
Sore harinya Damian putuskan untuk kembali pulang ke rumah Ains, jadi saat jam 5 sore dia menjemput kekasihnya itu di Zen Minimarket.
Kembali datang dengan mobil yang berbeda tentu membuat Ains mengerutkan dahi, kenapa mobilnya ganti-ganti?
Dimana mobil kak Damian yang dulu?
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Damian, kini mereka berdua telah berada di dalam mobil. Mobil yang masih terparkir di area Zen Minimarket. Hari ini sebenarnya Damian lelah sekali, dalam sekejap dia harus memahami sistem kerja di perusahaan Davidson.
Tapi Damian tak ingin mengulur waktu, dia ingin segera mamantaskan diri dan menikahi Ains dengan layak. Menjadikan Ains wanita yang paling sempurna di hari pernikahannya tersebut. Bukan sekedar pernikahan sederhana atau bahkan pernikahan yang disembunyikan.
Kelak saat menikahi Ains, Damian pastikan semua orang di dunia ini tau.
"Ini mobil kak Kak Damian?" tanya Ainsley pula dan Damian langsung menganggukkan kepala.
"Hem, terlalu banyak mobil di garasi, jadi aku ingin coba mobil yang lain," ucapnya, sengaja sombong agar Ains tidak khawatir.
Dan lihatlah kini wanita itu nampak mencebikan bibirnya, membuat Damian gemas.
"Kenapa? Kamu tidak suka mobil ini? Ingin kita ganti lagi?"
"Tidak-tidak," balas Ainsley dengan cepat, membuat Damian jadi tertawa.
__ADS_1
Hanya Ainsley lah kini kekuatannya untuk bertahan dan bertarung. Meski tanpa nama keluarga Lynford, dia akan tetap memperlakukan Ainsley seperti Ratu.
"Setelah makan malam Nanti aku akan langsung pulang," kata Damian, dia mulai melajukan mobilnya.
"Kenapa tidak menginap?"
"Aku takut masuk ke dalam kamarmu dan Zen lihat."
Sekarang gantian Ainsley yang tertawa, "Kak Damian takut pada Zen ya?"
"Tentu saja, bisa bahaya jika anak seusia dia tahu."
Ainsley mencebik lagi, pembahasan mereka jadi kemana-mana membuatnya geli sendiri.
Melihat mobil baru masuk ke area rumah membuat dahi Zen berkerut juga, lalu berkata Oh ketika melihat kak Damian dan kak Ainsley yang turun dalam mobil tersebut.
Semalam kak Damian terlihat seperti orang yang habis bangkrut, datang dengan tampilan mengenaskan bahkan tak punya uang untuk membayar taksi.
Tapi paginya sudah ada supir dan mobil yang menjemput dan sekarang bahkan datang dengan mobil lain lagi.
Begitulah kehidupan seorang tuan Muda, kelak aku juga akan jadi seperti kak Damian. Batin Zen. Dia lantas mencium pipi gembul Rora, kelak adik-adiknya pun akan dia berikan kehidupan yang lebih layak. Terutama membalas semua kebaikan kak Ainsley.
__ADS_1
"Mommy!" pekik Rora saat Ainsley semakin dekat.
Ainsley yang dipanggil pun langsung berlari menghampiri anaknya tersebut, menggendong Rora tinggi hingga balita itu tertawa kegirangan.
"Come to Daddy, Honey," pinta Damian pula, yang ingin Rora berpindah ke dalam gendongannya.
Dan Rora pun menurut, dia segera mengulurkan kedua tangannya pindah ke gendongan Daddy Damian.
Dia diangkat lebih tinggi oleh Damian hingga membuat Rora senang sekali, sangat senang.
"Daddy Daddy, Kak!" tegas Zen tak bisa diganggu gugat. Sebelum kak Damian menikahi kak Ains jangan harap dia membiarkan Rora memanggilnya Daddy.
"Ish kak Zen galak sekali ya, Honey," ledek Damian pula, mencari sekutu pada bayi menggemaskan tersebut.
Ainsley hanya tersenyum melihat tingkah ketiga orang berbeda generasi tersebut.
"Kak Zen jangan marah-marah, aku mau kok panggil Daddy," celetuk Rora lalu memeluk Daddy Damian erat, kini usia Rora menginjak umur 5 tahun, jadi semakin pintar menyuarakan isi hati.
Zen memasang wajah sinis. Salah satu prajuritnya mulai jadi pengkhianat.
"Sudah ah, ayo masuk," ajak Ainsley, dia memeluk lengan Zen dan kak Damian bersamaan, lalu menarik semua orang untuk segera masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ainsley bahagia sekali, tak ada yang lebih dia inginkan dari keutuhan keluarga seperti ini.
Bibi Ema, Zen, Amara, Joshua, Rora, Rachel, mom Jilliana, dad Bastian dan kak Damian.