Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 67 - Boleh Aku Menginap, Zen?


__ADS_3

Damian tidak ingin menyakiti hati Ainsley dengan mengatakan fakta yang sebenarnya, bahwa kedua orang tuanya hanya akan menikahkan dia dengan wanita yang sederajat, wanita yang terhormat.


Sementara Ainsley tidak masuk dalam kategori itu, mereka mengangkat Ainsley jadi anak pun hanya untuk mendapatkan simpati dari orang-orang. Apalagi kehidupan kelam Ainsley di masa lalu, akan semakin membuat citra perusahaan keluarga Lynford makin melambung tinggi.


Perlakuan tulus itu nyatanya masih diselimuti oleh urusan bisnis. Damian pun malu untuk mengakui ini semua, sementara cintanya hanya tertuju pada Ainsley.


"Mereka belum mengambil keputusan, tapi percayalah padaku. Pada akhirnya kita akan menikah," balas Damian diantara tubuhnya yang mulai bergerak secara dinamis, naik turun dengan teratur, sampai membuat Ainsley hanya mampu memejamkan matanya.


Keduanya sama-sama candu, hingga sulit untuk diakhiri.


Jam 9 malam akhirnya Damian tiba di rumah, dia langsung menghadap pada sang Daddy di ruang kerja.


"Aku tidak bisa menganggap Ains sebagai adik Dad, karena kami sudah melakukannya," ucap Damian tanpa tendeng aling-ling.


Dan Daddy Bastian hanya mampu membuang nafasnya dengan kasar, dia sudah bisa menebak hal ini akan terjadi. Tapi dad Bastian merasa dicurangi, karena Damian mengatakan tentang hal ini setelah perjodohannya dengan Helena benar-benar diakhiri.


"Tidak apa-apa, berusaha lah terus untuk mengakhiri hubunganmu dengan Ains. Karena pada akhirnya dia akan tetap jadi adikmu," putus Dad Bastian pula, seolah tak terpengaruh dengan kejujuran Damian tersebut.


Damian bukan dimasa harus segera menikah, jadi mereka masih memiliki banyak waktu.


Dan mendengar ucapan Sang ayah tersebut Damian pun tersenyum miring, "Aku tidak menyangka Daddy akan bertindak sejauh ini," kata Damian, dia begitu kecewa atas sikap sang ayah.

__ADS_1


Dia kira mereka berbeda dengan keluarga konglomerat yang lain, tapi nyatanya sama saja. Masih menjadikan harta dan tahta sebagai penilaian.


Seseorang tanpa kedua hal tersebut akan selalu dipandang sebelah mata.


"Suatu saat kamu akan berterima kasih pada Daddy tentang hal ini, Dam. Percayalah," balas Dad Bastian.


"Bagaimana jika aku pilih untuk melepas nama keluarga Lynford dan memilih Ains?" tantang Damian.


"Lakukanlah, Daddy akan lihat sejauh mana kamu sanggup bertahan."


Damian lalu mengambil dompet di saku celananya, semua kartu penting yang selama ini dia gunakan berada di dalam dompet itu.


"Selamat tinggal, Tuan," ucap Damian.


Sebuah kalimat yang membuat Daddy Bastian merasa tersentak. "Dam," panggilnya dengan suara penuh penekanan.


Damian lantas menghentikan langkah, dia kembali menatap ke arah ayahnya tersebut.


"Daddy akan berikan pilihan yang lain untuk mu. Menikah dengan wanita yang sederajat dan jadikan Ains simpanan mu."


Damian jadi tertawa mendengar tawaran tersebut. "Tidak Dad, di dalam penjara aku dan Ains bisa bertahan hidup hanya dengan sepotong roti. Aku tidak membutuhkan nama besar keluarga Lynford," balas Damian.

__ADS_1


Setelahnya dia putuskan untuk benar-benar keluar dari ruang kerja sang ayah, tak peduli meski sang Daddy memanggilnya dengan nada tinggi.


"Dam!"


"DAMIAN!!" pekik Daddy Bastian.


Namun Damian terus melanjutkan langkah, semalam itu dia keluar dari rumah mewah tersebut. Berjalan cukup jauh menuju jalan raya dan menghentikan sebuah taksi.


Tujuannya kini hanya 1, yaitu rumah Ainsleynya.


Nyaris jam 10 malam Damian mengetuk rumah yang nampak sepi itu.


Dan yang membukanya adalah Zen.


"Kak Damian," ucap Zen kaget, apalagi kak Damian nampak kusut hanya menggunakan kemeja berwarna putih, jas milik Damian dia tinggal pula di ruang kerja sang ayah.


"Boleh aku menginap, Zen?" pinta Damian.


Namun belum sempat remaja itu menjawab, Damian sudah lebih dulu bicara lagi. "Sebelum itu, bisa tolong bayarkan taksiku lebih dulu?" pintanya lagi.


Dia datang tanpa membawa uang sepeserpun.

__ADS_1


__ADS_2