
Hari pun bergulir.
Hampir seminggu Ainsley dan keluarganya bersiap untuk pembukaan minimarket mereka. Minimarket yang akhirnya diberi nama Zen Minimarket.
Hari ini adalah hari pertama minimarket itu dibuka untuk umum. Ainsley memasang papan diskon berukuran besar di dekat jalan raya. Tulisan yang begitu mencolok dan mencuri perhatian semua orang.
Damian memang tidak ada di sana untuk menemani Ains, tapi pria itu selalu mendapatkan foto-foto Ains dari Amara. Ya, Damian dan Amara sudah jadi seperti partner. Diantara adik-adik Ains, Damian paling dekat dengan Amara dan Rora. Sementara dua pria adik Ains yang lain seolah jadi musuh untuknya.
Entah karena apa, tapi Zen dan Joshua benar-benar sulit untuk Damian taklukan.
"Dam, pinjam ponselmu sebentar. Aku ingin membuka kalkulator," pinta Helena. Saat ini mereka memang sedang bersama. Baru saja ada rapat 3 bulanan yang dihadiri oleh keduanya.
Tanpa pikir panjang Damian pun menyerahkan ponselnya tersebut, sedangkan Helena bergerak tanpa sedikit pun terlihat mencurigakan. Helena tidak benar-benar membuka kalkulator di dalam ponsel tersebut, Helena justru melihat log panggilan dan pesan. Sampai akhirnya dia lihat satu nama seorang wanita yang sering sekali dihubungi oleh Damian.
Tanpa pikir panjang dia menyimpan nomor ponsel tersebut, seorang wanita yang Damian beri nama Ains.
"Ini, terima kasih ya," kata Helena dengan santainya, bahkan masih tersenyum dan nampak ceria seperti biasanya.
Senyum yang juga mampu membuat Damian tersenyum, bagaimana pun selama ini mereka memang tumbuh dewasa bersama.
__ADS_1
"Hem, apa yang kamu hitung?"
"Beberapa poin di dalam rapat tadi."
"Apa ada yang salah?"
"Tidak, semuanya pas."
Damian pun mengusap puncak kepala Helena dengan lembut, tanda bangganya pada Helena.
Tapi perlakuan tersebut disalahartikan oleh Helena, yang beranggapan bahwa ini adalah cinta.
*
*
Di Zen Minimarket, Ainsley menjaga meja kasir seorang diri. Toko itu telah dilengkapi oleh CCTV jadi sudah bisa dipastikan keamanannya.
Meski lelah tapi Ainsley merasa senang sekali, karena ternyata begitu banyak pengunjung yang datang meskipun ini masih hari pertama toko di buka.
__ADS_1
Ainsley tidak tahu bahwa diam-diam Damian adalah salah satu alasan toko tersebut memiliki banyak pengunjung, Damian mempromosikan Zen Minimarket di jaringan yang lebih luas, tersebar di semua media sosial bahkan beberapa influencer menyebut dalam siaran langsung mereka. Sebuah cara yang belum mampu Ainsley lakukan, tapi Damian telah melakukannya.
Hingga malam hari tapi masih nampak aktivitas jual beli di dalam toko tersebut, sampai Zen ikut gantian menjaga di meja kasir. Ternyata ketampanan remaja tersebut jadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang banyaknya adalah para wanita.
Diam-diam Ainsley yang duduk di ruang istirahat tersenyum memperlihatkan sang adik.
Sampai akhirnya perhatian Ainsley teralihkan ketika dia mendengar suara ponselnya berbunyi tanda ada pesan singkat yang masuk, Ting!
Nomor baru.
Ainsley membukanya dan melihat sebuah foto di dalam sana. Foto Tuan Ford dengan seorang wanita yang entah siapa. Keduanya saling memeluk dengan erat.
Deg! Entah kenapa jantung Ains berdenyut ketika melihat foto tersebut, seperti sakit hati tapi juga tak punya hak lebih.
"Nomor siapa ini, kenapa mengirimkan foto seperti ini padaku," gumam Ains.
Dia pilih untuk segera menghapus pesan tersebut, tak ingin berpikir terlalu jauh. Tapi Ainsley hanya manusia biasa, dia bahkan tak bisa mengendalikan pikirannya sendiri.
Siapa wanita itu? Apa kekasih tuan Ford? tapi bagaimana bisa nomor ku tersebar? siapa yang mengirimkan pesan itu?
__ADS_1
Lihatlah, jadi banyak sekali pertanyaan di dalam kepalanya.