Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Perhatian


__ADS_3

"Te_terimakasih buat apa mas?" tanya Hanna dengan gugup.


"Coklat panas nya." jawab Albi singkat.


"Ooo.." respon Hanna hanya O saja membuat Albi gemas dengan respon istri keduanya itu.


"Cuma O doang?" tanya Albi dengan jarak yang begitu dekat dengan wajah Hanna.


"Lalu,nggak ada yang spesial juga kan..? Aku rasa itu hal wajar di lakukan seorang istri pada suaminya.Jadi, kenapa mas berlebihan begitu? sampai-sampai harus curi-curi kesempatan cium kening aku." tutur Hanna dengan wajah yang terlihat cemberut.


"Heiii..ingatlah semua ini nona,kita suami istri.Tentu saja apa yang aku perbuat seperti mencium kening kamu itu juga hal wajar.Bahkan aku juga bisa melakukan hal yang lebih dari itu,kamu mengerti?" goda Albi dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Rasanya sial sekali dengan semua yang di ucap kan Hanna ternyata Albi balikkan begitu mudah bahkan membuat Hanna salah tingkah sendiri.


"Gimana,boleh kan kalau ak...


"NO !! big no,no debat.Aku nggak mau jika kamu melakukan sesuatu padaku tidak ada cinta diantara kamu dan aku.Jadi,pastikan mas mengerti apa yang aku maksudkan.Jadi,jangan samakan aku dengan jal*ng yang dengan seneng hati melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur mu ." ucap Hanna dan mendorong tubuh Albi menjauh darinya.


Hanna yang melihat kesempatan untuk kabur pun akhirnya dengan cepat masuk ke dalam kamar tamu dan langsung menguncinya.


Melihat Hanna yang langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu membuat Albi menghela nafas dalam dan kembali mengingat apa yang di katakan sang istri padanya.


Bila mereka belum ada rasa cinta tidak akan pernah mau Hanna kembali mengulang malam yang sudah mereka lewatkan malam itu.


Bagi Albi sangatlah sulit untuk memenuhi kewajibannya pada istri keduanya apalagi mengigat diantara mereka tidak ada cinta.


Albi masuk ke dalam kamarnya dan mendudukkan dirinya di sofa dan memandang foto besar yang terpajang rapi di tembok kamarnya tepat diatas ranjangnya.


Foto yang begitu terlihat bahagia karena sudah melewati proses sakral antara mereka yang memang saling mencintai.


Apalagi dengan segala perjuangan keduanya untuk mendapatkan restu kedua orang tua Albi yang tak kunjung mereka dapatkan.


Sampai dimana Albi nekad untuk menikahi Rossa tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada kedua orangtuanya dan meminta orang tua angkatnya yang sekaligus sahabat papanya untuk menyiapkan pernikahan nya di Malaysia.


Hahhhh

__ADS_1


Helaan nafas yang terasa sulit Albi jabarkan.Banyak beban masalah yang sebenarnya dia hadapi.


Albi teringat akan pembicaraan nya dengan Firman tadi.


"Ayolah Al,buka hati kamu buat Hanna. Aku rasa kamu nggak akan rugi akan hal itu." ucap Firman.


"Mana bisa Man,aku sangat mencintai Rossa dari dulu sampai detik ini." ucap Albi.


"Jangan egois untuk hal ini,kamu tahu..tak selamanya Hanna akan jadi istri simpanan mu.Tak selamanya dia akan selalu menerima kezoliman yang kamu lakukan.Kamu tahu,apa yang kamu lakukan padanya saat ini adalah perbuatan zolim." ungkap Firman.


Albi tercenung dengan ucapan Firman tadi.Zolim,apa benar dia sudah zolim pada istri keduanya itu? Dia pun tidak tahu harus bagaimana untuk memulai rumah tangganya dengan Hanna seperti rumah tangga pada umumnya .


"Hanna seorang perempuan yang tak akan serakah Al.Apa pernah dia meminta kamu bercerai dengan Rossa,tidak kan? Apa pernah dia memaksamu untuk melakukan hal yang menurut dirinya? Yang ada dia selalu ingin kamu menceraikan dirinya agar kamu tidak berlarut-larut menimbulkan dosa padanya.Berbuat zolim padanya." terang Firman.


Benar adanya ucapan Firman.Hanna akan jatuh cinta padanya jika Albi membuka hati untuk dirinya.Hanna akan bersikap seperti orang lain seiring dengan perlakuan Albi padanya.


Begitu banyak yang Albi pikirkan membuat kepalanya berat .Albi pun mencoba memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


...****************...


Seperti pagi ini setelah sholat subuh Hanna keluar dari kamarnya dan menuju dapur.


Terlihat suasana rumah masih sepi dan baru saja di dapur tepat Suti dan Sarmi baru masuk dapur juga.


"Loh non Hanna kok sudah di sini saja." ucap Sarmi yang terkejut melihat Hanna yang masuk ke dalam dapur.


" Eh bi Sarmi ,mba Suti..aku mau bantuin buat sarapan pagi ini." ucap Hanna dengan melihat stok bahan mentah yang ada di dalam lemari penyimpanan.


" Jangan non,nanti kita di marahi nyonya." cegah Sarmi.


"Nggak papa bi,lebih baik kita bagi tugas saja.Buat sarapan biasanya keluarga ini makan apa bi?" tanya Hanna pada Sarmi.


Sementara Suti mengerjakan pekerjaan lainnya.


"Kalau den Albi sih simple non,cuma roti bakar kalau nyonya sama tuan besar paling nasi goreng." ucap Sarmi.

__ADS_1


"Kalau nasi uduk mereka suka nggak bi?"tanya Hanna.


"Suka-suka saja sih non,apa non mau buat menu nasi uduk?" tanya Sarmi.


"Kayak oke loh bi,ini kan weekend pastinya mereka lebih santai kan.."


ujar Hanna.


Sarmi manggut-manggut mendengar penuturan Hanna.Akhirnya mereka membuat nasi uduk untuk menu sarapan di weekend ini.


"Loh Hanna,kenapa kamu sudah di dapur saja?" tanya Mutia saat masuk ke dalam dapur.


"Ma,maaf mah..Hanna lancang ikut buat sarapan pagi ini." ujar Hanna.


"Wahhh...enaknya kalau punya anak perempuan gini ya bi,ada yang di ajak masak-masak pasti seru." ujar Mutia senang dengan adanya Hanna di rumahnya serasa punya anak perempuan.


"Mama mau buat kopi buat papa yah,ini Hanna sudah buatin sekalian buat bang Firman sama tuan Al." ujar Hanna menyerahkan nampan yang sudah ada di atasnya tiga cangkir kopi.


"Masyaallah, terimakasih sayang.Kebetulan papa sama Albi juga Firman baru pulang dari joging." ucap Mutia.


"lya mah,nanti sarapannya menyusul lima menit lagi aku siapin." ucap Hanna di acungi jempol oleh Mutia.


Mutia melangkah menuju dimana tiga orang yang sedang duduk santai di gazebo taman belakang rumah besar itu setelah selesai joging.


"Wah,kopinya kok kayaknya beda mah?" tanya papa Emir saat meminum kopi yang di bawa sang istri.


Karena penasaran Albi dan Firman juga menyeruput kopi yang ada di gelas mereka masing-masing.


"Emmm ini..aku tahu kopi buatan siapa,benar nggak Al?" ucap Firman melemparkan pertanyaan pada Albi dengan menaik turunkan alisnya.


Emir dan juga Mutia langsung mengalihkan pandangan mereka pada Albi yang masih diam belum menjawab pertanyaan Firman.


Dalam hati Albi mengutuk perbuatan Firman yang memang dia rasa sengaja untuk melihat respon Albi.


"Hanna." ucap Albi bertepatan dengan Hanna yang sampai di gazebo dengan membawa makanan di belakangnya ada Sarmi yang membantu membawakan perlengkapan makan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2