Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 99 - Semua Pertanyaan Aurora


__ADS_3

Ainsley langsung menangis saat melihat hasil yang ditunjukkan dalam tespek tersebut.


Dua garis merah yang membuat jantungnya makin berdegup.


"Aku hamil," kata Ains.


"Iya," jawab Damian dengan penuh semangat dan langsung memeluk istrinya dengan erat. Bahkan Damian mengangkat tubuh Ains hingga kini istrinya tersebut duduk di atas pangkuannya.


Mereka saling memeluk erat, tak menyangka akan mendapatkan hadiah seindah ini. Ada sebuah kehidupan di dalam rahim Ains.


"Aku sangat mencintaimu Ains, aku berjanji akan menjaga dan membahagiakan kalian berdua," ucap Damian, masih memeluk dan menciumi pundak sang istri.


Sangat bersyukur tentang berkah ini, sementara Ains sudah menangis bahagia. Tidak sabar membagi kabar bahagia ini dengan bibi Ema, seseorang yang telah dia anggap sebagai ibu.


"Kita pulang sekarang ya?" tanya Ains, sesenggukan.


"Iya," jawab Damian, sebelum menurunkan sang istri dari atas pangkuannya dia lebih dulu mencium bibir Ainsley dengan lembut, sampai akhirnya saling berpagut mesra.


Jam 7 pagi Ains dan Damian telah tiba di rumah bibi Ema. Kedatangan mereka berdua tentu disambut terkejut oleh semua orang, apalagi beberapa saat lalu bibi Ema pun menjelaskan pada anak-anak bahwa mungkin saja kak Ains dan kak Damian akan pulang nanti sore. Tapi tiba-tiba kini sepasang pengantin baru itu sudah ikut berkumpul bersama mereka.


"Kenapa kak Ains dan kak Damian pulangnya buru-buru?" tanya Amara, dia yang paling penasaran.


"Jangan banyak bertanya Amara, ayo kita sarapan bersama, lalu setelahnya biarkan kak Ains dan kak Damian istirahat dulu di kamar." Joshua yang menyahut.


"Hih, aku akan cuma penasaran."


"Ya sudah ya sudah, lebih baik kita sarapan dulu," ajak bibi Ema. Rora juga langsung berpindah ke gendongan Ains, lalu saat duduk di meja makan dia pindah ke pangkuan Daddy Damian.


Karena ada penambahan anggota jadi meja makan sederhana itu jadi terlihat penuh sekali, namun untungnya masih muat untuk menampung semua orang. Hanya perlu satu kursi tambahan.


Suasana ramai itu terasa begitu nyaman bagi semua orang. Rachel bahkan rasanya ingin tinggal disini saja daripada bersama kak Damian dan kak Ains, Rachel merasa dia hanya akan jadi obat nyamuk diantara dua orang tersebut.


"Kak Damian," ucap Rachel setelah mereka semua selesai sarapan.


"Hem, ada apa?"

__ADS_1


"Aku ingin tinggal di sini beberapa saat, apa boleh?" tanya Rachel.


"Tidak, Sore nanti kita akan pulang bersama kak Ains," jawab Damian tegas tak bisa diganggu gugat.


"Yah, tidak boleh," sahut Amara pula, karena dia adalah yang paling semangat jika Kak Rachel tinggal di rumah ini.


Sementara Damian memang tidak ada niat membuat adiknya itu tinggal di rumah ini. Bagi Damian, Rachel masihlah selalu seperti adik kecilnya, jadi harus sangat dia jaga.


"Kalian semua bisa berkumpul saat akhir pekan, bisa berkumpul di rumah ini atau berkumpul di rumah Kak Damian. Begitu kesepakatannya," putus Damian, Rachel dan Amara paling pandang lalu mencebikkan bibir mereka. Sementara Zen dan Joshua mengangguk patuh. Toh mereka berdua sepakat jika Rachel dan Amara dipertemukan yang ada dunia ini berisik sekali.


Jadi keputusan untuk bertemu tiap akhir pekan bukanlah keputusan yang buruk.


Selesai sarapan anak-anak pun pergi ke sekolah. Ini adalah hari Senin setelah pesta di hari minggu kemarin, jadi semua aktivitas kembali berjalan sebagaimana mestinya. Tinggal berempat bersama Rora di dapur itu, Damian langsung menyampaikan kabar bahagia ini pada bibi Ema, tentang kehamilan sang istri. Juga meminta maaf sekaligus karena Jadi ketahuan Jika dia telah menyentuh Ains sebelum pernikahan.


"Bi," panggil Damian, mendadak gugup sendiri. Seperti sedang menghadapi ibu mertua.


"Kenapa Dam? Bibi perhatikan sejak tadi kamu cemas sendiri," jawab bibi Ema, dia justru menertawakan wajah cemas Damian tersebut, terlihat lucu di matanya.


Bibi Ema bahkan sengaja tidak beranjak dari duduknya untuk mendengar apa yang sebenarnya ingin Damian sampaikan, karena sepertinya hal ini cukup serius untuk dibicarakan.


"Hamil?" tanya bibi Ema.


Ainsley dan Damian sontak sama-sama menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan tersebut.


"Ya Tuhan, syukurlah, tapi bagaimana bisa_"


"Maafkan aku Bi, aku merayu Ains untuk melakukannya sebelum kami menikah."


"Ya Tuhan," balas bibi Ema pula, Ains sudah menundukkan wajah.


Namun bibi Ema tidak punya kesempatan untuk marah, karena sekarang dia pun mendapatkan kabar bahagia tentang kehamilan Ains tersebut.


"Baiklah, tidak apa-apa karena kamu benar-benar bertanggung jawab dengan menikahi Ains. Untuk kali ini bibi maafkan," jawab bibi Ema.


Ainsley lantas mengangkat wajahnya dan menatap bibi Ema, tatapan haru atas janin yang kini tumbuh di rahimnya.

__ADS_1


Bibi Ema lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Ains, memeluk anaknya yang kini bukan anak-anak lagi, Ains bahkan sebentar lagi akan memiliki anak kandungnya.


Bibi Ema bahagia sekali, sangat bahagia dia bisa melihat kehidupan Ains hingga di jenjang ini. Mimpi bibi Ema kini hanya tinggal satu tentang Ains, dia ingin mengasuh pula anaknya Ains, dia ingin dipanggil dengan sebutan nenek.


"Syukurlah sayang, bibi bahagia sekali," ucap bibi Ema. Ains juga membalas pelukan itu.


"Aku juga bahagia sekali Bi, terima kasih karena bibi selalu mendampingi aku," jawab Ains kemudian, tangisnya bahkan lebih parah ketika dia bersama dengan bibi Ema. Tidak separah saat bersama Damian tadi.


"Kamu harus menjaga kandungan ini baik-baik, jika butuh apapun katakan pada bibi," balas bibi Ema.


Sesaat Damian terasingkan bagi mereka berdua. Apalagi Ains pun mengangguk patuh atas ucapan bibi Ema tersebut.


"Bibi mohon jaga Ains dengan baik, Dam. Karena sekarang kamulah yang akan jadi sandaran bagi Ains," kata bibi Ema pula. Dia berharap banyak pada Damian. Seseorang yang selalu dia minta untuk membahagiakan Ains.


"Tentu Bi, aku akan melakukannya," jawab Damian.


"Mommy hamil? Hamil anak bayi?" celetuk Rora yang sejak tadi ada dipangkuan Daddynya.


"Iya sayang, nanti Rora akan memiliki adik," jelas Damian.


"Apa adiknya nakal? Nanti dia nangis terus?" tanya Rora pula, makin banyak pertanyaannya jika dituruti.


"Tidak nakal sayang, bayi menangis karena dia belum bisa bicara," terang Ainsley.


"Kenapa dia tidak bisa bicara? Rora saja bisa bicara," ucap balita itu lagi.


Jadilah Damian dan Ainsley sibuk menjawab semua pertanyaan Aurora.


Bibi Ema tersenyum lebar, jadi semangat sekali saat membereskan meja sisa anak-anak sarapan.


"Jadi nanti bayi itu akan memanggil mommy dan Daddy juga sama seperti ku?"


"Iya sayang."


"Kenapa begitu? Aku tidak ingin mommy dan Daddy ku diminta bayi, huaaa." Rora malah menangis.

__ADS_1


Ainsley dan Damian makin kebingungan, sementara bibi Ema tetap saja bahagia melihat pemandangan ini. Sungguh, dia bahagia sekali.


__ADS_2