Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 78 - Aku Baik-baik Saja


__ADS_3

Huh! Aldian menarik dasi di lehernya, membuang nafasnya dengan kasar karena mendadak terbakar amarah pula.


Tak menyangka om Bastian akan sejauh ini mengambil tindakan, sampai melakukan kekerasan pada Ains, yang sejatinya hanyalah seorang wanita. Bekas tamparan itu nampak begitu jelas, merah dan membentuk tangan yang besar.


Kini bendera perang telah benar-benar terkibar.


*


*


Hari pun bergulir. Damian tidak pernah tau tentang tamparan di wajah Ains. Karena hari itu mereka tidak bisa bertemu. Sementara Ains pun selalu menutupi meski dengan hati yang gugup.


Hanya selalu berharap kak Aldian tidak membocorkan tentang tamparan tersebut.


Damian kini mulai membuat proposal kerjanya di perusahaan Davidson, setelah itu mengajukan pada tiap direksi apakah disetujui atau ditolak.


Proses yang dia lalui tentu tidak mudah, tapi Damian selalu memiliki semangat, yaitu Ains.


Dan setelah hari makin bergulir kini akhirnya berdampak pada keluarga Ains. Tanpa sebab apapun, tiba-tiba Zen dikeluarkan dari sekolahnya.

__ADS_1


Zen yang tidak terima melayangkan protes dan akhirnya Ainsley dipanggil ke sekolah untuk menyelesaikan masalah ini.


"Memang tidak ada alasan apapun, tapi kepala sekolah ingin Zen dikeluarkan dari sekolah ini," ucap wali kelas Zen, yang menangani semua urusan tentang pengeluaran Zen dari sekolah tersebut.


"Mana bisa mengambil keputusan tidak jelas seperti ini, Pak? Zen tidak melakukan kesalahan apapun, dia adalah siswa yang berprestasi!" balas Ains pula, Zen saja tidak terima dengan keputusan tersebut, apalagi Ains.


Ains yang paling tau betapa giginya sang adik dalam proses belajarnya.


"Keputusan sudah diambil, mulai hari ini Zen dikeluarkan dari sekolah. Jika anda ingin melayangkan protes yang lebih lanjut lebih baik temui tuan Bastian Lynford."


Deg! bukan hanya Ains yang terkejut ketika mendengar nama tersebut. Tapi Zen juga.


"Benar," jawab sang guru, karena dia pun tak ada instruksi untuk menyembunyikan tentang hal ini. Jadi dia utarakan semuanya.


Ainsley tergugu, merasakan dadanya yang begitu sesak. Kenapa? Kenapa keluarganya yang terken imbas.


Ains dan Zen akhirnya keluar dari ruang guru tersebut. Kini masih jam belajar, jadi para siswa dan siswa yang lain masih berada di kelas mereka masing-masing.


Sementara Zen dipaksa keluar dari sekolah tersebut, masa depannya direnggut dengan paksa.

__ADS_1


"Maafkan kakak, Zen," ucap Ainsley Lirih, dalam keadaan ini dia tak bisa menahan air matanya. Keluar lalu buru-buru dia hapus.


"Apa yang terjadi Kak? Selama ini semuanya nampak baik-baik saja, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanya Zen. Mereka masih berdiri di koridor sekolah, belum benar-benar keluar.


"Maafkan kakak, ini semua salah kak Ains," balas Ains lagi. Dia lantas menjelaskan semua yang terjadi, tak bisa lagi menutupi.


Ainsley kira Zen akan menyalahkannya, karena hanya demi cinta sampai mengorbankan keluarga seperti ini. Tapi ternyata tidak, ternyata Zen justru memeluknya.


"Tidak apa-apa Kak, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Jadi jangan merasa bersalah padaku," kata Zen.


"Tidak Zen, kakak bersalah. Pasti akan sulit mencari sekolah yang bisa menerima mu sekarang. Maafkan kakak," Ains menangis lagi, dia peluk adiknya erat.


"Aku bisa belajar dimanapun, aku tidak perlu sekolah," balas Zen, meski sedih hatinya tapi dia akan tetep mendukung kak Ains.


Ini adalah kali pertama Zen melihat kak Ains mencintai seseorang dengan begitu dalam, kebahagiaan kak Ains adalah kak Damian. Zen tak bisa memungkiri tentang hal itu.


Jika kak Ains dan kak Damian sedang berjuang, maka dia pun akan melakukannya juga.


Jangan pikir cara seperti ini membuat keluarga mereka hancur, tidak akan pernah.

__ADS_1


"Ayo kita pulang," ajak Zen kemudian. Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, akhirnya mereka meninggalkan sekolah tersebut.


__ADS_2