Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 43 - Ada Atau Tidak


__ADS_3

"Helena, bisa kita bicara berdua?" tanya Damian dengan sorot mata serius, pertanyaannya itu sampai menghentikan tawa diantara Helena dan mommy Jilliana.


"Ya sudah jika kalian ingin bicara berdua, mommy akan pergi ke dapur." Mommy Jilliana yang menyahut.


"Tidak mau ah, nanti saja bicaranya. Aku ingin membantu tante lebih dulu," ucap Helena dengan cepat, melihat keseriusan yang ditunjukkan oleh Damian justru membuatnya merasa takut. Dia akan terus menghindar jika demikian ingin membahas tentang wanita miskin itu.


Sungguh, Helena tidak akan membiarkan Damian mengakui hubungan tersebut pada semua orang, termasuk padanya sendiri.


"Ayo Tan," ajak Helena, dia bahkan langsung memeluk lengan tante Helena dan menariknya untuk menuju dapur, meninggalkan Damaian begitu saja.


Tapi sikap Helena yang seperti ini, jutsru membuat Damian semakin yakin dengan pemikirannya sendiri. Pertama, Helena selama ini diam-diam menyukainya. Kedua, mungkin Helena sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Ains.


Karena itulah secara mendadak, perjodohan di antara mereka berdua di bicarakan.


*


*


Selesai makan malam, Damian langsung menarik Helena untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya, tanpa menunggu persetujuan dari Helena lebih dulu.


Helena yang terkejut sempat berontak, tapi dia kalah tenaga dan sekarang sudah terkunci di dalam ruangan ini.


"Apa kamu menyukaiku, Hel?" tanya Damian secara langsung, tanpa basa basi.


Sebuah pertanyaan yang entah kenapa seperti menlukai harga diri Helena. Dia sampai terdiam dengan bawah mata yang terbuka semakin lebar.


"Kenapa Kak Damian bertanya seperti ini padaku?" balas Helena kemudian, setelah dia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Coba untuk tidak terlihat gugup, sekuat tenaga menyembunyikan perasaan yang selama ini dia pendam sendirian di dalam hati.


Jika Damian sampai mengetahui tentang perasaannya, Helena sangat yakin bahwa Damian akan mengambil jarak darinya.


"Jawab saja, apa selama ini kamu menyukai ku? Lalu mengajukan tentang penjodohan ini pada papamu?"


"Tidak, kenapa kak Damian bisa menuduhku seperti itu? Aku juga terkejut ketika papa membahas tentang perjodohan kita. Aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka karena itulah coba untuk menerimanya." Terang Helena panjang lebar.


"Tapi aku tidak bisa Hel, karena aku sudah memiliki kekasih," balas Damian gamblang.


Helena yang terkejut sampai nyaris terhuyung tubuhnya, dia sampai mundur satu langkah untuk mencari keseimbangan.


"Be-benarkah? Kenapa tidak mengatakannya langsung ketika keluarga kita sedang membahas tentang perjodohan ini?" balas Helena dengan suara yang nyaris terbata. Kembali berkilah dan pura-pura tidak tau atas semuanya.

__ADS_1


"Aku tidak punya kesempatan untuk bicara, karena kamu selalu memotong ucapanku," balas Damian.


Helena tersenyum kecut, "Si-siapa wanita itu? Harusnya kak Damian memperkenalkan padaku. Aku dan dia pasti bisa jadi teman."


Damian menatap Helena intens, coba mencari kejujuran dari sorot mata yang bergetar itu.


"Jika kak Damian sudah memiliki kekasih, aku akan katakan pada mama dan papa untuk melupakan tentang perjodohan ini," ucap Helena lagi, dia tersenyum seolah ikut bahagia atas kabar tersebut.


Damian tidak akan pernah tahu bahwa hatinya bergemuruh tanda amarah, kedua tangannya terkepal kuat untuk melampiaskan semua kekesalan.


"Inilah yang ingin aku dengar darimu," jawab Damian.


Helena coba tersenyum semakin lebar, coba kembali menunjukkan keceriaannya. "Kak Damian harus mengenalkannya padaku lain kali," ucap Helena lagi.


Dan kali ini Damian hanya menjawabnya dengan anggukan kepala kecil.


*


*


Helana keluar lebih dulu dari ruang kerja tersebut. Berulang kali dia membuang nafasnya dengan kasar agar tenang. Tapi sebanyak apapun dia berusaha nyatanya tetap tak bisa mengusir kemarahan yang ada di dalam hatinya.


Jadilah jallang saja, Jangan pernah bermimpi untuk memiliki kak Damian! Tulis Helena dalam pesan singkat itu, bukan hanya pesan, dia juga mengirimkan sebuah gambar yang dia edit. Seolah-olah dia dan Damian saling berciuman di dalam sebuah kamar.


Ketika melihat pesan tersebut sudah dibaca oleh wanita miskin itu, Helena akhirnya bisa mengukirkan senyum di bibirnya.


Sudah cukup puas dengan hal ini.


Harusnya kamu sadar diri! Geram Helena.


Dia pun segera menuju kamar Rachel dan bersiap untuk beristirahat.


Sementara itu di rumah Ainsley, dia masih terus menatap pesan singkat dia dapat. Fokusnya bukan pada foto intim tersebut, melainkan pada satu nama yang membuat jantungnya berdegup.


Damian.


Kak Damian.


Ya Tuhan, batin Ainsley lirih. Dulu sepertinya dia salah dengar saat ada seseorang yang menyebut nama Demian. Tapi sekarang dia baca dengan jelas nama itu di dalam pesan singkat ini.

__ADS_1


Damian dan kak Ford.


Damian Lynford.


Ainsley terus menyebut nama itu, sampai tidak sadar jika kedua matanya kini sudah berkaca-kaca. Seolah tidak mungkin, seolah ini hanya seperti khayalannya sendiri.


Benarkah seseorang yang selama ini selalu terhubung dengannya adalah seseorang yang selalu dia sebut dalam doa. Semoga kak Damian selamat, semoga kak Damian bahagia, semoga kak Damian tidak mengalami trauma, semoga kak Damian masih mengingatku.


"Ainsley, kamu kenapa Nak?" tanya bibi Ema dengan nada cemas, anak-anak sudah tidur dan dia lihat Ainsley masih duduk seorang diri di ruang tengah. Makin terkejut ketika melihat Ainsley yang nampak seperti ingin menangis.


Ditanyain seperti itu Ainsley tak bisa menjawab, dia masih diantara yakin dan tidak yakin.


Benarkah kak Ford adalah kak Damiannya?


Ainsley malah menangis dan menggeleng.


"Ti-tidak Bi, aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba menangis," jawab Ainsley lirih.


Bibi Ema lantas memeluk Ainsley dengan erat?


"Kamu lelah? Kalau begitu beristirahat lah, besok-besok tidak usah jaga toko dulu. Biar bibi yang gantikan."


"Tidak Bi, aku tidak lelah."


"Kalau begitu jangan menangis, kamu membuat bibi khawatir." Bibi Ema jadi ingin menangis juga jika melihat Ainsley menangis.


Bibi Ema adalah yang paling tau bagaimana perjuangan Ainsley untuk membuat hidup mereka jadi lebih baik. Sungguh, bibi Ema tak ingin Ainsley merasa bersedih, dia juga ingin melihat Ainsley yang bahagia. Melihat Ainsley yang memikirkan hidupnya sendiri, bukan lagi memikirkan orang lain.


"Baiklah Bi, aku tidak akan menangis lagi," kata Ainsley, dia pun menghapus air matanya sendiri dengan cepat.


"Cuci wajahmu lalu istirahat, besok bibi akan memasak makanan kesukaan mu."


Ainsley mengangguk dan mengigit bibir bawahnya kuat, menahan diri agar tidak menangis lagi.


Tidak, kak Ford pasti bukan kak Damian ku . Batin Ainsley, dia coba menolak semua fakta atas nama tersebut.


Tapi hatinya tidak bisa, hatinya tetap bersikeras ingin tau.


Satu-satunya yang bisa kulakukan untuk memastikan ini semua adalah, mencari tanda bekas cambukan di tangan kanan kak Ford.

__ADS_1


Ada atau tidak.


__ADS_2