
Mom Jilliana langsung menatap ke arah pintu ketika mendengar suara pintu itu terbuka, dia pun seketika bangkit saat menatap Damian kini tidak datang seorang diri, tapi bersama Ains di sampingnya.
"Ains," ucap mom Jilliana, langsung menyebut sebuah nama yang membuat hatinya berdenyut nyeri, sebab selama ini banyak sekali dia menyakiti Ains. Setelah semua kebaikan Ains di masa lalu, mom Jilliana sedikitpun tidak membalasnya justru memberi luka yang baru.
Perasaan mom Jilliana makin campur aduk saat dia lihat Rachel dan Zen juga datang ke sini.
Ya Tuhan, mom Jilliana sampai rasanya ingin jatuh pingsan. Nyatanya di saat kedaaannya begitu terpuruk, hanyalah keluarga yang bisa mendampingi. Sementara orang-orang yang selama ini dia pikir bisa membantunya, justru menghilang entah kemana.
"Mom," panggil Rachel, dia adalah yang lebih dulu memanggil. Sebab begitu terkejut melihat kondisi sang ayah yang belum sadarkan diri.
Dengan menangis Rachel memeluk mom Jilliana lebih dulu. Pelukan itu dibalas dengan begitu erat.
"Rachel, maafkan mommy Nak. Maafkan mommy," kata mom Jilliana dengan begitu pilu.
"Ains, Zen, maafkan mommy dan Daddy sayang, mommy Mohon," kata mom Jilliana pula, satu tangannya memeluk Rachel, sementara satu tangannya terbuka meminta Ains dan Zen untuk masuk ke dalam pelukannya juga.
Ains ingin langsung masuk ke dalam pelukan itu, namun dia lebih dulu menatap kearah sang adik. Zen yang sesungguhnya jadi korban keegoisan ini, sampai dia harus dikeluarkan dari sekolah.
Dilihat oleh Ains, Zen yang mengangguk kepalanya kecil. Sebuah isyarat yang mengatakan bahwa dia telah memaafkan mom Jilliana, mereka harus memaafkan mom Jilliana.
Ains lantas menarik tangan Zen untuk masuk ke dalam pelukan mom Jilliana.
"Ya Tuhan, terima kasih. Maafkan mommy Ains, Zen, Rachel, mommy sungguh-sungguh," kata mom Jilliana lagi, suaranya yang terdengar jelas membuat dad Bastian akhirnya tersadar. Salah satu tangannya mulai bergerak namun belum ada yang menyadari.
Damian juga tidak melihat ke arah sang Daddy, tatapannya hanya tertuju pada sang istri yang telah saling memaafkan dengan mom Jilliana.
Daddy Bastian lantas perlahan membuka kedua matanya, melihat dengan jelas pemandangan indah tersebut. Pemandangan keluarganya yang kembali berkumpul. Damian, Rachel, Ains dan bahkan Zen.
Runtuh sudah semua egonya yang selama ini membumbung tinggi, dia tidak sehebat itu untuk melawan takdir.
Karena sejatinya Ains dan Damian telah terikat benang merah sejak mereka berusia anak-anak.
"Ains," panggil dad Bastian dengan suaranya yang seperti hembusan angin, tak ada yang mampu mendengar panggilannya.
__ADS_1
"Zen," panggil dad Bastian lagi, namun ternyata tenaganya belum terkumpul semua, hingga tak ada suara jelas yang keluar.
"Ains!" panggil Dad Bastian yang ketiga, dia sudah berusaha untuk bersuara keras, namun tetap saja yang keluar hanya perlahan. Namun untunglah kini Zen menyadari suara tersebut, dia segera melerai pelukan dan menatap ke arah ranjang.
Semua orang mengikuti arah pandang Zen, melihat dad Bastian yang menangis dan tersenyum di atas ranjangnya.
"Dad," panggil Rachel, dia berlari untuk memeluk ayahnya erat. Sementara mom Jilliana menarik Ains dan Zen untuk mendekat pula.
"Dad, anak-anak sudah berkumpul. Jadi Daddy harus segera sembuh," kata mom Jilliana, dia tak ingin menangis lagi jadi buru-buru mengeringkan semua air mata.
"Maafkan Daddy," kata dad Bastian, suaranya kembali terdengar seperti hembusan angin, namun gerak bibirnya mampu dipahami oleh semua orang.
Tatapan dad Bastian lurus tertuju ke arah Ains. Mengartikan bahwa permohonan maaf itu pertama kali dia minta pada sang menantu.
"Aku sudah memaafkan Daddy, aku mohon Daddy harus kuat," jawab Ains kemudian.
Daddy Bastian tersenyum, bersamaan dengan air mata yang jatuh dari sudut matanya. Kini tatapannya pun berpindah ke arah Zen, menatap miris remaja yang dia jadikan korban.
"Maafkan Daddy Zen, Daddy mohon," kata dad Bastian.
Dan setelah mendapatkan maaf dari sejuta orang, akhirnya Daddy Bastian kembali memejamkan matanya.
"Dad!" panggil Rachel dengan suara tinggi, namun Damian segera menyentuh pundak sang adik sebelum Rachel jadi histeris.
"Daddy masih terpengaruh obat, dia hanya sedang tidur. Jadi kakak mohon tenanglah," kata Damian.
Rachel urung menangis hingga meraung-raung, dia lihat sang Daddy masih bernafas dengan kasar. Daddanya naik turun dengan jelas. Hanya kedua mata yang nampak terpejam.
Melihat itu Rachel akhirnya bisa membuang nafasnya lega.
Hampir 30 menit barulah Rachel bisa mengendalikan dirinya sendiri. Keadaan jadi lebih tenang daripada tadi.
Mereka berada di ruang VIP, jadi layanan yang tersedia di sini lengkap untuk keluarga yang mengaja.
__ADS_1
Zen dan Rachel sedang membuat minuman untuk semua orang, sementara Damian mengajak Ains untuk istirahat di sofa. Mom Jilliana akhirnya melihat dengan jelas jika Damian begitu memperhatikan Ains, menjaga dengan sangat hati-hati.
"Apa kamu hamil Nak?" tanya mom Jilliana pada sang menantu.
Ains tak kuasa untuk menjawab, dia hendak menoleh ke arah sang suami, namun Damian sudah lebih dulu menjawab.
"Iya Mom, Ains hamil," jawab Damian, "Sebenarnya aku datang ke rumah karena ingin menyampaikan kabar ini," timpalnya lagi.
Dan membuat mom Jilliana kembali berkaca-kaca. "Ya Tuhan," ucap mom Jilliana lirih, dia bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di samping sang menantu, kembali memeluk Ains sekali lagi.
"Maafkan mommy sayang, pasti berat untukmu dalam keadaan hamil seperti ini dan harus menghadapi penolakan kami," kata mom Jilliana.
"Mom, tidak perlu dibahas lagi tentang hal itu. Yang penting sekarang semuanya sudah membaik," jawab Ains.
"Daddy pasti akan sangat senang jika mengetahui tentang hal ini, dia pasti sudah tidak sabar untuk menimang cucu."
Ains tersenyum penuh syukur, awalnya dia berharap bahwa anak inilah yang akan membuat hubungan mereka jadi membaik. Namun ternyata Tuhan begitu baik padanya, bahkan sebelum kehamilan ini diutangi, mereka telah saling maaf memaafkan.
"Dam," panggil Dad Bastian, akhirnya pria paruh baya itu terbangun lagi. Dan kini semua orang sudah bisa mengendalikan diri. Tak ada air mata yang berlebihan.
Mom Jilliana bahkan tetap mendampingi Ains duduk di sofa dan membiarkan Damian menemui ayahnya seorang diri.
Damian menarik kursi dan duduk di samping ranjang sang ayah. "Aku di sini Dad," kata Damian.
"Pulanglah, bawa Ains dan Rachel bersamamu," pinta dad Bastian.
Damian mengangguk.
"Aku tidak hanya akan membawa pulang Ains dan Rachel, tapi juga calon cucu Daddy," kata Damian.
Kalimat yang membuat dad Bastian kembali berkaca-kaca. Dia lah yang telah menghancurkan keluarganya sendiri. Sementara Ains selalu saja menciptakan keluarga yang utuh.
"Panggil Ains, Daddy benar-benar ingin meminta maaf padanya," ucap dad Bastian.
__ADS_1
Hari ini banyak sekali kata maaf yang terucap. Namun mom Jilliana dan dad Bastian selalu merasa sebanyak apapun mereka ucapkan maaf tersebut tetap saja tak mampu mengobati semua luka yang telah mereka gores.
Namun Ains berulang kali meyakinkan bahwa hati mudah sekali luluh dengan ketulusan. Mereka akan tetap baik-baik saja selama saling menyayangi dengan tulus.