Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Perang Dingin


__ADS_3

Setelah Hanna naik ke atas Fiza merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan pada Hanna barusan.


"Bang, maaf." ucap Fiza dengan memandang Albi dengan pandangan sedih.


"Sudahlah, bukan salah kamu sepenuhnya. Aku juga nggak suka dengan sikap Hanna yang kasar belakangan ini. Apalagi tadi lihat sendiri dandanannya." ucap Albi mengingat kembali dandanan Hanna yang menor bahkan terkesan seperti badut.


"Lebih baik kamu minta maaf pada Hanna Al, kamu juga nggak seharusnya bersikap seperti itu Fiza. Berbicara kasar dengan Hanna sama saja kamu tidak sopan dengan majikan bibi mu ini Fiza." ucap mak Yah ikut menimpali percakapan keduanya.


Fiza adalah keponakan dari mak Yah yang sudah dianggap adik oleh Albi. Fiza di biayai sekolah sampai lulus kuliah oleh Albi.


Fiza adalah anak yatim dan dulu sangat perlu biaya dan Albi lah yang selama ini bertanggung jawab atas pendidikan Fiza sampai selesai kuliah. Maka dari itu Albi sangat dekat dengan Fiza seperti adik sendiri. Albi begitu memanjakan Fiza tapi,masih dalam tahap yang wajar.


Jadi,kalau ada yang tanya perlakuan orang tua Albi pada Hanna seperti pada anak gadisnya karena memang hubungan mereka dengan Fiza tetap saja beda tapi, mereka tetap menyayangi Fiza sebagai anak asuh dari Albi.


(Disini perlu di bedakan antara rumah Albi dan kedua orangtuanya)


Jika Albi tidak bisa pergi dari rumah orang tuanya setelah menikah dengan Rossa namun, setelah Rossa memutuskan untuk meneruskan pendidikan nya Albi memutuskan untuk tinggal di Apartment.


Setelah tahu Hanna di Jakarta dan memutuskan untuk Hanna tinggal di salah satu rumah miliknya Albi lebih sering pulang ke sana. Sementara mak Yah bekerja kembali di rumah Albi dan Hanna.


"Mak,sudahlah jangan di marahi Fizanya. Ini bukan sepenuhnya salah Fiza dan Fiza maafkan istri abang yang tadi sempat menamparmu." bela Albi.


"Jangan begitu Al,Fiza harus sadar dimana posisinya. Jangan buat bibi kecewa Za.." ucap mak Yah memperingatkan Fiza.


"Iya bi, maaf." ucap Fiza pada sang bibi dengan rasa bersalah karena sudah keterlaluan.


Albi melihat ke arah pergelangannya dan jam menunjukkan pukul delapan pagi. Harusnya Hanna berangkat ke kantor namun, sepertinya dia tidak akan bekerja hari ini.


Albi memutuskan untuk melihat keadaan Hanna. Dia dengan perlahan membuka pintu kamar Hanna dengan mengendap. Saat masuk kedalam kamar itu yang tersaji di depan mata Albi terlihat sangat kacau.

__ADS_1


Make up yang terlihat masih baru berhamburan ke lantai karena memang tadi Hanna sempat menyingkirkannya dengan kasar dari meja riasnya.


Albi memungut satu per satu perlengkapan make up itu dan di letakannya kembali di atas meja rias. Lalu dia melihat ke arah tempat tidur dan terlihat Hanna terbaring di sana.


Albi menghela nafas dalam dan melangkah mendekati Hanna yang berbaring dengan posisi membelakangi dirinya.


Albi memutar sampai posisinya menatap wajah Hanna yang terlihat sembab. Albi tahu jika Hanna pastinya tadi menangis.


Albi mendudukkan dirinya dipinggir ranjang dan perlahan tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut panjang yang menutupi pipi sang istri.


"Maaf ,kamu pasti sangat terluka dengan apa yang aku katakan. Aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu. Aku cuma tak ingin orang lain menertawakan kamu dengan tindakan konyol kamu. Berdandan begitu norak yang ada kamu akan jadi olok-olokan orang yang lihat. Aku harap kamu bisa jadi diri sendiri. Aku lebih suka kamu apa adanya." ucap Albi dengan lirih


Entah dorongan dari mana Albi tiba-tiba mengecup kepala sang istri. Namun, Albi tersadar dengan tindakannya.


"Astaghfirullah apa yang sebenarnya terjadi sampai aku berani-beraninya berbuat sejauh ini. Jangan sampai Hanna menganggap aku sebagai orang yang tak tahu diri." gumam Albi menjauhkan diri dari Hanna dan Albi pun akhirnya memilih untuk pergi dari kamar Hanna.


Dia tak ingin ke pergok oleh Hanna. Kalau sampai Hanna tahu yang ada Hanna akan lebih marah padanya.


Jam dua belas siang Hanna terbangun dari tidurnya karena mendengar ponselnya yang berdering.


Dengan malas Hanna mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Rana." gumam Hanna


Dia pun langsung menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari Rana.


"Hall...


"Hannaaaaa..!!" teriak Rana dari seberang sana membuat Hanna terkejut dan reflek menjauhkan ponselnya dari telinganya.

__ADS_1


"Akhirnya lo angkat juga panggilan gue. Lo kemana saja Hanna,lo sakit? kenapa nggak masuk kerja.Tadi HRD bilang lo ijin nggak masuk karena sakit. Lo sudah ke dokter,sudah minum obat ,Han..Hanna. Lo dengar apa yang gue omongin barusan kan,jawab dong Han..jangan buat gue khawatir." cerocos Rana dengan sederet pertanyaan dan membuat Hanna mendengarkannya dengan jengah.


"Gimana mau jawab, pertanyaan lo kayak gerbong kereta.Panjaaaang,banget ." canda Hanna dengan terkekeh mengingat pasti ekspresi Rana dengan wajah cemberut.


"Sorry,gue khawatir sama Lo Han..tadi gue lihat laki lo juga datang ke kantor lumayan siang." terang Rana.


"O yah,gue nggak enak badan saja.Tapi,sekarang sudah baikan kok. Nggak usah khawatir." ucap Hanna.


"Syukurlah kalau lo sudah baikan." ucap Rana dengan menghela nafas lega.


Di ruangan kerjanya Albi termenung menatap kosong pemandangan yang ada di luar sana dari kaca kantornya.


"Ehemm..awas kesambet , ngalamun mulu. Mikirin apa sih,galau terus. Bini punya dua tapi masih galau aja kayak orang yang lagi patah hati." cerocos Firman yang sudah ada di dalam ruangan Albi.


"Nggak sopan lo, masuk ruangan orang mah ketuk pintu dulu.Nyelonong aja bikin kaget orang aja." gerutu Albi yang melangkah menuju sofa di mana Firman sudah duduk manis di sana.


"Dari tadi gue udah ketok pintu Samin, belum juga gue ketok pala lo sama gue sedot ubun-ubun lo itu.


Makanya jangan kebanyakan ngelamun,jadi beg* kan otak lo ?!" ledek Firman membuat Albi melotot mendengar perkataan sahabatnya itu yang tanpa saringan.


"Sembarangan lo, bukannya bantuin gue malah bisanya cuma ngeledek aja lo kerjaannya." sewot Albi.


"Eh..Bambang,lo saja belum cerita.Mana bisa gue tahu.Gue bukan cenayang yang bisa lihat apa yang terjadi.Sekarang cerita ada apa sama lo." ucap Firman membenarkan posisi duduknya.


"Gue ngerasa salah sama Hanna karena....


Albipun menceritakan tentang apa yang terjadi dari Hanna terjatuh ke kolam renang dan sampai peristiwa di pagi ini.


"Jadi itulah yang membuat Hanna nggak masuk hari ini. Al,lo itu suami nya Hanna. Se_sayang apapun lo sama Fiza harusnya lo jaga perasaannya. lngat Al,Hanna istri lo walaupun belum ada cinta di hati lo buat Hanna hormati dia selayaknya istri. Dari sanalah Hanna akan menjaga dirinya dan juga bisa berdamai dengan kenyataan." ujar Firman memberikan pendapatannya.

__ADS_1


Albi menghela nafas panjang dan sedikit banyak memang benar apa yang di katakan Firman. Bagaimana istrinya tidak marah dengan apa yang dia lakukan dua hari ini. Apalagi Albi belum pernah menjelaskan apa hubungannya dengan Fiza.


Bersambung


__ADS_2