Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 37 - Hawanya Berbeda


__ADS_3

Keluar dari ruangan sang ayah Damian langsung melihat Helena ada di hadapannya, Helena yang menatapnya dengan tatapan sendu.


Langkah kaki Damian yang terjeda kini kembali melangkah hingga berdiri tepat di hadapan wanita itu.


"Om Bastian pasti memanggil mu karena membicarakan tentang pertunangan kita, iya kan?" tanya Helena langsung, kini kedua matanya makin terlihat melengkung ke bawah, seolah menyesalkan tentang hal itu.


"Maaf Dam, aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba papa ku membahas tentang hal ini," mohon Helena kemudian, dia menunduk dan meremat kedua tangannya sendiri seolah menunjukkan rasa penyesalan yang begitu dalam.


Sedangkan Damian hanya mampu membuang nafasnya dengan kasar. "Hem, kita bicarakan saja ini nanti malam," balas Damian kemudian. "Aku akan kembali ke ruangan ku," ucapnya lagi, lalu segera pergi dari sana lebih dulu.


Helena yang awalnya berwajah sendu, kini mendadak tersenyum kecil. Dia tau Damian mungkin akan bimbang, tapi tak mungkin jika Damian sampai menolak keputusan dua keluarga. Damian adalah anak yang paling berbakti.


Yes! Batin Helena, dia senang sekali.


Dengan langkah lebar dia pun segera meninggalkan tempat itu dan menuju ruang kerjanya sendiri.


Tak sabar rasanya menunggu sampai nanti malam, Helena sudah bertekad akan tampai secantik mungkin.


Sampai mata Damian yang selama ini seolah buta jadi bisa melihat keanggunannya.


*


*

__ADS_1


Jam 5 sore Damian memarkirkan mobil mewahnya di area parkir Zen Minimarket.


"Itu Kak ada yang datang," kata Zen seraya menyenggol sang kakak dengan perlahan. Ainsley lantas mengikuti arah pandang Zen ke luar dan melihat kak Ford di sana.


Ainsley langsung tersenyum, tapi mendadak hilang senyum itu saat ingat tentang foto-foto yang dia terima dari nomor asing.


Ainsley tetap berdiri di meja kasir sampai kak Ford masuk ke dalam sana.


"Zen, ini burger untuk mu," ucap Damian, dia menyerahkan kotak makanan itu di atas meja. "Makanlah dulu, biar om yang temani kak Ains."


"Aku tidak disuruh makan?" balas Ainsley pula.


"Nanti, gantian dengan Zen," balas Damian.


Setelah Zen pergi, Damian pun masuk ke bagian kasir tersebut. Memperhatikan Ainsley saat melayani beberapa pelanggannya. Saat Ainsley duduk Damian langsung menggenggam erat tangan wanita ini, sampai mereka bisa menautkan jemari keduanya.


"Aku ambilkan minum ya?" tawar Ains.


Damian menggeleng. "Nanti saja, bagaimana hari ini? Apa melelahkan?" tanyanya kemudian.


"Tidak lelah, mungkin Zen yang lelah karena tadi cukup banyak pesanan yang harus dia antar," balas Ains.


"Tidak ingin tambah karyawan?"

__ADS_1


"Tidak Kak, kami masih bisa. Saat akhir pekan bibi Ema bisa menggantikan ku. Kita tetap bisa menghabiskan malam bersama," balas Ainsley, lalu tersenyum genit, hingga membuat Damian terkekeh pelan, sesaat lupa tentang rencana makan malam dengan keluarga Pedrox.


"Aku ingin menciummu," kata Damian dan langsung dibalas dengan pukulan oleh Ainsley.


Plak! "Sadarlah, ini di tempat umum!" balas Ainsley, dia segera berdiri saat terlihat seorang pelayan hendak menghampiri meja kasir.


Dengan cekatan Ainsley melayani. Hingga beberapa menit kemudian Zen pun kembali dan kini giliran Ainsley yang memakan burgernya. Damian ikut pergi ke ruang istirahat yang ada di sana.


Tapi Ainsley tidak bisa langsung makan, karena tiba-tiba Damian menyergapnya dari arah belakang. Mendudukkannya di atas meja lalu dicium dengan begitu dalam.


Ugh! Lenguh Ainsley tanpa sadar, untunglah Damian telah menutup bahkan mengunci pintunya.


"Kak," lirih Ainsley saat merasakan Damian menciumnya dengan kuat, sangat kuat seolah tak ingin pisah, seolah ingin benar-benar memiliki Ainsley.


"Kak Ford kenapa? Apa ada masalah?" tanya Ainsley ketika ciuman itu terjeda. Tapi Damian tidak menjawab pertanyaan itu, justru menyesap leher Ainsley sampai membekas tanda merah.


"Ains, boleh aku membuat tanda merah di sini," tanya Damian dengan nafas terengah, seraya menyentuh dada Ainsley yang selama ini selalu dia damba.


Glek! Ainsley menelan ludah kasar. Selama ini mereka memang belum seterbuka itu, Damian bahkan belum pernah menyaksikan tubuh Ainsley seutuhnya.


Tapi sore ini entah kenapa hawanya berbeda. Sampai akhirnya Ainsley menjawab dengan sebuah anggukan kepala kecil.


"Iya," jawabnya lirih, memberikan izin.

__ADS_1


__ADS_2