Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Albi selama dua hari ada di kota Bandung. Dia kembali ke Jakarta karena memang harus segera kembali bekerja.


"Al, ini berkas dari tuan Wisnu kamu bisa periksa lagi." ucap Firman menyerahkan sebuah dokumen pada Albi.


Albi pun langsung memeriksa dokumen tersebut.


"Semuanya oke, nggak perlu di revisi lagi. Untuk proyek yang ada di Sulawesi tolong kamu follow up ke pihak om Wisnu. Aku nggak mau setengah-setengah dalam bekerja Fir." ucap Albi


"Baiklah, tapi Al..aku dengar tuan Wisnu ikut tender yang ada di Malaysia." ucap Firman.


"Biarkan saja, kita siapkan saja rancangan hasil kerja team kita sendiri." ujar Albi.


"Oke." jawab Firman singkat.


"Gimana kabar Hanna, kapan dia ke Jakarta?" tanya Firman


"Kemungkinan dua hari lagi dia akan segera ke Jakarta." jawab Albi.


"Wahhh..enak lo, nggak kesepian lagi dong.." goda Firman.


" Ya begitulah, tapi..aku masih kepikiran soal keinginan Hanna. Dia ingin sekali mempunyai anak.Sementara di sisi lain gue sudah janji sama Rossa buat lepas saat dia kembali." ucap Albi menjambak rambutnya yang merasa frustasi.


"Gue boleh ngasih saran sama lo?" tanya Firman.


"Tinggal ngomong saja kenapa mesti minta ijin ." jawab Albi.


"Oke, gini.Kedua istri lo punya hak dan kewajiban yang sama. Kalau lo mau bahagiakan Rossa, lo juga harus bahagiakan Hanna. Jangan berat sebelah.Apalagi Hanna, walaupun baru beberapa bulan jadi bini lo, dia belum pernah kecewakan lo kan? Gue pengen lo nggak nolak keinginan Hanna buat punya anak. Sekarang atau nanti sama saja kan buat lepas. Kalaupun Hanna hamil ,ada lo suaminya.Lo bukan lagi main gil* sama lont*. Dia istri sah lo,kalau lo hanya punya maksud buat menahan Hanna karena urusan beo lo,sorry gue akan dukung Hanna buat pisah sama lo." ucap Firman panjang kali lebar.


Ucapan Firman tentu saja membuat Albi syok. Namun, memang Firman sudah menganggap Hanna sebagai adiknya sendiri. Dia sebagai kakak pastinya tidak mau melihat adiknya selalu di jadikan pelampiasan nafsu suaminya sendiri.


"Thanks, akan gue pertimbangkan." ucap Albi.


Firman hanya bisa mendengus melihat tanggapan sahabatnya itu.


Firman pun berharap jika Albi bukan hanya mengumbar kata cinta pada Hanna namun nyatanya Albi masih terjebak dalam pengaturan Rossa.


...----------------...


Dua hari berlalu dan kini Hanna sudah kembali ke Jakarta.


Albi sangat senang saat Hanna memberikan kabar jika dirinya sudah ada di rumah mereka.


"Nyengir mulu, awas gigi kering.." sindir Firman.


"Syirik Lo !" timpal Albi menatap tajam sang sahabat.


"Dasar bucin !"

__ADS_1


"Scedule gue habis makan siang kosong nggak?" tanya Albi.


"Mau kemana lo?"


"Mau ke kampus, Hanna hari ini langsung registrasi buat lanjut S2 nya." terang Albi.


" Kosong sih, tapi...jam tiga harus meeting sama tuan Wisnu." ucap Firman.


"Okelah, kalau gitu gue jemput Hanna dulu, lo handle dulu kerjaan gue." ucap Albi .


"Beres !" jawab Firman dengan


 mengacungkan jempol nya.


......................


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga urusanku." gumam Hanna.


Hanna melangkah melalui koridor kampusnya. Dia asyik mengecek ponselnya sampai-sampai dia tidak melihat sekelilingnya.


Dari arah berlawanan, terlihat pria yang berjalan buru-buru dan sedikit berlari karena dia buru-buru dengan melihat jam tangannya.


"Shittt.. gara-gara kesiangan jadinya buru-buru gini." gerutunya mengumpat dirinya sendiri.


 Saat di persimpangan koridor pria itu tanpa melihat Hanna yang masih fokus pada ponselnya dengan melangkah pelan pun tak sengaja mereka saling tabrakan.


Hanna yang mempunyai bobot tubuh yang mungil pun sedikit terpental dan karena tak seimbang pijakan kakinya dia jatuh terduduk dan ponselnya jatuh kelantai.


"Astaghfirullahal'adzim ponselku..!!" pekik Hanna melihat nasib ponselnya yang terlihat retak di hadapannya.


Hanna mendongakkan kepalanya menatap wajah orang yang tadi bertabrakan dengannya.


"Heii..kamu kenapa nabrak saya, lihat ponsel saya jadi rusak gini. Kalau gini gimana saya bisa hubungi keluarga saya?" cerocos Hanna dan tangannya menuding orang itu yang masih diam tak bersuara.


Nafas Hanna turun naik karena merasa emosi dengan kejadian yang baru saja dia alami.


"Sudah ngomelnya, sebutin nomer rekening lo,gue transfer buat beli IPHONE baru." ucap pria itu dengan entengnya.


"Astaghfirullahal'adzim orang ini benar-benar buat emosi jiwa saja." batin Hanna.


"Hehh..saya nggak butuh uang anda.Permisi !!" ucap Hanna dengan cepat pergi meninggalkan pria yang memandangnya dengan aneh.


"Dasar cewek aneh, di kasih duit dia nolak.Gengsi tinggi padahal penampilan kampungan gitu." gerutu pria itu.


Setelah Hanna tak terlihat lagi di matanya, pria itupun langsung kembali melanjutkan langkahnya.


...----------------...

__ADS_1


Hanna yang keluar dari lobby kampus pun hendak memesan ojol namun, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


"Hanna !!" seru seseorang yang tak jauh berdiri dari posisi Hanna berada.


"Mas Al.." gumam Hanna.


Albi melangkah menuju di mana sang istri berada. Dia pun tanpa ragu mendaratkan kecupan tepat di bibir manis Hanna.


Hanna sempat terpaku dengan pengakuan suaminya yang di luar prediksi nya.


Hanna berpikir jika mereka sedang ada di depan umum, apa suaminya tidak takut jika ada seseorang yang mengenali dirinya dan mengadu pada istri pertamanya atau keluarganya.


"Kenapa? mau pulang tidak?"tanya Albi yang melihat Hanna masih diam di tempat dia berdiri padahal Albi sudah berjalan menuju mobilnya berada.


Hanna tersadar dan tersenyum kikuk karena pastinya banyak mata yang melihat aksi suaminya tadi.


"Hanna, ayo !" seru Albi.


"l_iya !" jawab Hanna dengan sedikit terbata.


Hanna pun lari kecil untuk menghampiri sang suami.


"Jangan lari-lari nanti jatuh !!" terdengarlah peringatan dari suaminya yang membuat Hanna reflek berjalan normal namun, wajahnya sudah memerah karena malu dengan pandangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Hanna langsung masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Albi.


"Kita mau makan dulu ,baru mas antar kamu ke rumah yaa?" tanya Albi dengan memasang seat beltnya.


" Oke." jawab Hanna singkat membuat Albi spontan melihat ke arah Hanna.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Albi dengan wajah cemas.


"Aku baik kok mas, mungkin karena kecapean saja." ujar Hanna memberikan alasan.


"Baiklah, mas pikir kamu mau istirahat dulu dirumah. Besok baru ngurusin soal kampus. Tapi, malah langsung ke kampus."


"Biar sekalian capek mas, lagian aku nggak bisa tidur beberapa hari ini." ucap Hanna.


"Kenapa,ada masalah yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Albi memandang sekilas sang istri.


"Aku kepikiran bibi saja. Soalnya suaminya kadang kasar sama dia.Aku awalnya ngajak dia ke Jakarta tapi, dia nggak mau." jelas Hanna.


"Nanti aku suruh Firman buat selidiki suami bi Liana. Kamu jangan khawatir." ucap Albi mencoba untuk menenangkan pikiran sang istri.


Hanna sedikit merasa lega setelah mendapatkan solusi untuk masalah bibinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2