Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 68 - Permintaan Sangat Banyak


__ADS_3

Di rumah keluarga Lynford, suara keras Daddy Bastian sampai terdengar oleh mom Jilliana. Seketika itu juga mom Jilliana berlari keluar dari dalam kamarnya dan menuju sumber suara.


Dilihatnya sang suami berdiri di ruang tengah dengan raut wajah yang nampak penuh amarah.


"Dad, apa yang terjadi? kenapa Damian? Dimana dia?" tanya mom Jilliana bertubi, jadi cemas sendiri. Tadi dia bisa mendengar dengan jelas jika suaminya berteriak menyebut nama sang anak, tapi ternyata di ruangan ini tidak ada siapapun selain suaminya sendiri.


Dimana Damian?


Dan belum sempat dad Bastian menjawab, Rachel pun sudah turun dari atas tangga menghampiri keduanya. Dia sampai terbangun karena mendengar suara keras milik sang ayah.


"Dad, Mom, ada apa?" tanya Rachel lirih.


Dan Daddy Bastian hanya mampu mengepalkan kedua tangannya kuat. Damian benar-benar telah mengambil langkah yang keterlaluan.


"Tidak ada apa-apa sayang, naiklah lagi ke kamarmu," ucap Daddy Bastian pada sang anak gadis.


Rachel pun mengangguk-anggukkan kepala saja, karena dia sungguh tak tau apapun.


"Ada apa Dad? Dimana Damian?" tanya mom Jilliana dengan suara lirih, ketika Rachel telah pergi meninggalkan mereka berdua di sini.


"Damian pergi dari rumah ini, dia tetap bersikeras ingin menikahi Ainsley."


"Astaga, Bagaimana Damian bisa punya pemikiran seperti itu?" terkejut mom Jilliana.


"Tidak perlu membujuk dia untuk pulang, aku justru akan membuatnya semakin menderita," balas Dad Bastian. Sekarang Damian bukan anak-anak lagi, dia tak akan segan memberikan pelajaran.


Apalagi disaat Damian jadi pembangkang seperti ini. Bagi dad Bastian kini sang anak hanya sedang tersesat, kelak Damian pun akan berterima kasih atas semua yang telah dia lakukan.


Bahwa menikah dengan seseorang yang setara adalah keputusan yang paling tepat. Tak bisa diganggu gugat. Karena hal ini pun menyangkut masa depan keturunan keluarga Lynford selanjutnya.


*


*


Di rumah Ainsley.

__ADS_1


Zen membayar tagihan taksi kak Damian, dia juga mempersilahkan pria itu untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang sepi sekali karena semua penghuninya sudah terlelap.


Ainsley juga sudah tidur, tubuhnya masih lemas setelah dihajar selama 2 jam-an di apartemen oleh Damian tadi.


Bibi Ema, Rora, Amara dan Joshua juga sudah tidur.


Zen masih belajar karena itulah dia terjaga seorang diri.


"Aku akan tidur di sofa ruang tamu," kata Damian, meski tak enak hati tapi dia tidak tau kemana harus pergi. Meski sebenarnya bisa datang ke apartemen Aldian ataupun Marcel, tapi tetap saja tidak terpikir. Hanya rumah ini lah yang paling membekas diingatan.


"Jangan kak, tidur di kamarku saja, ada kasur lantai yang bisa kak Damian pakai," balas Zen dengan cepat.


Damian menurut saja, saat itu juga Zen meminjamkan setelan baju santai miliknya untuk sang kakak. Meski terlihat kekecilan di badan Damian, tapi baju ini terasa lebih nyaman dibandingkan baju kerjanya tadi.


Zen lantas merapikan bukunya, dan ikut tidur juga. Tidak ingin menganggu kak Damian jika kembali melanjutkan belajar.


Biasanya Zen adalah yang paling tidak perduli dengan kak Damian, tapi entah kenapa malam ini Zen tak bisa bersikap seperti itu.


"Kenapa malam-malam begini kak Damian datang ke sini? Seperti sedang diusir dari rumah saja," tanya Zen. Dia tidur di atas ranjangnya, sementara kak Damian tidur di bawah, di kasur lantai.


"Ya sudah ayo tidur," ajak Zen pula.


Pagi pun datang dan semua orang dibuat terkejut saat melihat Damian keluar dari dalam kamar Zen.


Dari semua orang itu yang paling terkejut adalah Ainsley, apalagi sekarang dia masih menunjukkan muka bantalnya.


"Kya!" pekik Ainsley pula.


"Kenapa kak Damian ada di sini?" tanya Ainsley, kaget, heran gugup dan malu.


"Semalam kak Damian menginap di sini kak." Zen yang menjawab.


Ainsley kini jadi ingin tertawa saat melihat sang kekasih yang memakai baju kekecilan seperti itu. Diam-diam Ainsley pun mengulum senyum.


"Astaga, kenapa tidak bilang dari semalam. Bibi kan jadi kaget juga," sahut bibi Ema.

__ADS_1


"Ains, beri baju olah ragamu pada Damian. Sepertinya baju itu akan muat untuknya," titah bibi Ema lagi dan Ainsley hanya mampu mengangguk.


Di saat anak-anak sedang sibuk sendiri, Ainsley membawa kak Damian masuk ke dalam kamarnya. Bukannya langsung mengambil baju olah raga, keduanya justru olah raga yang lain. Mencium ganas dan permainan singkat.


"Kenapa kak Damian menginap di sini? Pasti ada sesuatu," tanya Ains, nafasnya masih terengah. Tapi dia menyerahkan baju ganti yang bisa kak Damian pakai pagi ini, setidaknya untuk ganti setelah mandi.


"Tidak usah banyak tanya, sekarang mandilah dulu. Aku akan mandi di kamar Zen."


Ainsley mengangguk dan mengulum senyum. Mereka berpisah dengan tubuh yang masih sama-sama berdesir.


Tiba di kamar Zen, Damian langsung menghubungi Marcel melalui sambungan telepon. Tapi ternyata nomor ponselnya pun sudah terblokir. Tak bisa dia gunakan.


Ulah siapa lagi ini jika bukan sang Daddy, pasalnya nomor ponsel Damian pun banyak digunakan untuk akses bisnis.


Damian terpaksa keluar lagi dari kamar Zen tersebut, dia kembali ke kamar Ains dan mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi sana. Damian mengambil ponsel milik Ains untuk menghubungi nomor Marcel.


Sejak awal Damian memang tak ingin menceritakan masalah yang dia hadapi ini pada Ains dan keluarganya, Damian tak ingin semakin memperkeruh keadaan.


"Astaga, lama sekali kamu menjawab telepon ku. Ini aku Damian," ucap Damian ketika panggilannya mendapatkan jawaban.


"Ku pikir siapa, ini nomor siapa?" tanya Marcel pula.


"Ains."


"Oh."


"Kirim mobil, sopir, baju ganti dan satu kartu kreditmu untukku. Alamatnya akan ku kirimkan."


"Hem," jawab Marcel singkat, malas bertanya, nanti juga Damian pasti akan menceritakan semuanya.


Setelah panggilan itu terputus, Marcel baru sadar bahwa permintaan Damian sangat banyak.


"Mobil, sopir, baju ganti dan kartu kredit? Apa dia benar-benar keluar dari rumah?"


Deg! Seketika jadi tersentak kaget.

__ADS_1


__ADS_2