Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Penolakan Rossa


__ADS_3

" Aku mohon biarkan seperti ini dulu walaupun satu menit." ucap Albi dengan suara yang terdengar bergetar.


Hanna tak mau menebak-nebak apa yang terjadi pada suaminya saat ini.


Hanna membalikkan tubuhnya dan kini keduanya saling berhadapan.


"Kita duduk dulu mas.." ucap Hanna menarik tangan Albi ke sofa.


Saat mereka sudah duduk di sofa barulah Hanna mencoba untuk perlahan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai tiba-tiba suaminya sudah ada di tempat ini.


"Mas, kamu boleh cerita apapun sama aku.Aku akan mendengarkannya.Sebenarnya apa yang terjadi di Amerika sampai-sampai kamu sekarang pulang kesini dengan keadaan seperti ini."


Albi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan.Dia dengan wajah sendu memegang tangan Hanna.


Apa yang di lakukan Albi membuat Hanna sedikit terkejut namun, dia tidak menolak apa yang saat ini Albi lakukan padanya.


"Jadi waktu aku kesana...


Flashback On


Albi di temani Firman sampai di Amerika dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera menemui Rossa.


Terlihat raut wajah Albi begitu ceria.Senyum tersungging di bibir Albi. Karena harapan untuk bertemu dengan pujaan hatinya kini jadi kenyataan.


Otaknya di penuhi nama Rossa sang istri tercinta.


Dia membawa sebuket bunga mawar merah kesukaan Rossa.


Sampai Phathouse tempat di mana Rossa berada pun membuat hatinya membuncah.


Ting tong


Ceklek


"Albi ?"


Terlihat seorang perempuan yang membuka pintu Phathouse tempat Rossa berada.


Wanita itu begitu terkejut melihat sosok yang tak disangka akan datang saat ini.

__ADS_1


"Siapa Mon..?" tanya seseorang yang tak lama muncul dari dalam Phathouse.


Wanita yang membuka pintu bernama Mona pun membuka lebar pintu itu dan menampilkan wajah Albi yang tersenyum manis ke arah Rossa.


"Surprise !!" teriak Albi.


Bukannya merespon dengan senang karena suaminya datang tapi, Rossa terlihat terkejut dan sekaligus tak suka.


"Mas,ngapain kamu kesini?"


Pertanyaan yang di lontarkan Rossa tentu membuat Albi terkejut. Albi tak menyangka jika respon Rossa akan mengecewakan hatinya.


"Masuklah Al." ucap Mona memberikan jalan untuk Albi masuk ke dalam Phathouse.


Albi pun menyusul Rossa yang lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.


"Sebaiknya kita biarkan mereka bicara." ucap Firman pada Mona.


"Hemm.." jawab Mona singkat.


Firman dan Mona pun memiih menunggu di sebuah Caffe yang ada di sekitar Phathouse.


Albi membuka pintu kamar Rossa. Terlihat Rossa duduk di pinggir tempat tidur dengan matanya menatap tajam ke arah Albi.


"Kamu kenapa, sepertinya kamu nggak suka aku kemari?" tanya Albi dengan wajah sendu.


"Kenapa kesini kamu tidak memberi tahu aku? Seharusnya kamu kasih tahu aku dulu." ucap Rossa dengan suara yang terdengar lantang.


Terlihat raut wajahnya tak senang jika Albi muncul di hadapannya sekarang.


Albi melihat perbedaan sang istri tercinta nya yang seakan marah karena kehadirannya seperti pengganggu bagi Rossa.


"Kenapa harus kasih tahu, kalau aku memberikanmu bukan kejutan namanya ." jawab Albi yang masih terlihat santai.


"Tapi, ini bukan lndonesia yang kerjaan aku hanya kebutik mas, aku kesini kuliah serta guna mengembangkan usahaku di dunia lnternasional. Kalau kamu kesini yang ada kamu aku tinggalin soalnya aku mau pergi sama Mona." terang Rossa.


"Pergi, kemana ? Aku bisa mengikuti kamu kemanapun kamu akan pergi.Aku ambil cuti satu minggu." terang Albi.


Rossa menatap kearah Albi dengan pandangan susah di artikan.

__ADS_1


"Mas ini bukan lndonesia, ini Amerika.Kamu boleh berbuat semaunya di negara kita sendiri tapi, ini negara orang pastinya ada prosedur nya. Aku nggak mau usaha aku gagal gara-gara kamu."


"Lebih baik kamu kembali ke lndonesia karena setelah acara hari ini malam nanti aku langsung terbang ke Jerman." sambung l Rossa mengambil koper besar yang sedari tadi sudah dia siapkan di belakang pintu.


"Jarman , kamu kesana mau ngapain? Kalau begitu aku akan urus keperluan kita pergi. Aku akan mengantarmu dengan pesawat kita." ucap Albi mencoba membujuk Rossa.


"Aku bilang nggak perlu mas,kamu nggak mungkin ikut dan aku nggak mungkin bawa kamu kemana aku pergi. Tolong mas, dukung aku. Cuma dua sampe tiga tahun dan aku akan pulang.Setelah aku pulang terserah kamu mau apa dari aku,pasti aku akan turuti." terang Rossa.


Albi mengeraskan rahangnya rasanya tak masuk akal dengan permintaan sang istri.


"Apa kamu tak merindukan aku, bahkan kamu pun jarang memberikan pesan padaku. Apa aku sudah tak ada lagi di hati kamu?" pertanyaan Albi sontak membuat Rossa menatap tajam kearah Albi.


"Kamu nggak usah ngaco deh mas, kamu terlalu kekanak-kanakan. Sudahlah jangan buat aku tambah pusing dengan permintaan kamu !" ucap Rossa menyeret koper besar miliknya ke arah ruang depan.


" Kamu sudah berubah Ros, apa ini yang namanya istri yang baik dan bisa saling support,hemm?" tanya Albi dengan mengepalkan tangannya.


"Mas, biasanya kamu ngertiin aku kenapa sekarang seperti ini. Kita bukan ABG lagi. " Ucap Rossa mendekati sang suami.


Rossa meraih kedua tangan Albi dan mengecupnya.


"Kamu ingat perjanjian kita kan, kamu ingat saat kamu ngajak aku nikah aku minta kita undur . Tapi, kau yang bilang..semua nggak ada yang berubah walaupun aku menikah. Tapi, setelah aku mulai menjalani kehidupan apa yang aku inginkan kamu seperti ini. Mas, aku pernah bilang aku ingin bebas untuk terbang lebih jauh dan lebih maju. Demi apa ,demi memantaskan diri ku. Demi kamu,aku nggak mau selalu di hina oleh papa mu. Seakan papamu menganggap aku benalu yang perlu dia singkirkan." ungkap Rossa mengingat bahwa mertuanya yang belum juga menerima keberadaannya di keluarga Albi.


Albi membuang nafasnya dengan kasar. Dia mengecup tangan Rossa lalu membawa tubuh Rossa dalam pelukannya.


"Maafkan aku, rasanya begitu sulit menjalani proses ini sayang. Aku ingin kamu selalu ada di sisih ku." ucap Albi mengecup kening sang istri.


"Kita harus saling support. Aku mencintaimu Al." ucap Rossa dengan mandang wajah Albi dengan dalam.


Albi menyentuh bibir yang sudah lama dia rindukan. Dia menyatukan bibirnya di permukaan bibir Rossa. Dia mulai menyalurkan kerinduannya pada sang istri. Untuk beberapa saat mereka terbuai dalam kerinduan. Namun, Albi harus kembali kecewa saat Rossa menolak dirinya untuk menyentuh istrinya lebih jauh.


"Kenapa?" tanya Albi dengan wajah sayu.


"Maaf Al, aku harus segera pergi." ucap Rossa.


Albi kembali menatap pergerakan istrinya. Rasanya begitu aneh dia rasakan. Ada sedikit goresan hati yang mulai terluka.


Albi menghela dalam dalam dan menyaksikan istrinya pergi menjauh darinya.


Begitu lemah dirinya di depan Rossa. Kalau kata Firman memanggil Albi dengan Alabil.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2