
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Semua karyawan sudah ada di GA Group pun mulai berangsur angsur keluar dari kantor.
"Han,ke kos kan?" tanya Rana pada sahabatnya.
"Iyalah,kemana lagi Rana.Aneh Lo!" ucap Hanna dengan membereskan meja kerjanya.
"Kali aja lo mau...
"Nggak,gue tetap ke kost_an." serobot Hanna dengan pandangan yang menatap Rana tajam.
"Kan cuma nanya buuu.." ujar Rana.
Tanpa menjawab Hanna hanya menaikkan bahunya.
Tak butuh waktu lama mereka sampai kost_an.Hanna langsung membersihkan diri karena rasanya tubuhnya begitu lengket.
Dua puluh menit Hanna menyelesaikan ritual mandinya dia pun merapihkan tampilannya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar kost Hanna membuat Hanna menghentikan kegiatannya yang sedang beres-beres kamarnya.
"Siapa yah,apa Rana yang ketuk pintu tumben dia nggak teriak-teriak." gumam Hanna.
Tok tok tok
Ketukan pintu kembali terdengar di telinga Hanna.Dia pun segera mengakhiri aktifitasmua itu.
"Iya, sebentar !" teriak Hanna dengan mengayunkan langkahnya kearah pintu kamar kostnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan tubuh Hanna mematung saat melihat siapa yang datang ke kamar kostnya.Dia menatap tak percaya siapa yang sudah datang di kostnya itu.
"Heii..Hanna,Han..hellow!!' seru Albi melambaikan tangannya di depan wajah Hanna dan sejurus kemudian dia menjentikkan jarinya di depan wajah Hanna.
Clekk
__ADS_1
"Ah..ma_mas Al,kamu kok ada di sini?" tanya Hanna dengan masih menaruh rasa tak percaya dengan kehadiran suaminya di depan matanya.
"Kenapa memangnya,mas nggak boleh ke kesini,ketempat dimana istri mas berada?" tanya Albi dengan membisikkan pertanyaan itu di depan telinga Hanna.
"Bu_bukan itu masalahnya,ini kos-kosan khusus putri terus kenapa kamu bisa masuk ke area sini?" tanya Hanna penasaran karena keberadaan suaminya yang ada di kostnya.
Karena memang peraturan tidak ada yang boleh laki-laki berkunjung bahkan menginap di kostnya.Lalu sekarang,didepanya ada suaminya.
"Kenapa nggak bisa,perasaan bisa-bisa saja.Kamu nggak mau ngajak mas masuk?" tanya Albi bicara dengan begitu santai.
"Kamu ini jangan bikin masalah loh mas,nanti apa kata penghuni kost_an." ucap Hanna dengan celingak-celinguk sekeliling kamarnya.
Dari kejauhan ibu kost yang biasa ngontrol pun berjalan lewat koridor kamar Hanna.
"Mamp*s,pasrah saja lah..diusir-diusir deh.." batin Hanna melihat ibu kost mendekat lewat kamarnya.
"Neng Hanna kenapa nggak bilang kalau sudah punya suami,ibu sampe kaget tadi masnya ketempat ibu." ujar si ibu kost mendekat ke arah Hanna dan Albi.
"Emm_maaf bu,saya nggak nyangka kalau suami saya mau kesini nengokin saya." ujar Hanna
"Loh,katanya mau di ajak pindah.Kata masnya rumah kalian yang di renovasi sudah selesai." ucap ibu kost dengan mengernyit heran.
"Maaf bu,saya memang belum bilang ke istri saya kalau rumah yang direnovasi itu sudah jadi.Karena kesibukan saya lumayan padat jadi baru sempat kesini sekalian menjemput Hanna." ujar Albi memberikan alasan.
"Pintar bener nih orang ngomong gitu, boro-boro aku tahu soal rumah dia.Soal pernikahan saja masih di gantungin." batin Hanna mendengar perkataan suaminya itu.
"Oh gitu,tapi..neng Hanna jadi pindah?" tanya si ibu kost.
"Jadi bu,tapi..saya minta tolong bisa saya masuk kedalam?'tanya Albi menjawab pertanyaan si ibu kost dan meminta ijin untuk masuk ke dalam kost_an Hanna.
"Si_silahkan,silahkan.Tenang saja tuan,saya sudah koordinasi dengan pihak lingkungan." ucap ibu kost.
"Gercep juga ini ibu kost,lagian ngapain mas Al minta ijin buat masuk ke kamar aku,kamar ini kan punyaku jadi aku yang berhak boleh enggak nya dia masuk ke dalam." gerutu Hanna yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati.
"Terimakasih buu.."ucap Albi dengan begitu sopannya.
"Tidak masalah tuan.Selamat istirahat tuan,neng Hanna.Saya pamit mau cek yang lain." ujar ibu kost dan melenggang pergi setelah mendapat jawaban dari Albi dan Hanna.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Hanna dan Al melihat sosok ibu kost menghilang dari koridor kamar Hanna kini Hanna menatap Albi dengan garang.
"Kenapa?" tanya Albi heran.
"Mas ngomong apa sama ibu kost sampai dia ngijinin mas kesini.Mas jangan macam-macam yah.." ucap Hanna dengan berkacak pinggang di depan pintu kamar kostnya
"Mas nggak ngomong apa-apa,mas hanya bilang mas mau ketemu kamu dan jelasin ke beliau tentang kita dan beliau percaya." ucap Albi sangai.
"Cuma itu,nggak mungkin.Aku nggak percaya." ucap Hanna dengan wajah yang masih ditekuk.
"Ya sudah kalau kamu nggak percaya.Mas mau mandi,badan mas udah lengket banget nih..suami pulang bukannya di sambut dengan senyuman malah di interogasi kayak polisi."ujar Albi.
Mendengar ucapan Albi membuat Hanna memanyunkan bibirnya dan menggeser tubuhnya sedikit memberi jalan buat Albi masuk kedalam kamar kostnya.
"Masuklah,emang mas bawa ganti? kenapa mas nggak langsung pulang saja?"tanya Hanna yang mengekori suaminya yang masuk ke dalam kamar.
Albi menghela nafas dalam dan membalikkan tubuhnya membuat Hanna hampir saja menabrak tubuhnya untuk rem kaki Hanna pakem he-he-he..
"İhhh..mas Albi kenapa berhenti nggak ngomong-ngomong sih, untung nggak nabrak mas." ujar Hanna.
"Maaf,aku nggak punya spion yang bisa lihat kamu ada di belakang aku." canda Albi.
Mendengar Albi menanggapi omongan Hanna dengan candaan membuat Hanna tertegun.Baru dia tahu jika suaminya bisa berkata demikian.
"Kenapa ?" tanya Albi yang melihat Hanna yang terlihat tiba-tiba diam.
"Nggak apa-apa,baju gantinya mana.Mas nggak bawa masuk?" tanya Hanna yang melihat Albi tak membawa tas atau sebagainya.
"Ada di mobil,bisa kamu ambilin? ada di jok belakang ini kuncinya.Aku mandi dulu." ucap Albi dengan menyerahkan kunci mobilnya pada Hanna.
Hanna pun tanpa membantah langsung keluar dan mengambil baju ganti Albi.
Tak lama dia pun langsung kembali ke kamarnya.Saat dia masuk terlihat Albi sudah selesai dengan urusan mandinya.Hanna sedikit merasa gugup karena memang dia melihat Albi dalam keadaan bertelanj*ng dada dengan handuk sedang milik Hanna dengan dililitkan di pinggangnya.
Dengan tanpa drama Albi pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit santai.Celana trening bewarna abu-abu dan kaos pas body berwarna putih yang mencetak dengan sempurna tubuh kekar dan dada bidang Albi.
Hanna melihat penampilan suamiya yang terlihat lebih santai pun langsung terpesona bahkan rasanya dia susah untuk menelan silvanya karena rasa kering yang tiba-tiba melanda tenggorokannya.
__ADS_1
Bersambung