
Malam pun bergulir hingga pagi akhirnya menyapa, saat anak-anaknya sudah menjaga sang suami, Mom Jilliana pamit untuk pergi sebentar.
Mom Jilliana mengatakan bahwa dia akan pulang, tapi sebenarnya tidak. Tempat yang dia tuju sebenarnya bukanlah rumah utama melainkan rumah bibi Ema.
Mom Jilliana percaya bahwa dari semua orang bibi Ema adalah yang merasa paling sakit hati dari perselisihan yang pernah terjadi di antara keluarga mereka.
Pasalnya, orang tua mana terima ketika hidup anaknya dipermainkan oleh orang lain. Bahkan Zen sampai harus keluar dari sekolahnya.
Dan sekarang di sinilah mom Jilliana berdiri, tepat di depan rumah bibi Ema dan mengetuk pintu tersebut.
Dia memang sengaja datang tanpa berkata apapun lebih dulu pada Ains dan Damian, sebab benar-benar ingin mendapatkan maaf dari bibi Ema secara tulus. Mom Jilliana tidak ingin bibi Ema memaafkannya karena permintaan Ains.
Tak berselang lama setelah Dia mengetuk, akhirnya pintu itu pun terbuka. Bibi Ema sendiri lah yang membukanya, langkap dengan Aurora di gandengan tangannya.
Deg! Melihat Jilliana datang, bibi Ema tentu sangat terkejut apalagi jika ingat saat ini dia sedang di rumah sendirian. Zen pergi ke rumah Ains dan hingga sekarang belum pulang, sementara Amara dan Joshua telah pergi ke sekolah.
"Maaf, untuk apa Anda datang ke sini?" tanya bibi Ema, dia tidak mempersilahkan sang tamu untuk masuk. Selama ini bibi Ema memang selalu memendam sakit hatinya sendiri, bahkan tidak pernah menunjukkannya di hadapan anak-anak.
Tapi sekarang Dia sedang sendirian, jadi bibi Ema akan jadi dirinya sendiri dengan hati yang masih begitu membenci pada wanita ini.
"Bolehkah aku masuk lebih dulu?" tanya mom Jilliana, dia telah bicara dengan suaranya yang terdengar pelan.
"Untuk apa anda datang? jika ingin membicarakan sesuatu yang tidak penting lebih baik katakan di sini saja," balas bibi Ema, dia sudah menerka bahwa kedatangan wanita ini untuk meminta padanya agar bantu memisahkan Ains dan Damian. Sungguh, sampai kapanpun dia tidak akan pernah melakukan itu. Bibi Ema tidak akan pernah merenggut kebahagiaan dari anaknya. Apalagi saat ini Ains tengah mengandung.
"Aku ingin meminta maaf atas semua perbuatanku selama ini, aku sudah menyakiti kalian semua," kata mom Jilliana akhirnya, masih berdiri di ambang pintu itu akhirnya dia utarakan alasan kedatangannya kemari. "Aku mohon maafkan aku Ema," pinta mom Jilliana pula, dia bahkan telah siap untuk bersimpuh.
__ADS_1
Namun saat tubuhnya hendak luruh, bibi Ema dengan cepat menahan tubuhnya.
"Apa yang mau kamu lakukan?!" tanya bibi Ema dengan keterkejutan yang luar biasa. Suaranya yang tinggi bahkan membuat Rora merasa ketakutan.
Balita itu akhirnya menangis.
"Huwaa," tangis Rora dan membuat bibi Ema serta mom Jilliana jadi sama-sama bingung. Bibi Ema lantas mengabaikan begitu saja keberadaan Jilliana, dia langsung menggendong Rora untuk menenangkannya.
"Sst sstt sstt, sudah sudah. Maafkan bibi sayang," kata bibi Ema.
Dan mom Jilliana yang ingin menenangkan Rora pun akhirnya masuk ke dalam rumah juga. Pada akhirnya tanpa sadar mereka jadi sama-sama duduk di ruang tamu.
Setelah tangis Rora mereda, keduanya jadi kembali diselimuti oleh rasa canggung. "Aku datang untuk memohon maaf darimu Ema, aku akui semua perbuatanku selama ini salah, sangat salah," mohon mom Jilliana lagi.
"Bagus jika kamu sadar, tapi satu hal yang harus selalu kamu ingat. Gelas yang sudah pecah meski diperbaiki bagaimanapun upayanya tetap tak akan bisa kembali seperti semula," balas bibi Ema, masih bicara dengan nada sinis, seolah tak mudah mendapatkan maaf darinya.
Hingga sejenak membuat bibi Ema terdiam.
"Aku sudah memaafkanmu, tapi sekali saja kamu menyakiti anak-anakku lagi, maka aku tak akan segan untuk membalas," jawab bibi Ema pula.
Jika menuruti keinginan hatinya sendiri Bibi Ema masih belum ingin memaafkan wanita tersebut, tapi sekarang hidupnya pun bukan tentang dirinya sendiri tapi tentang keluarga besarnya. Dan saling memaafkan dengan Jilliana serta Bastian adalah mimpi Ains sejak dulu.
Ains yang selalu menciptakan keluarga di sekitarnya.
"Terima kasih Ema, terima kasih. Maafkan aku," balas mom Jilliana pula, kini bahkan dia tidak segan untuk menangis.
__ADS_1
"Berhentilah untuk meminta maaf, aku hanya akan melihat perubahan seperti apa yang akan kamu tunjukkan," balas bibi Ema pula. Jika dihadapan Ains dan Damian mana berani bibi Ema bersikap dingin seperti ini, apalagi di hadapan Zen.
Namun karena sekarang dia sedang sendiri, maka bibi Ema bisa melakukan apapun untuk melindungi keluarganya.
Hampir 30 menit mom Jilliana berada di sana dan akhirnya memutuskan untuk pamit. Dia tidak mengatakan bahwa saat ini suaminya tengah dirawat di rumah sakit.
Bibi Ema tahu tentang kabar itu ketika sore hari tiba, di saat Ains, Damian dan Zen datang ke rumah ini.
"Daddy Bastian masuk ke rumah sakit, Bi. beliau mendapatkan serangan jantung," terang Ains.
Bibi Ema tentu cukup terkejut mendengar kabar tersebut. Apalagi tadi pagi dia bertemu dengan Jilliana dan wanita itu tidak mengatakan apapun tentang kondisi kesehatan Bastian.
"Ya Tuhan, lalu bagaimana kabar dia sekarang?" tanya bibi Ema.
"Kondisinya sudah mulai stabil, tapi Dad Bastian masih harus dirawat di rumah sakit. Jika 2 hari kedepan kondisinya semakin membaik maka beliau sudah diizinkan untuk pulang," jelas Ains pula, sementara Damian berulang kali menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan sang istri.
Zen sudah masuk ke dalam kamarnya, jadi dia tidak ikut bicara di ruang tengah ini.
Dan bibi Ema sesaat tergugu, dia menyusun benang merahnya sendiri. Tentang kenapa Jilliana tadi pagi datang ke sini dan sekarang Ains mengatakan bahwa dad Bastian masuk rumah sakit.
Ains dan Damian pasti sudah saling memaafkan dengan Jilliana dan Bastian.
"Daddy Bastian dan mom Jilliana sudah meminta maaf untuk semua yang terjadi Bi, kami sangat mensyukuri tentang hal ini," kata Ains lagi.
Bibi Ema mengangguk, jika tadi dia begitu keras pada Jilliana, tapi kini bibi Ema begitu lembut pada anaknya. Apalagi Ains juga mengatakan jika mereka telah saling memaafkan sebelum tentang kehamilan ini dikuak. "Syukurlah, bibi juga senang mendengarnya sayang," jawab bibi Ema.
__ADS_1
"Semoga setelah ini, hanya kebahagiaan yang akan menyertai keluarga kita," timpal bibi Ema.
"Amin," kata Ains. Sementara Damian mengucapkan Amin di dalam hati.