Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 94 - Calon Suamiku Sangat Posesif


__ADS_3

Eric tersenyum lebar saat dia lihat Ains yang nampak terkejut, kedua mata berwarna biru itu kini jadi semakin melebar.


Gadis yang baru dia ketahu bahwa nama panjangnya adalah Ainsley, tau darimana? Tentu dari semua berita yang sudah tersebar luas.


Glek! Ains sampai menelan ludahnya sendiri dengan kasar saat mendengar ucapan Eric tersebut, tentang dia yang harus membayar hutang.


"Tunggu dulu," kata Ains kemudian. Dia mengambil lebih dulu menghubungi seseorang, lalu kembali menghadap ke arah Eric.


Entah siapa yang tadi di hubungi oleh Ains, Eric tidak mengetahuinya.


"Silahkan duduk lebih dulu, mau duduk di dalam atau di depan?" tanya Ains.


"Di depan saja, apa aku harus menunggu?" tanya Eric pula.


"Hem, 10 menit saja," pinta Ains.


Eric mengerutkan dahi, seketika menatap curiga pada gadis ini. Pasalnya gelagat Ains memang sangat mencurigakan.


"Nanti ku antar kopi dan makanan," kata Ains pula, karena dilihatnya Eric yang belum beranjak.


"Tingkah mu sangat mencurigakan," celetuk Eric kemudian dan membuat Ains jadi gugup sendiri.


Eric lantas keluar dan pilih untuk duduk di sana, teras yang cukup besar dan ada sebuah pohon di pinggiran toko membuat suasana siang itu tidak terlalu panas, justru terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoinya.


Eric benar-benar menghitung waktu yang diminta oleh Ains, yaitu 10 menit.


1 menit telah lewat.


Lalu 2 menit dan 3 menit, 4 menit lalu 5 menit.


Dan tepat di menit ke 10 Ains terlihat berlari keluar dari toko hendak menghampiri dia.


Tapi tidak, ternyata Ains tidak langsung menuju mejanya, melainkan berlari menuju area parkir.


"Pak Juan!" panggil Ains, Eric juga mampu mendengar panggilan tersebut.


Siapa pak Juan? Batin Eric, dia tak mengenal pria asing tersebut.


Setelah menyambut pak Juan, akhirnya Ains menghadap pada Eric. Pak Juan bahkan tidak datang sendirian, dia datang bersama penari striptis yang saat ini bekerja di Paradise Club.

__ADS_1


Mereka semua duduk di sana dan membuat Ains bingung. "Maaf Eric, aku tidak bisa membayar hutang berupa layanan seperti dulu. Jadi aku akan mengembalikan uangmu," kata Ains, dia menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning pada pria tersebut.


"Ini adalah pak Juan, manajerku dulu. Jika kamu tidak terima dengan keputusan ku, maka pak Juan yang akan kamu hadapi," kata Ains lagi.


Dan percayalah, kini Eric sangat tercengang.


"Perkenalkan saya adalah Juan, manager Paradise Club. Dan ini Salsa, dia penari striptis terbaru di Club saya. Dia bisa melayani anda untuk menggantikan Ains," jelas pak Juan pula.


Pak Juan juga telah mendengar kabar bahagia tentang pernikahan Ains dan Damian, karena itulah saat Ains menghubungi meminta bantuan seperti ini dia langsung setuju untuk membantu.


Eric lantas tertawa kecil, "Astaga," gumamnya dengan perlahan. Sumpah tak menyangka jika Ains akan menganggapi seserius ini semua candaaanya.


Eric memang tertarik pada Ains, tapi dia tidak segila itu untuk melakukan hal yang lebih daripada ini.


Dan sekarang tanpa Ains sadari tingkahnya itu justru nampak semakin lucu di mata Eric.


"Aku akan menerima uang ini saja, dan menganggap hutang Ains lunas," ucap Eric, dia mengambil amplop itu dan mengangkatnya hingga setara dengan wajah. Eric tau Ains begini karena tak ingin Damian salah paham.


Beruntung sekali pria itu bisa mendapatkan Ains. Batin Eric.


"Benarkah?" tanya Ains, terkejut dan bahagia jika semuanya bisa diselesaikan dengan mudah. Padahal pikirannya sudah jauh kemana-mana. Takut hal ini membuat sang calon suami jadi salah paham.


"Hem, sebenarnya kamu masih punya hutang lagi, mana kopi dan makananku?" tanya Eric.


Ains tersenyum kikuk, kini seperti dia harus berhati-hati dalam berucap, kata-kata sederhana bisa begitu membekas diingatan orang lain. Dan bisa jadi kelak akan membuatnya terikat.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan menyajikannya untuk kita semua," jawab Ains pula.


Dia membawa 4 minuman dan 4 porsi makanan untuk makan siang mereka berempat.


Salsa yang genit pun langsung memberikan nomor ponselnya pada Eric.


"Bagaimana kabar bibi Ema?" tanya pak Juan diantara sela-sela kebersamaan mereka.


"Baik Pak, jika ada waktu berkunjung lah ke rumah," jawab Ains pula.


Dan pak Juan pun hanya mengangguk seraya tersenyum kecil.


"Apa kita masih bisa berteman Ains?" tanya Eric.

__ADS_1


"Tidak, karena calon suamiku sangat posesif," jawab Ainsley gamblang dan hal itu memicu tawa semua orang.


"Jadi temanku saja," sahut Salsa dengan manja.


"Baiklah, nanti malam aku akan datang ke Club," jawab Eric, dia memang selalu hangat pada semua wanita.


Foto-foto Ainsley siang ini tentu langsung sampai pada Damian, karena pria itu telah memerintahkan Rania untuk melaporkan semua aktivitas sang calon istri secara rinci.


Awalnya tentang Eric memang Rania anggap biasa-biasa saja, tapi sekarang karena perintah sang Tuan jadi dia laporkan juga.


"Ains tidak pernah cerita tentang pria ini," gumam Damian. Lalu makin berkerut dahinya saat melihat ada pak Juan di sana.


Cemburu seketika menyelimuti hati Damian, takut jika pria itu terikat dengan Ains di masa lalu. Takut jika Eric adalah salah satu pelanggan Ains yang memiliki kedekatan tersendiri.


Mulai cemas, jadi Damian pun langsung keluar dari ruang kerjanya dan memutuskan untuk pergi. Dia segera menuju Zen Minimarket.


Namun saat tiba di sana, orang-orang itu sudah tak ada. Ains pun telah masuk dan berjaga di Meja kasir.


"Kak Damian," sapa Ains, kaget dan bahagia sekaligus.


"Tapi kan sekarang belum waktunya kita pulang, kenapa kakak datang?" tanya Ains, dia keluar dari meja kasir dan menghadap pada sang kekasih.


"Aku lelah, tiba-tiba ingin istirahat di sampingmu," jawab Damian.


Ainsley terkekeh kecil, lalu menarik sang calon suami untuk masuk ke ruang istirahat di toko ini. Sebelum pergi dia lebih dulu pamit pada kak Rania.


Masuk ke ruang istirahat itu, Ains langsung menutup dan mengunci pintu, dia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini, jadi berjaga-jaga adalah keputusan yang tepat.


"Apa siang tadi ada seseorang yang menemui kamu?" tanya Damian, kini dia sudah tertidur di sofa dengan kaki Ains sebagai bantalan.


Glek! Ditanya seperti itu Ains langsung menelan ludahnya dengan kasar. Bingung harus jujur atau bohong lagi.


Tapi sekarang ketakutan itu jadi makin berkali-kali lipat.


"Iya ada," jawab Ainsley akhirnya, ternyata dia tak bisa menjawab dusta, sebab jantungnya seperti ingin meledak jika dia menyembunyikan sesuatu dari kak Damian.


"Siapa?"


"Eric Fuller, dia itu salah satu pelanggan ku dulu. Ada sedikit masalah jadi tadi pak Juan datang juga ke sini. Sekarang semuanya sudah beres," terang Ains panjang lebar, dahinya juga sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.

__ADS_1


Ainsley mana tau jika Damian tersenyum kecil saat mendengar dia bicara. Damian bersyukur karena Ains tidak bohong.


__ADS_2