ada dia semakin menjauh." ucap Firman lagi.
"Tapi...
"Susah ya ngomong sama lo,dia lagi kecewa sama lo,kenapa..karena lo suaminya tapi, dia seperti orang asing dan hanya sebatas pengusir rasa jenuh lo atau bahkan hanya pelampiasan nafsu Lo saja."
"Gue nggak kayak gitu Man, gue cita dan juga sayang sama Hanna !!" teriak
"Bullshit !!"
Firman pun pergi dari rumah itu tanpa melihat ke arah Albi yang masih meneriaki nama nya.
Firman melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit.Di tak mempedulikan Albi . Dalam otaknya hanya Hanna dan Hanna.Dia tak mau Hanna lebih terluka dengan semua yang terjadi pada sahabatnya.Hanna gadis yang baik dan benar -benar tulus mencintai Albi namun, hidup Albi yang sudah terbiasa dengan adanya Rossa dalam hidupnya tak mudah bagi Albi menghapus nama wanita itu.Seburuk apapun yang do lakukan Rossa hanya dia yang bisa membuat hati Albi serasa tenang.
Firman menghentikan mobilnya tepat di depan lobby Rumah Sakit dan melihat tiga perempuan yang menunggu dirinya di depan Lobby.
Pintu mobil terbuka dan Hanna di bantu masuk ke kursi tengah bersama Rana.Sedangkan Fiza duduk di samping Firman di bagian depan.
__ADS_1
"Sudah siap, kita pulang yaa .." ucap Firman.
"Aku nggak mau pulang ke Apartemen mas Albi bang.." ucap Hanna.
"Kita akan ke apartemen Abang, gimana?" tanya Firman meminta pendapat semuanya.
"Tapi, kalau mas Al tahu gimana,aku belum sanggup untuk bertemu dia dulu."
"Kamu jangan khawatir,kita ke apartemen milik Abang yang dia nggak tahu." ucap Firman.
"Emang ada, bukannya kalian tahu satu sama lain?' tanya Hanna tak percaya .
"Emangnya aku sepolos kamu Han, sudahlah pokoknya kamu akan aman disana.Abang jamin." ucap Firman meyakinkan.
"Baiklah." jawab Hanna pasrah.
Perjalanan lumayan memakan waktu lumayan panjang.Kebetulan memang apartemen milik Firman yang akan mereka datangi lumayan jauh dari pusat kota.
Sampai di parkiran, mobil itu berhenti dan semuanya turun dan mengikuti langkah Firman.
Di lantai 10 lift itu berhenti dan Firman diikuti tiga perempuan yang bersamanya menuju ke sebuah unit apartemen.
"Masuklah.." ucap Firman saat pintu apartemen tersebut terbuka.
Ketiganya pun masuk ke dalam dan mereka sedikit terkejut dengan penampilan isi apartemen tersebut.Di bilang nggak terlalu mewah namun, cukup nyaman untuk di tinggali. Perlengkapan nya pun lengkap.
"Disini ada dua kamar, kalian bisa gunakan.Aku bisa tidur di sofa ruang TV." ucap Firman.
"Baju kita gimana?" tanya Rana
"Besok pagi akan ada orang yang mengurus semuanya.Jangan khawatir.Sebentar lagi ada kurir yang akan mengantar makanan untuk kita." ucap Firman.
"Bang, aku ingin bicara sama Abang cuma berdua bisa?" tanya Hanna melirik Rana dan juga Fiza.
"Bisa, kita ke balkon yaa.."ucap Firman melangkah lebih dulu di susul Hanna di belakangnya.
__ADS_1
...****************...
"Ada apa, ada yang penting kah sampai-sampai kamu minta kita hanya ngobrol berdua?"tanya Firman setelah mereka duduk di bangku di balkon itu.
"Aku minta tolong sama Abang, bawa bibi Liana ke sini bisa?" tanya Hanna dengan ragu.
Firman mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Hanna.
"Kenapa, apa ada masalah?" tanya Firman.
"Sebelum ini memang bibi sudah bilang ingin kabur dari suaminya tapi, dia masih bertahan disana mengingat rumah yang di tempat mereka tinggal masih milik ayah." ucap Hanna.
"Dia mengalami kekerasan." sambung Hanna dengan mata yang berkaca-kaca.
Firman berdiri dari duduknya dan berlutut di depan Hanna.
"Apapun keluhan kamu, bicara sama abang.Kamu sudah abang anggap jadi adik abang."ucap Firman dengan menghapus air mata yang mulai keluar dari kedua mata Hanna.
"Kenapa hidup aku begini bang, aku nggak sanggup.Kalau pun memang sudah nasib aku menjadi istri rahasia aku masih terima tapi, kenapa dia begitu banyak menyimpan rahasia yang Hanna tidak tahu.Hanna bahkan tidak mengenal sosok suami Hanna sebenarnya..hiks hiks.."
Firman pun memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas dengan kasar.
"Albi adalah seorang yang sebenarnya tempramental.Dia akan merasa puas saat me*ghajar orang bahkan sampai hilang nyawa.Semenjak Rossa ada,dia bisa mengurangi bahkan bisa menghilangkan kebiasaan dia adu jotos di ring bebas itu." ungkap Firman.
Firman mulai mengalirkan cerita tentang sosok Albi yang Hanna tak tahu.Hanna mendengar penuturan Firman begitu terkejut.Apa suaminya tergolong saiko?.
"Kenapa dia seperti itu? Pasti ada sebabnya kan?" tanya Hanna.
"Itu karena didikan semasa kecilnya dari kakeknya. Dia dituntut dewasa dan di tuntut untuk menjadi pelindung semua keluarganya.Dia sebelum nya adalah anak yang begitu sweet dan juga penurut.Namun, lama-lama dia menjadi pribadi pembangkang." ungkap Firman.
"Saat SMA dia selalu ikut tawuran dan tak segan melukai seseorang sampai tak berdaya. Suatu hari ada anak dari sekolah lain yang menantang dirinya untuk adu kekuatan di arena tinju.Dia setuju dan juga dia seolah mendapatkan pelampiasan dari masalah keluarga nya. Dia selalu menang dan lawannya selalu berakhir di Rumah Sakit." ungkap Firman.
Hanna yang mendengarnya pun merasa ngeri.Karena baru melihat sosok yang terbilang sadis dalam jiwa sang suami.
Bersambung
__ADS_1