
Menjelang sore pesta pernikahan itu pun akhirnya usai. Damian telah mengatur bahwa dia dan Ains akan menghabiskan malam pertama di hotel ini pula.
Damian dan Ainsley ikut turun mengantar kepulangan keluarga mereka, Rachel akan ikut bibi Ema dulu.
Aldian, Megan dan Marcel juga langsung pulang. Tak ingin menganggu pengantin baru.
"Da da kak Ains!" ucap Amara yang terdengar setengah berteriak. Dia sudah masuk ke dalam mobil.
"Da daa!!" sahut Rachel pula.
Dan Ains menggoyang-goyangkan kedua tangannya sebagai tanda pisah.
2 mobil milik keluarga mereka, 1 mobil dinaiki Aldian dan Megan, 1 nya lagi mobil yang dikendarai oleh Marcel.
"Ayo kita masuk," ajak Damian saat mobil-mobil itu sudah tak nampak lagi, kini mereka berdua berdiri di depan pintu utama hotel tersebut. Sudah mengganti baju dengan gaun yang lebih santai, namun masih nampak kecantikan seorang pengantin.
"Ayo," jawab Ains pula, dia memeluk lengan sang suami saat mereka mulai berjalan kembali masuk ke dalam hotel.
Tadi saat acara pesta, Damian pun memperkenalkan sang istri pada tuan Erland. Pria paruh baya yang malah seperti orang tua bagi mereka. Tuan Erland tak segan untuk mendoakan kebaikan dan kebahagiaan bagi keluarga kecil mereka.
Tau bahwa boss ditempat sang suami bekerja sangat baik, kini Ains jadi seperti ikhlas jika kak Damian bekerja keras.
Di dalam lift itu mereka hanya berdua dan Damian langsung mengecup bibir istrinya.
Cup!
"Kak Damian!" kesal Ains, ini kan di tempat umum. Membuatnya jadi lebih berdebar.
"Mulai sekarang aku tidak akan pernah mengampuni mu," kata Damian dengan kalimat yang terdengar begitu ambigu, namun Ains langsung paham, dia memukul dadda kak Damiannya dengan cukup kuat.
"Mesyum!" kesal Ains, selama ini saja dia selalu tidak diberi ampun.
Damian malah terkekeh mendapatkan pukulan tersebut. tangannya semakin erat memeluk pinggang sang istri.
Tiba di dalam kamar, Damian langsung menggendong Ains seperti bayi koala.
__ADS_1
Dan Ains pun melepaskan sandalnya dengan asal, hingga jatuh entah kemana. Mereka berdua sama-sama tidak sabar untuk menyatu, sebab selama persiapan pun keduanya sudah saling menahan diri, jadi saat ini tak ingin menunda lagi.
"Kak, pelan-pelan ah," desah Ains, dia mendongak karena lehernya diciumi oleh sang suami, sesekali di sesap kuat dan kak Damian memainkan lidahnya di sana.
Ainsley merasa geli dan nikmat sekaligus, membuatnya tak bisa menahan dessahan ini.
Di atas ranjang berukuran king size tersebut keduanya menjatuhkan diri. Namun belum sempat Damian melucuti baju sang istri tiba-tiba sudah terdengar suara ponselnya berdering.
"Kak ... lihat dulu," ucap Ains, dia mendorong dadda sang suami.
Awalnya Damian begitu enggan untuk menjawabnya, namun saat suara itu tak kunjung berhenti akhirnya dengan sangat terpaksa dia kembali turun dari atas ranjang tersebut dan mengambil ponselnya.
Ternyata panggilan masuk itu berasal dari mom Jilliana.
Damian tak langsung menjawab, justru mematung seketika.
"Siapa, Kak?" tanya Ains, dia pun kini telah berdiri di samping Damian.
"Mommy Jilliana," jawab Damian jujur.
"Jawablah, aku akan menyingkir jika kak Damian merasa tidak nyaman."
Damian bahkan memasang mode loudspeaker ketika menjawab panggilan telepon tersebut.
Dan suara yang pertama kali mereka dengar adalah suara tangisan mom Jilliana.
Ains seketika menelan ludah kasar, dia dan Damian jadi saling tatap sejenak.
"Halo," jawab Damian, singkat sekali, tak ada lagi kehangatan yang dia tunjukkan.
"Dam, kamu benar-benar menikahi Ains, Nak," kata mom Jilliana dengan menangis tersedu. Masih tidak menyangka bahwa hal ini akan benar-benar terjadi. Rasanya masih seperti mimpi saat dia lihat salah satu televisi menyiarkan tentang pernikahan tersebut.
Semua orang mendukung pernikahan itu sebab di belakang Damian berdiri salah satu orang yang paling berpengaruh di kota Servo, yaitu keluarga Davidson.
Sementara mom Jilliana dan Daddy Bastian malah seperti jadi terasingkan. Perasaan yang makin membuat mom Jilliana tambah bersedih dan terpuruk.
__ADS_1
"Mommy hanya sangat terkejut Dam, mommy tidak tahu harus bagaimana sekarang," kata mom Jilliana lagi, masih dengan tangis yang menghiasi.
Ainsley menatap suaminya dengan tatapan sendu, dia pun mengelus punggung sang suami dengan perlahan. Ingin kak Damian sedikit saja menurunkan egonya sendiri, bagaimana pun juga mom Jilliana dan dad Bastian adalah orang tua mereka, melupakan masa lalu dan coba kembali menghormati.
"Aku tidak akan pernah memaksa mommy untuk menerima Ains, jika mommy tidak bisa menyayanginya dengan tulus maka aku sendiri yang akan memberikannya banyak cinta," kata Damian.
Ains membuang nafasnya perlahan, sekarang sedang bersandiwara seolah dia tidak ada di sana, seolah tidak mendengar pembicaraan ibu dan anak tersebut.
Dan mom Jilliana makin menangis saat mendengar jawaban sang anak. Merasa begitu cemburu, namun tak bisa berbuat banyak.
"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi aku akan menutup telepon ini," ucap Damian.
Tiga detik dia menunggu namun mom Jilliana tetap sibuk dengan tangisnya, tidak bicara lagi. Jadi saat itu juga Damian putus sambungan telepon tersebut.
Damian lantas menatap sang istri yang sejak tadi berada di hadapannya.
"Maaf, hari pernikahan kita justru rusak gara-gara hal ini," ucap Damian.
Ainsley menggeleng dengan cepat, "Tidak Kak, bukan rusak, justru bagus jika mom Jilliana menghubungi. Setidaknya dia tau kita sudah menikah," jawab Ains.
Damian membelai wajah istrinya dengan lembut, Damian sudah berulang kali mengatakan kepada Ains bahwa dia akan selalu membuat Ainsley merasa bahagia dalam hidupnya. Tapi ternyata penghalang yang paling besar berasal dari kedua orang tuanya sendiri.
"Kak, jangan marah-marah lagi ya pada mom Jilliana dan Daddy Bastian. Tiap kak Damian seperti ini, malah aku yang merasa bersalah," ucap Ains kemudian.
"Aku sangat memahamimu tentang hal ini Ains, kamu tidak ingin mom dan Daddy semakin membencimu karena aku tambah melawan. Iya kan?"
Ainsley mengangguk.
"Baiklah, aku akan terus berusaha untuk menurunkan egoku sendiri. Lain kali aku yang akan lebih dulu menghubungi mereka," ucap Damian.
"Janji?" tanya Ains dengan bibir yang kembali mengukirkan senyum bahagia.
"Janji," jawab Damian, mereka menautkan jari manis membuat janji tersebut. Damian tidak ingin merusak hari ini dengan perdebatan.
Apalagi saat ini mereka sudah menikah, sudah sepenuhnya memiliki satu sama lain. Ains adalah miliknya dan tak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
__ADS_1
Selesai dengan jari kelingking, kini Damian kembali melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda. Kembali mendorong Ains ke atas ranjang dan menindihnya.
"Ah kak!" pekik Ains dengan nada manja.