
Helena tersenyum lebar ketika melihat seluruh keluarga Lynford mendatangi rumah pellacur tersebut. Di dalam benaknya sudah penuh dengan pikiran tentang Tante Jilliana yang akan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi jallang itu.
Tadi, Helena sudah pulang ke rumahnya tapi dia langsung pergi lagi ketika mendapat laporan anak buahnya bahwa seluruh keluarga Lynford pergi entah kemana. Dugaan Helena semua orang itu akan datang ke sini dan ternyata dugaannya benar 100 persen.
Tante Jilliana memang calon mertuaku yang paling terbaik, batin Helena yang kini merasa sangat bahagia.
Kebahagiaan itu sampai membuatnya tak mampu membaca raut wajah yang tergambar jelas pada Tante Jilliana, bukan seseorang yang penuh dengan amarah melainkan tatapan sendu seolah tidak sabar untuk bertemu.
Zen akhirnya membuka pintu rumahnya tersebut, langsung dia lihat om Ford berdiri tepat di depan sana. Sebelum mempersilahkan semua orang untuk masuk, Zen lebih dulu menatap dingin ke arah pria dewasa tersebut.
Tatapan yang artinya adalah 'Jangan sampai menyakiti kakakku!'
"Silahkan masuk," ucap Zen akhirnya, dia membuka pintu dengan lebih lebar. Lalu terkejut ketika melihat seorang gadis yang tak asing baginya, yaitu Rachel.
Dunia ini ternyata sangat sempit, Sekolah mereka saling berhadapan. SMA negeri dan SMA Swasta yang selalu berselisih, dan ternyata kini mereka dipertemukan dalam keadaan seperti ini.
Tadi kak Damian memang sudah menyebut semua anggota keluarga kak Ainsley, dia mendengar pula nama Zen. Sempat berpikir apakah Zen yang sama, dan sekarang betapa terkejutnya dia ketika melihat Zen yang dia kenal membukakan pintu.
Astaga, dia benar-benar Zen. Batin Rachel.
Rachel menurunkan pandangannya, tak sanggup menatap kedua mata dingin tersebut.
Dan setelahnya semua keluarga Lynford pun masuk ke dalam rumah sederhana tersebut. Zen tidak menutup pintu itu lagi, dibiarkan terbuka agar ada sirkulasi udara yang lebih baik.
Ainsley keluar sambil menggendong Rora, diikuti oleh keluarganya yang lain. Namun tatapan mommy Jilliana, Daddy Bastian dan Rachel langsung tertuju padanya. Tanpa perlu diperkenalkan semua orang sudah bisa menebak bahwa wanita bermata biru itu adalah Ainsley.
__ADS_1
Mommy Jilliana tiba-tiba menangis lagi, makin menangis saat melihat balita digendong Ains. Balita malang yang Ains angkat jadi anak.
"Kamu Ainsley, Nak?" tanya mom Jilliana, mempertegas semuanya.
Dan Ainsley hanya mampu menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.
"Ya Tuhan, akhirnya kami menemukan kamu," balas mom Jilliana dengan cepat, dia juga tak canggung untuk memeluk lebih dulu.
Rora yang tidak mengenal jadi menangis dan bibi Ema segera mengambilnya agar Ains bisa dipeluk lebih erat.
"Terima kasih Ains, terima kasih karena waktu itu kamu menelpon kami," ucap mom Jilliana dengan tangis yang makin menjadi. Rachel pun sudah menjatuhkan air matanya pula.
Dan sama, Ainsley tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Apalagi saat dilihatnya seorang pria paruh baya yang nampak tak asing di matanya. Pria paruh baya yang masih dia ingat jelas dulu memeluk kak Damian di dekat reruntuhan bangunan, ketika peristiwa bom meledak. Dia adalah ayahnya kak Damian.
Pertemuan itu terasa begitu haru, terlebih Daddy Bastian dan Rachel pun ikut memeluk Ainsley pula. Ini adalah pertemuan pertama mereka semua, tapi seolah semuanya telah terhubung sejak lama.
Sofa di sana tidak cukup untuk menampung semua orang, jadi Rachel, Zen, Amara dan Joshua duduk di karpet bawah, sementara para orang tua duduk di atas. Saat itu Rora hanya ingin dipangku oleh Ains.
"Maaf Nak, Daddy tidak bisa menemukanmu dengan lebih cepat," kata Daddy Bastian, dia tak bisa membayangkan andai Damian ikut hilang juga dan mereka tidak bisa bertemu selama 17 tahun.
Entah apa jadinya.
Ainsley tidak sanggup menjawab apapun, begitu haru atas semua penerimaan ini. Bahkan kedua orang tua kak Damian memperlakukannya seperti anak juga.
Dua orang yang bersedia dia panggil dengan sebutan mommy dan Daddy. Sementara selama ini Ainsley hanyalah anak yatim piatu yang tak memiliki kedua orang tua.
__ADS_1
"Sekarang kita sudah bertemu, Daddy tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja. Daddy ingin kita semua jadi keluarga," putus Daddy Bastian, menetapi janjinya pada diri sendiri.
Bahwa dia akan menjadikan Ainsley anak.
"Ikutlah bersama Daddy pulang ke rumah," ajaknya kemudian, tanpa sadar jika kalimat itu begitu menyakitkan bagi semua keluarga Ains.
"Ma-maaf Dad, aku tidak bisa pergi meninggalkan rumah ini. Aku tidak bisa meninggalkan semua keluarga ku," balas Ainsley.
Amara sudah menangis namun dia tahan, hanya mampu menggenggam erat tangan Joshua sebagai pelampiasan. Meski sangat kehilangan kak Ains, tapi mereka pun tak punya hak untuk menahan.
Entahlah Amara sangat bersedih.
"Tidak, tidak, bukan seperti itu maksud Daddy Nak. Daddy tidak bermaksud memisahkan kalian semua. Daddy ingin kamu, bibi Ema dan adik-adik mu tinggal bersama Daddy. Ya?" pintanya dengan nada memohon.
Dan dalam kesempatan kali ini akhirnya Zen ikut berucap. "Maaf Om, kami tidak akan pergi meninggalkan rumah ini. Kami tidak ingin menggantungkan kehidupan pada orang lain. Jika kak Ainsley ingin pergi .... tidak apa-apa," ucapnya dengan dadda yang terasa begitu sesak.
Zen sadar mereka semua bukan orang jahat, kemanapun kak Ainsley pergi dia pasti akan selalu menemukan kebahagiaan.
Bahkan mungkin bersama mereka kak Ainsley akan lebih bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Besok lagi ya, mampir dulu di geng motor ini ...
Judul: Elang Bersama Sayap Yang Patah
__ADS_1
By : Nopian Dwi Ari