
"Siapa pria itu Nona? apa anda memiliki hutang dengannya?" tanya Rania.
Ainsley yang kaget langsung berkedip dengan cepat, tapi Ainsley belum tau bahwa selama ini kak Rania adalah mata-mata.
"I-iya Kak, dia teman lama ku," jawab Ains, sesaat gugup namun kemudian dia normalkan lagi detak jantungnya. Bingung juga harus menyebut Eric sebagai apa, jadi dia jawab sebagai teman lama.
"Berapa hutang Anda? Apa sangat banyak?"
"Tidak kak Rania, tidak terlalu banyak. Tapi sepertinya sekarang dia tidak terlalu butuh uang. Jadi selalu ditunda-tunda seperti itu," terang Ains.
"Oh," balas kak Rania pula, tak ada lagi rasa penasaran di dalam hatinya. Tidak pula menganggap penting tentang keberadaan pria itu. Nona Ains jelas memiliki teman-temannya sendiri, tidak usah mengusik kehidupan pribadinya.
Menjelang istirahat makan siang, Ainsley tanpa sengaja melihat tayangan di televisi yang tersedia di dalam toko tersebut. Awalnya Ainsley memang tidak begitu tertarik, ketika mendengar nama perusahaan Lynford Kingdom disebut dia langsung menoleh ke arah televisi tersebut.
Beberapa bulan terakhir penjualan perusahaan itu mengalami penurunan, hingga berpengaruh pula pada harga saham.
Dalam berita itu beberapa wartawan coba mewawancarai Daddy Bastian, namun pria itu pilih berlalu begitu saja.
Ada rasa mengganjal di dalam hati Ains saat melihat berita tersebut, mulai cemas dengan sendirinya.
__ADS_1
Ains lantas mengambil ponselnya di saku celana, melihat tak ada pula satupun notifikasi dari kak Damian.
Ainsley melihat jam, waktu sudah menunjukkan waktunya istirahat. Terbesit di dalam benaknya ingin menghubungi lebih dulu, tapi kemudian dia menggeleng mengurungkan niatnya tersebut.
Kirim pesan saja. Batin Ains.
Kak, apa sudah dengar kabar tentang perusahaan Daddy Bastian? Tulis Ainsley dalam pesan singkat tersebut.
Dan tiba-tiba ponselnya justru berdering.
"Astaga!" kaget Ains, buru-buru dia menjawabnya.
Ainsley sontak menoleh ke arah luar, melihat kekasihnya yang turun dari dalam mobil.
Ainsley lantas berlari keluar dan mengabaikan begitu saja panggilan telepon tersebut, terus berlari dan kemudian disambut pelukan oleh kak Damiannya.
Pelukan yang sangat erat, rindu menggebu. Mereka tinggal di kota sang sama tapi karena sulit bertemu membuat rindu itu tak terbendung lagi.
"Kenapa datang? tumben bisa datang? Bukan pamit untuk pergi kan?" tanya Ainsley bertubi. Senang tapi juga takut jika pertemuan ini malah jadi perpisahan untuk mereka.
__ADS_1
Apalagi beberapa waktu lalu kak Damian sempat berkata bahwa mungkin saja dia akan pergi ke luar negeri untuk mengembangkan pasar di taraf internasional.
Semakin hari kak Damian semakin sibuk, membuatnya gundah sendiri.
Bukannya menjawab pertanyaan Ains, Damian justru membawa sang kekasih untuk segera masuk ke dalam mobil. Lalu membawa Ains untuk pergi dari sana.
"Kita mau kemana? Aku kirim pesan dulu pada kak Rania jika kita pergi," ucap Ains, dia heboh sendiri.
Sementara Damian berulang kali mengulum senyum.
Pesan pada kak Rania sudah terkirim dan kini fokus Ainsley kembali lagi pada sang kekasih.
"Kita mau kemana? kak Damian juga belum menjawab pertanyaan ku tadi," kata Ains.
"Pertanyaan mu banyak sekali, aku sampai bingung jawab yang mana," jawab Damian.
Suaranya begitu dirindukan oleh Ains, sungguh, kini Ains seperti tergila-gila pada pria itu.
"Tumben kak Damian datang, bukan mau pamit pergi ke luar negeri kan?" tanya Ains, kini suaranya terdengar lirih dan penuh keseriusan.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Damian tidak menjawab, malah mengelus puncak kepala Ains dengan lembut.