
Haii para readers maaf kemarin nggak up karena memang ada tugas yang tidak bisa di tinggalkan,kalau author sempat pasti up kok..🙏
Lanjut yaaa....
Albi tak berani menatap mata sang mama dengan menghela nafas panjang dia pun membuka suara.
"Se_sebenarnya aku sama Hanna memang ada hubungan mah, itu terjadi karena sebuah kesalahan yang aku lakukan pada Hanna..
A_aku sudah mengambil kesuciannya saat aku mabuk.." ucap Albi
Dia pun mengalirkan cerita saat malam itu dan saat itu, Hanna yang meminta pertanggung jawaban padanya.Akhirnya dia menikah siri dengan Hanna dan membuat kesepakatan untuk mengakhiri pernikahan jika Hanna tidak hamil sebab malam kelam itu.
Namun, rencana tinggallah rencana.Apalagi mengingat kembali bagaimana Alm. Hilman menitipkan anaknya padanya untuk dia selalu menjaga Hanna dan dia pun akhirnya memutuskan untuk mendaftar pernikahan nya di KUA dengan membuat surat pernyataan yang sudah di tanda tangani Rossa dengan cara mengelabui istri pertamanya itu.
Mendengar penjelasan putranya tentunya membuat Mutia kaget bukan main. Dia menutup mulutnya mendengar penuturan gamblang tentang Hanna dan Albi dari mulut Albi sendiri.
"Ya Allah nak, kamu kenapa nggak jujur sama mama juga sama papa,hem?" tanya Mutia yang begitu geram dengan tingkah pecund*ng Albi yang tak berani jujur pada orang tuanya sendiri.
"Kenapa kamu menjadi pengecut begini Al, Hanna..Hanna menantu mama..kamu tahu, saat pertama mama bertemu dia? Mama langsung merasa sangat sayang sama dia.Mama pikir, seandainya kamu belum menikah..mama mau bujuk papa supaya kamu bisa menikah dengan Hanna, tapi..mama sadar kamu begitu mencintai Rossa..dan dia sudah jadi istri kamu.Mama sempat ingin menjadikan dia menjadi adik kamu, mama bahkan minta persetujuan papa kamu untuk mengadopsi Hanna dan papa kamu setuju." ungkap Mutia membuat Albi terpaku mendengar penuturan sang mama.
"Lalu, gimana kabar Hanna..apa dia sudah di temukan?" tanya Mutia.
Saat Albi akan menjawab pertanyaan sang mama tiba-tiba Rossa berdiri di tengah tangga memanggil dirinya.
"Al, kamu baru pulang?" tanya Rossa dari tangga dan membuat Mutia dan Albi saling pandang.
"I_nggak juga, dari tadi sih..tadi mama ajak ngobrol jadi duduk di sini sambil cerita." ucap Albi dengan sedikit gugup karena takut Rossa mendengar pembicaraan nya bersama sang mama.
Tak ingin berlama-lama ngobrol dengan menantu dan anaknya Mutia pun beranjak pergi dari ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya.
Melihat Mutia yang sudah masuk ke dalam kamar miliknya,Albi pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai bergerak ke arah tangga dan ingin menuju kamarnya.
Rossa yang melihat Albi berjalan ke arah kamar pun mengekor di belakang suaminya
"Kamu kok pulangnya malam banget, dari mana?" tanya Rossa saat mereka sudah ada di dalam kamar mereka.
"Lembur, karena tadi juga bantuin Firman cari Hanna." jawab Albi.
"Sepertinya Hanna orang yang spesial buat kamu juga Firman ya? Jadi penasaran pengen ketemu, terus kenalan.Dia asyik nggak buat ngobrol-ngobrol?" tanya Rossa dengan serentetan pertanyaan yang di todongkan pada suaminya.
__ADS_1
Albi menelan silvanya dengan sedikit susah payah.Apalagi mendengar jika Rossa ingin kenal dengan Hanna dan kenalan. Rasanya tak bisa do bayangkan jika Rossa tahu tentang poligami yang dia lakukan.Pastinya Rossa akan kecewa dan marah padanya.Ternyata dia pun tak sebaik yang di pikir istri pertamanya itu.
"Na_nanti kalau dia sudah balik.Semoga saja doa nggak kenapa-napa." ucap Albi.
"Mungkin dia ke rumah saudaranya atau pulang kampung?"
Albi mengernyitkan dahinya menatap heran ke arah sang istri.
"Kampung, kenapa kamu bisa tahu kalau Hanna punya kampung?"
"Ohhh ..tadi Cheryl yang cerita.Dia bilang kalau Hanna pernah nginep di rumah kamu,rumah mana? Padahal aku istri kamu..mirisnya aku malah nggak tahu kalau kamu punya rumah.Apa ada yang kamu sembunyikan padaku Al? Kata Cheryl juga kalau Hanna kayaknya tertarik sama kamu, apa benar? Kalau memang iya, aku mohon..jangan cari dia.Karena aku nggak mau ada pelakor yang bisa memisahkan kita."
Deg.
Albi merasakan sesak di dadanya .Apalagi Rossa mengatakan soal pelakor.Tapi, Hanna bukan Pelakor.Dia hanya korban dari perbuatannya di malam itu dan dia yang memutuskan untuk meneruskan pernikahan mereka.Padahal jelas-jelas Hanna sudah meminta bercerai dengannya.
"Nggak ada pelakor yang akan merebut aku dari kamu. Aku bukan tipe laki-laki yang dengan mudah tergoda." ucap Albi naik ke atas tempat tidurnya.
"Matikan lampunya Ros, aku lelah ingin istirahat." ucap Albi saat sudah berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya.
Sebenarnya tubuh Albi begitu lelah namun, pikiran nya tak tenang sebelum dia bisa menemukan.
.
.
Pagi-pagi sekali Albi bangun dari tidurnya.Dia memang sepertinya sudah terbiasa dengan waktu bangun Hanna yang selalu mereka lakukan dan melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Saat Albi sedang menengadahkan tangan nya dan melafazkan doa doa mata Rossa terbuka perlahan karena sadar jika suaminya tak ada di sampingnya.
Dia menyipitkan matanya dan mengucek matanya beberapa kali.Pemangan yang tak biasa itu membuat Rossa tertegun.
Sejak kapan Albi rajin sholat, apa yang di lihat Rossa nggak salah ?
"Kamu sholat Al?" pertanyaan konyol itu membuat Albi menyadari jika istrinya sudah terbangun.
"Kamu sudah bangun, sebaiknya kamu segera sholat sebelum waktunya habis."
"Nanti sajalah, masih pagi banget juga." ujar Rossa acuh.
__ADS_1
"Kamu nggak mau bikinin aku sarapan?" tanya Albi berhasil membuat Rossa melotot tak percaya dengan apa yang di katakan suaminya itu.
"Aku, masak? Mana aku bisa masak Al, kamu kan tahu dari dulu." ujar Rossa.
"Belajar kan bisa.Ada mama di dapur, sekalian biar kamu lebih dekat dengan mamah."ucap Albi.
"Yang ada aku di ceramahin mama di dapur." ucap Rossa.
Albi menghela nafas berat.Rasanya memang Rossa susah untuk peka dan peduli dengan perasaan orang lain.
"Katanya mau memperbaiki semuanya.Tapi, kenapa hanya untuk sekedar membuatkan kopi buat suami kamu nggak mau." ucap Albi membuat Rossa melotot tak percaya dengan apa yang suaminya ucapkan.
Karena memang dari pertama menikah Albi pun nggak pernah menuntut Rossa untuk sekedar membuatkan kopi atau mengambilkan seke nasi ke dalam piring suaminya.
Ucapan Albi membuat hati Rossa kesal bukan main.Dengan terpaksa pun akhirnya Rossa bangun cuci muka dan langsung menuju ke dapur.
"Rossa, tumben pagi-pagi kedapur ? Ada apa,jam segini kamu sudah bangun,biasanya masih sembunyi dibawah selimut, mau ngapain?" tanya Mutia pada menantunya itu yang tak ada kata yang lembut bahkan terkesan julid.
"Ma_mau buat kopi.Maksud Ros,mau belajar bikin kopi buat Al mah.."jawab Rossa dengan senyum kikuk.
"Buatlah, harus pas takarannya.Kalau nggak pas dia akan protes." ucap Mutia dengan berjalan keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hijau.
Rossa mendengar penuturan ibu mertuanya pun menggenggam di buatnya.
Saat bersamaan ada seorang ART yang masuk ke area dapur itu.
"Eh ..mba,buatin kopi buat den Albi.Yang enak,awas kalau nggak enak !" ancam Rossa.
ART itupun mengangguk mengiyakan.Karena memang dia yang bertugas menyiapkan keperluan Albi.
"Al, ini kopinya.Coba deh..pasti enak buatan aku." ucap Rossa dengan PEDE nya.
Mutia dan Emir yang ada satu meja dengan Albi pun hanya acuh dengan ucapan menantunya namun, mereka tetap dengar apa yang Rossa katakan. Rasanya Mutia ingin menyemburkan teh yang sedang dia sedap itu karena mendengar ucapan Rossa yang terlewat PD.
Albi meminum kopi yang di bawa Rossa dan merasakannya.
"Ini buatan bibi kan,bukan buatanmu? Karena aku tahu rasanya kopi yang di buat oleh setiap ART di rumah ini." ucapan Albi pun akhirnya membuat Rossa mati kutu.Niat hati ingin pujian dari suaminya di depan mertuanya yang selalu memandang dirinya dengan tatapan sinis, malah nyatanya perkataan Albi jelas-jelas tak pernah Rossa sangka-sangka.
Bersambung
__ADS_1