Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 83 - Wajah Asli


__ADS_3

Helena mendatangi Zen minimarket saat jam menunjukkan jam 3 sore. Dia datang ke sana untuk menemui Rachel dan meminta gadis itu pulang ke rumahnya saja. Tante Jilliana dan om Bastian sudah tidak bisa diharapkan, jadi sekarang Helena bergerak sendiri.


"Rachel," panggil Helena saat dia sudah masuk ke dalam toko tersebut, dia lihat Rachel sedang berdiri di meja kasir bersama Zen. Hanya ada mereka berdua di sana.


"Kak Helena," sapa Rachel pula, dia senang bisa melihat kak Helena ada di sini.


"Ayo bicara sebentar," ajak Helena dan Rachel langsung mengangguk patuh. Sebelum keluar dia izin dulu pada Zen.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kakak jika memutuskan untuk keluar dari rumah seperti kak Damian?" tanya Helena, sekarang mereka sudah duduk di kursi yang tersedia di sana.


"Maaf Kak, ku pikir kak Helena juga pasti sibuk. Jadi aku langsung pergi ke tempat kak Ains."


"Mereka itu orang asing Rachel, bagaimana bisa kamu ikut tinggal di rumah itu. Lebih baik sekarang juga ikut pulang ke rumah Kakak," balas Helena, langsung mengambil keputusan seperti itu.


"Mereka bukan orang asing kak, Kak Ains adalah calon istri kak Damian. Nanti kami akan jadi saudara," balas Rachel pula.


Sebuah jawaban yang membuat Helena langsung membuang nafas kasar. "Mereka tidak mungkin menikah tanpa restu mommy dan Daddy mu, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi," yakin Helena.

__ADS_1


Namun belum sempat Rachel menjawab lagi, tiba-tiba ada suara Ainsley yang terdengar memanggil namanya, "Rachel," panggil Ains yang baru saja keluar dari dalam toko.


Ainsley dia juga melihat ketika Helena datang, Ains menyusun beberapa barang di toko yang berantakan. Melihat keduanya bicara dengan serius, Ains pun datang menghampiri.


"Kak Ains," jawab Rachel, dia langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di samping kak Ainsley.


Helena juga ikut bangkit dan menghadapi Ainsley. "Aku ingin menjemput Rachel, biar dia tinggal di rumahku saja," ucap Helena.


"Apa iya Rachel? Kamu ingin ikut kak Helena?" tanya Ains pula.


"Tidak Kak, aku akan tetap tinggal di rumah kak Ains seperti keinginan Kak damaian," jawab Rachel apa adanya. Di rumah kak Ains membuatnya nyaman, ada Rora dan Amara yang membuatnya bisa melupakan kedua orang tuanya. Rachel tak ingin pergi.


"Ya ampun Ains, Kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini. Harusnya kamu menasehati dia untuk mau ikut denganku," mohon Helena, kembali memasang wajahnya yang sendu.


"Untuk apa aku meminta Rachel ikut denganmu? Sementara aku pun bisa menjaga dia."


"Menjaga? dengan menjadikannya karyawan di tokomu?" balas Helena, "Aku tau kamu dan kak Damian sedang berusaha untuk mendapatkan restu om Bastian dan Tante Jilliana, tapi jangan mengorbankan Rachel seperti ini," timpalnya kemudian.

__ADS_1


Dan entah kenapa, kini Ains tak mampu menjawabnya.


"Kak Helena kenapa terus menyudutkan kak Ains seperti ini? padahal aku yang memaksa untuk boleh bekerja di toko," ucap Rachel.


Ains tak bisa menjawab apapun lagi, dia hanya mampu mengelus puncak kepala Rachel dengan lembut.


Sebuah interaksi yang membuat Helena muak.


"Baiklah jika kamu tidak mau pulang, tapi jika butuh apapun hubungi kakak," ucap Helena pula, masih terus memakai topeng agar dia nampak baik.


"Terima kasih sudah menjaga Rachel, Ains," sambung Helena pula.


"Tidak perlu berterima kasih, Hel. Lagipula Rachel bukan orang asing bagiku, dia adalah calon adik iparku," jawab Ains dengan bangga.


Membuat Helena mengepalkan kedua tangannya erat.


"Hem, ku harap kamu segera mendapatkan restu om Bastian dan Tante Jilliana."

__ADS_1


"Kami tidak membutuhkan restu mereka, siap-siap saja mungkin sebentar lagi undangan pernikahan kami akan sampai di rumah mu." balas Ains, mengada-ada.


Dan hal itu berhasil membuat Ainsley melihat Helena yang tersenyum miring, akhirnya, Ainsley benar-benar bisa melihat wajah asli wanita tersebut.


__ADS_2