
Di rumah utama keluarga Lynford, mom Jilliana masih menangis mesti panggilan teleponnya dengan sang anak sudah terputus, dia bahkan menatap nanar layar ponselnya yang sudah mati.
Mon Jilliana akui rasa kecewa itu masih begitu terasaa di dalam hatinya, sebab Damian pada akhirnya tetap menikahi Ains. Tapi dia pun sungguh-sungguh tidak rela jika harus sampai kehilangan Demian dan Rachel di dalam hidupnya.
Akhirnya mom Jilliana hanya ingin pasrah, coba menerima keputusan Damian dan menerima Ains. Tapi bagaimana dengan sang suami? Dad Bastian yang telah berulang kali merasa sakit hati.
Pertama tentang keputusan Damian yang menikahi Ains, kedua tentang Damian yang justru bergabung dengan perusahaan musuh, dan yang terakhir sebab Damian lah perusahaan keluarga mereka terus mengalami penurunan.
Mom Jilliana jadi bingung, bagaimana menyikapi antara perselisihan anak dan suaminya tersebut.
"Berhenti lah menangis! Lama-lama aku muak mendengarnya," kata dad Bastian, yang sejak tadi pun ada di samping mom Jilliana. Mereka berdua duduk bersama di ruang tengah tersebut, menikmati rumah yang begitu sepi. Sesepi hati keduanya.
"Aku menyerah Dad, aku tidak bisa kehilangan Damian dan Rachel lebih lama daripada ini," kata mom Jilliana, dia sudah merasa lelah sekali dan sangat yakin jika rasa itu pun dialami oleh sang suami.
"Apa maksud ucapanmu? Aku tidak akan pernah meminta mereka berdua untuk pulang, karena mereka sendiri lah yang memutuskan untuk keluar dari rumah ini!"
"Tapi mereka keluar bukan tanpa sebab, tapi karena kita menekan ego kita sendiri."
"Kamu mulai membela dua anak durhaka mu itu?"
"Bagaimana jika kita yang durhaka Dad? selama ini mommy selalu merenung. Bagaimana jika Rachel seperti Ains, benarkah kelak Rachel tidak boleh menikahi pria yang derajatnya lebih tinggi daripada dia?" tanya mom Jilliana, sungguh pemikiran seperti itu kini mengganggu benaknya.
ketakutan demi ketakutan mulai merayap masuk ke dalam hati.
"Berhenti bicara yang tidak masuk akal, Rachel tidak akan pernah seperti Ains."
"Bagaimana Daddy bisa seyakin itu? bahkan sekarang Rachel sudah keluar dari rumah ini."
Deg! Jantung dad Bastian seketika berdenyut nyeri. Namun kepalanya terlalu keras untuk mengakui.
Sementara mom Jilliana kini mulai bertekad untuk meluluhkan hati sang suami. Bagaimanapun keadaannya, dia akan tetap berada di samping suaminya tersebut.
*
*
__ADS_1
Di tempat lain, Helena pun terus mengurung dirinya di dalam kamar. Ponselnya bahkan seharian ini mati, tak ada yang bisa menghubunginya.
Di kota ini Helena seperti sudah tidak memiliki wajah, sebab semua kata-kata yang dilontarkannya dengan sombong ternyata tidak ada satupun yang terwujud.
"Helena," panggil mama Venya seraya masuk ke dalam kamar anaknya tersebut. Helena yang sedang duduk termenung di meja riasnya langsung menoleh ke arah pintu dan melihat mamanya tersebut datang.
"Ini sudah waktunya makan malam, Kenapa kamu tidak turun?" tanya mama Venya.
"Ma, Aku tidak bisa hidup seperti ini. aku benar-benar tidak menyukai pernikahan mereka, aku ingin pernikahan itu hancur." adu Helena, hanya bisa mencurahkan semua kegundahan hatinya pada sang mama.
"Maafkan mama sayang, tapi sekarang Damian bukan tandingan kita. Keluarganya sendiri saja bisa dihancurkan demi wanita itu, apalagi keluarga kita," jelas mama Venya, tentang hal ini sudah berulang kali mereka bahas, sekarang Damian berada jauh di atas mereka. Sekutunya adalah perusahaan Davidson, dan sekarang pun pernikahan itu seperti mendapat dukungan dari publik.
Seperti kisah cinta sejati yang diinginkan oleh banyak orang. Mereka benar-benar tidak punya kesempatan untuk menyela tentang pernikahan tersebut.
Jika tetap nekat mengambil langkah yang ada justru keluarga mereka pun akan hancur.
"Jika kamu sudah tidak bisa hidup di kota servo lagi, lebih baik pergi ke luar negeri," putus mama Venya, baginya dan sang suami ini adalah keputusan yang terbaik. Daripada sang anak harus mengurung dirinya di dalam kamar seperti ini lebih baik Helena melanjutkan hidupnya di luar negeri saja.
"Mama mengusirku?" tanya Helena kemudian, tidak menyangka bahwa pada akhirnya dialah yang akan kalah.
"Ini semua demi kebaikanmu sayang. Di sini kamu sudah tidak memiliki teman, bahkan orang-orang mencemooh mu di belakang," terang mama Venya, seolah tanpa perasaan dia mengucapkan kalimat tersebut. Tapi keadaan seperti ini memang yang sekarang sedang terjadi pada Helena.
Helena tidak pernah sadar bahwa yang sekarang menimpanya adalah sebuah karma, sebab dulu dia selalu menggunjingkan tentang Ains pada orang lain. Bahkan menilainya begitu hina tanpa perasaan.
Helena menangis, dia tertunduk di meja riasnya.
"Tapi aku tidak mau pergi ke luar negeri Ma, Aku ingin tetap berada di servo."
"Kalau begitu keluarlah, jangan terus mengurung diri di dalam kamar seperti ini. Dan berhenti berpikir untuk merusak pernikahan Damian dan Ains."
Tangis Helena makin menjadi ketika mendengar ucapan mamanya tersebut, bahkan sekarang sang mama dan sang papa seperti sudah tidak berada di pihaknya lagi.
Arght! Pekik Helena di dalam hati.
Dia telah benar-benar kalah telak.
__ADS_1
"Jika kamu ingin memperbaiki kehidupanmu di Servo mulailah untuk meminta maaf dengan tulus pada Damian dan istrinya," ucap mama Venya pula, hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh oleh sang anak untuk mendapatkan kehidupannya yang dulu. Yang bebas kemanapun tanpa mendengar gunjingan dari orang.
"Apa mama tidak salah bicara? Aku mau minta maaf pada mereka? tidak akan pernah kulakukan!"
Mama Venya lantas membuang nafasnya dengan berat, "Ya sudah, semua keputusan itu ada di tanganmu sayang. Tapi mulai sekarang berhati-hatilah dalam mengambil keputusan," balas mama Venya, dia mengambil tissue yang ada di meja rias anaknya tersebut, kalu menghapus air mata Helena.
Namun gadis cantik itu justru merebut dengan kasar tissue dari tangan mamanya, dia masih ingin menangis.
*
*
Malam yang penuh dengan kebahagiaan dan kesedihan itu pun akhirnya berakhir.
Pagi-pagi sekali Damian dan Ainsley sudah merasa deg-degan, karena mereka baru saja melakukan pemeriksaan kehamilan secara mandiri.
Keduanya telah sama-sama duduk di tepi ranjang, sementara tespek itu belum menunjukkan hasilnya. Mereka menunggu sampai 10 menit sebelum melihat hasil tespek tersebut.
"Bagaimana jika aku hamil?" tanya Ains.
"Kenapa bagaimana? Aku akan sangat bahagia jika itu benar terjadi." jawab Damian, mereka saling tatap dengan intens.
"Bagaimana jika aku tidak hamil?" tanya Ains pula, malah berulang kali mempertanyakan pertanyaan yang ambigu.
"Itu artinya kita harus lebih bersemangat lagi untuk mencetak anak," jawab Damian, jadi menggoda agar istrinya tenang, karena wajah Ains yang tegang nampak jelas di raut wajahnya.
"Ini sudah 10 menit, ayo kita lihat hasilnya bersama," ajak Damian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya telat update, tadi lagi piknik 🤭
Silahkan mampir di karya baru Ratu Somplak ya ...
Judul : Terpaksa Kembali
__ADS_1
By : Itta Haruka07