
Ting! satu notifikasi tanda pesan masuk di ponsel Ains membuat ciuman itu jadi terjeda.
"Lihatlah," kata Damian dan Ainsley mengangguk.
Saat Ainsley melihat pesan tersebut kedua matanya sedikit melebar, pasalnya dia lihat ada pesan masuk dari Eric.
Apa malam ini kita bisa bertemu? Tanya Eric dalam pesan singkatnya.
Deg! jantung Ains seketika berdenyut nyeri, karena baru seperti ini saja Dia sudah merasa sedang menjalin hubungan dengan pria lain di belakang kak Damian. Ainsley seperti sedang berselingkuh.
Karena gugup Ains buru-buru menghapus pesan singkat itu, bahkan sudah dihapusnya di saat dia belum sempat membalas.
"Siapa?" tanya Damian, dia memeluk Ains dari belakang.
"Pesan spam, aku sudah menghapusnya," jawab Ainsley bohong.
Glek! Ainsley lantas menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Mau mandi bersama?" ajak Damian dan Ainsley langsung mengangguk tanpa pikir panjang.
Sore dengan angin sepoi-sepoi yang terasa dingin di kota Servo itu berubah jadi panas untuk Ains dan Damian.
Di dalam kamar mandi sana, Damian melepaskan satu persatu kaiin yang menutupi tubuh Ains, sampai benar-benar pollos dan tak bersisa sedikitpun.
Tubuh Ains sudah berdesir, darrahnya terasa mengalir lebih deras saat ditatap intens seperti itu oleh sang kak Damiannya.
Ainsley yang malu pun langsung memeluk lebih dulu, agar kak Damian berhenti menatapi tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa masih malu juga? Aku bahkan sudah sering melihat dan merasakannya," goda Damian.
"Kak," rengek Ains pula.
Di bawah guyuran shower keduanya memadu kasih, mencari nikmat diantara rasa bahagia yang sedang menguasai jiwa.
*
*
Malam ini juga Helena menemui Megan untuk membalas rasa sakit hatinya. Dia sungguh tak terima melihat Megan, Aldian dan Marcel mendukung hubungan Damian dan Ainsley. Dia merasa sangat dikhianati tentang hal ini.
Jadi malam ini juga dia langsung mendatangi apartemen Megan. Untunglah saat itu Megan ada di apartemennya, tidak pergi kemanapun.
"Helena," ucap Megan saat dia lihat wanita itu berdiri tepat di depan pintu apartemennya. Megan belum membuka pintu, masih melihat Helena melalui kamera yang tersedia di sana.
"Berisik Hel," ucap Megan setelah dia membuka pintu.
Helena langsung mendorong Megan hingga mereka berdua masuk ke dalam apartemen tersebut.
"Hya! Jaga sikapmu!" kesal Megan, ini apartemennya tapi Helena justru bersikap seenaknya.
"Apa kamu gila? Kenapa hadir di acara pertunangan Damian dan Ains! hapus semua foto-foto mu itu!" bentak Helena pula.
Namun bukannya takut, Megan justru tertawa. "Sadar Hel, Damian tidak pernah mencintai kamu. Sadarlah dari halusinasi mu sendiri," balas Megan tak kalah sengit.
Helena ingin menampar Megan, namun Megan dengan cepat menahan tangan yang telah melayang tersebut. Bahkan kini Megan balik mendorong Helena sampai gadis itu terhuyung dan nyaris jatuh.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat menyedihkan Hel, sekarang teman-teman kita pasti tau bahwa calon istri Damian adalah Ains, bukan kamu." Megan tertawa lagi dan Helen makin frustasi.
Benar saja, sejak tadi ponselnya pun berisik dengan teman-temannya yang mengkonfirmasi tentang kabar pertunangan itu.
Dulu Helena sudah memamerkan pada semua orang bahwa dia adalah calon istri Damian, tapi sekarang malah ada keadaan yang menjijikkan seperti ini.
"Kurang ajar! Jadi kamu sengaja menyebar foto itu untuk mempermalukan aku hah?!" maki Helena.
"Tidak ya, untuk apa aku mempermalukan kamu. Itu tidak penting. Aku memposting foto merek karena merasa bahagia atas pernikahan Damian dan Ains yang tinggal menghitung hari." Megan tersenyum lagi dan makin benci lah Helena dibuatnya.
"Kurang ajar!" maki Helena, dia menyerang Megan dan mencambak rambutnya.
Megan tak tinggal diam, Dia pun membalas hingga terjadi perkelahian.
Mencambak, memukul dan bahkan mendendangkan kaki.
Sampai akhirnya keduanya sama-sama ambruk. "Aku akan mengadukanmu pada Aldian," rengek Megan yang sudah menangis. Dia juga langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sang kekasih.
Sementara Helena sudah tak berdaya, kepalanya sakit sebab Megan menjambaknya dengan sangat kuat, dia habis tenaga dan merasa sakit hati.
Helena juga menangis, menatap langit-langit apartemen ini dengan pikiran yang terus benci pada Ains.
"Semuanya gara-gara jallang itu, jallang yang sudah menghancurkan hidupku."
"Berhenti menyalahkan Ains, sejak awal Damian memang tidak pernah mencintai kamu. Semua itu hanya hayalanmu saja."
"DIAM!" pekik Helena.
__ADS_1