Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Neng Hanna


__ADS_3

"Kamu,ikut saya !" ucap Albi menunjuk Hanna dengan tatapan dinginnya.


Semuanya yang ada di meja yang sama dengan Hanna pun saling pandang.Tak beda jauh dengan para karyawan yang masih banyak yang sedang menikmati makan siang mereka pun ikut melihat sosok bos mereka yang sedang bicara pada salah satu anak magang.


"Kenapa tuh anak magang ?"


"Buat masalah saja dia,nggak tahu apa kalau pak Al orangnya tegas."


"Mungkin karena kejadian tadi sama anak divisi marketing."


"Buat keributan sih,biar tahu rasa itu anak magang,sok ngartis banget.."


Banyak lagi orang-orang yang dengan terang-terangan mengolok olok Hanna dan juga memberikan kata-kata nyinyir mereka.


Tak lupa dengan umpatan yang terdengar sangat keterlaluan di dengarnya.


Hanna masih terdiam mendengar ucapan-ucapan dari orang-orang di sana.Tak sadar jika tangannya saat ini mengepal menahan emosinya.


"Han,kita temenin lo ketemu bos ya? Kita takut lo kenapa-kenapa." ucap Veni.


"Terimakasih kak,nggak perlu.Hanna bisa handle sendiri." jawab Hanna dengan sikap santainya.


"Han,kita khawatir sama kamu.Kita pokoknya temenin kamu.Kalau perlu kita yang ngomong sama bos supaya kamu nggak kena sanksi." ucap Ilham


"Sudahlah,kalian nggak usah khawatir,Hanna akan baik-baik saja.Percaya sama gue." ucap Rana


Ucapan Rana sontak membuat mereka melihat Rana dengan sikap tak percaya dengan respon Rana yang terlihat santai saat sahabatnya sendiri kena tegur sang bos besar.


"Benar kata Rana,jangan khawatir soal aku.Sekarang aku pergi,kalian cemas,semua akan baik-baik saja." ucap Hanna menenangkan para sahabatnya di divisi akuntan.


Hanna beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ruang VIP tempat di mana Albi dan Firman sudah menunggunya.


"Duduk."ucap Albi singkat memerintahkan Hanna untuk duduk di hadapannya saat dia baru saja datang sampai di meja tempat Albi dan Firman berada.


Hanna pun menuruti perintah suaminya yang sekaligus bos tempat di mana dia magang.

__ADS_1


Tak lama seorang pelayan membawa beberapa menu makanan yang sebelumnya Firman pesan untuk makan siang mereka.


"Makanlah,kamu mulai besok makan di sini bersama kami." ucap Albi.


Hanna melotot mendengar perkataan suaminya itu.


"Makan siang bersama mereka berdua,yang ada di kantor ini akan ada huru hara dengan menyebut dirinya "Mahasiswa magang seorang pelakor" ucap Hanna dalam hati.


"Kenapa melotot gitu,ada yang salah dengan kata-kata ku tadi?" tanya Albi dengan polosnya.


"Mas pikir setelah para karyawan tahu kalau aku makan siang bareng kalian nggak akan timbul masalah? tadi saja,mas manggil aku kesini mereka langsung bisik-bisik ngomongin aku.Apalagi tahu kalau aku tiap makan siang bareng kalian yang ada aku akan di cap sebagai perempuan gatel." ungkap Hanna dengan menggebu-gebu.


"Hahhh.." terdengar helaan nafas dari Firman melihat tingkah suami istri di depannya itu.


"Bisa nggak sih,kalau kalian ketemu itu nggak usah berdebat mulu.Berantem melulu kerjaan kalian bikin aku pusing tahu nggak,heran deh.. semestinya kalian tuh ngapain gitu.. mesra gitu kayak pasangan lain." ujar Firman.


"Abang Fir'aun nggak inget apa kalau aku siapa,aku hanya wanita kedua yang dia nikahi atas nama tanggung jawab,bukan cinta.Kalau suruh mesra-mesraan dia aja suruh mesra-mesraan sama istri tercintanya." cerocos Hanna dengan melirik ke arah Albi dengan sinis.


Perkataan Hanna sontak membuat Albi merasa tercubit hatinya.Dia mempunyai dua istri.Istri pertamanya yang begitu dia cintai lebih memilih untuk mengejar cita-citanya dan sedangkan sekarang yang ada di hadapannya,di sampingnya istri keduanya yang dia nikahi dengan alasan tanggung jawab tak ada rasa cinta dari awal pernikahan.


"Apa salahnya kalian saling buka hati sih,kalian sudah sah jadi suami istri.Nggak baik juga sudah halal tapi,tidak melakukan tugasnya sebagai suami atau istri yang seharusnya.Kalian kalau gini-gini saja itu jatuhnya dosa lho." ucap Firman membuat pasangan suami istri itu pun tertegun dengan segala yang di ungkapkan Firman memang benar adanya.


"Aku belum bisa menjadi suami yang semestinya.Tapi, aku bisa memberikan tanggung jawab ku yang lain kan." ujar Albi.


"Lo lebih dewasa dari Hanna pastinya tahu lah,apalagi Lo adalah imam disini." ujar Firman.


Albi tak dapat bicara apapun .Di pikir dengan baik pun memang benar adanya tanggung jawab an hak antara suami dan istri yang harus mereka penuhi.


...****************...


"Hanna,lo nggak apa-apa kan ?" tanya Jana saat Hanna baru saja duduk di meja kerjanya.


"It's Okey kak.Jangan khawatir." jawab Hanna santai dan menerbitkan senyuman manisnya.


Satu divisi yang sama dengan Hanna pun bisa bernafas lega.Karena mereka memang khawatir dengan Hanna dan takut berimbas dengan maslaah magangnya.

__ADS_1


Selanjutnya mereka pun meneruskan tugasnya masing-masing setelah tahu Hanna baik-baik saja.


Sore hari pak Darto sudah standby di lobby kantor menunggu Hanna keluar dari kantornya.


Darto melihat nyonya muda nya keluar dari kantor pun langsung membukakan pintu mobil untuk Hanna.


Hanna dan yang lain pun saling pandang melihat tingkah pak Darto yang sepertinya sangat mengistimewakan Hanna.


"Selamat sore non.." ucap Darto dengan ramah.


"Sore pak,semuanya aku duluan yaa..byee..!!"


Tanpa pikir panjang Hanna langsung masuk ke dalam mobil guna menghindari pertanyaan-pertanyaan para teman nya yang terlihat syok saat melihat Hanna yang di jemput dengan mobil mewah.


Walaupun pastinya nantinya di kemudian hari mereka akan menanyakan apa yang mereka lihat saat ini.


"Langsung pulang ya pak.." ucap Hanna saat mobil yang dia tumpangi meninggalkan gedung tinggi GA Group.


"Baik non." ucap Darto.


"Bisa nggak pak Darto jangan panggil saya non,mendingan panggil saya Hanna saja.Kita sama saja pak,nggak ada bedanya."ujar Hanna saat kurang nyaman dengan panggilan non yang terkesan ada jarak diantara mereka.


"Jangan gitu non,nanti saya di kata kurang ajar sama tuan Albi." ucap Darto yang tak enak hati pada majikannya itu.


"Setidaknya bapak manggil saya seperti yang biasa bapak ucapkan misal adik perempuan atau anak bapak mungkin.." ucap Hanna


"Saya panggil neng,boleh?" tanya Darto.


"Boleh pak,lebih baik neng dari pada non-non an gitu pak."jawab Hanna.


Darto pun akhirnya memilih untuk memanggil Hanna dengan sebutan neng Hanna.


Malam hari Hanna belum melihat Albi yang pulang kerumah.


"Kemana mas Al,apa dia belum pulang yaa..?" gumamnya saat melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


Rasa khawatir yang tiba-tiba muncul di hati Hanna karena Albi belum terlihat kembali ke rumah.


Bersambung


__ADS_2