Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 96 - Cantik


__ADS_3

"Para tamu sudah mulai berdatangan ke tempat acara, Nona," lapor seseorang dengan seragam merah marun itu pada Ainsley. Orang-orang dengan seragam itu adalah orang-orang yang mengurus semua persiapan pernikahan ini.


Kini Ains pun telah selesai di rias, namun dia masih duduk di kursinya. Berdebar dan sangat gugup menjelang pengucapan janji sucinya bersama kak Damian.


Diam-diam Ainsley melihat jam dinding, waktu menunjukkan jam 8 pagi. Sementara dia akan dipanggil keluar saat waktu sudah tepat di jam 9.


"Kak Ains!" panggil Rachel dengan suaranya yang terdengar penuh semangat, dia bahkan sedikit berlari saat masuk ke dalam kamar itu. sudah tidak sabar rasanya untuk melihat calon kakak iparnya.


"Rachel," sapa Ains pula, dia melihat ke arah belakang Rachel mencari apakah kak Damian ikut datang ke sini juga, tapi ternyata pria itu tidak menampakkan diri.


"Kak Ains cari siapa? aku hanya datang seorang diri, kak Ains dan kak Damian tidak boleh bertemu sebelum pengucapan janji suci," terang Rachel kemudian, dia bisa tahu bahwa kak Ains sedang mencari kakaknya, karena gelagat itu nampak jelas ditunjukkan oleh kak Ains.


Dan mendengar penjelasan Rachel tersebut, Ains pun jadi tersenyum kikuk. Mendadak malu sendiri karena kelakuannya ketahuan. Seolah sudah tidak sabar untuk segera bertemu calon suaminya.


Ains belum sempat menjawab apapun lagi, namun kemudian Amara dan Joshua juga masuk ke dalam kamar ini.


"Sini sini," panggil Rachel antusias. "Ayo kita ambil foto dulu, aku akan keluar sebentar untuk memanggil Zen, bibi Ema dan Aurora," timpal Rachel.


"Biar aku saja yang memanggil mereka, Kak," sahut Joshua dengan cepat, Dia adalah seorang pria maka tidak akan membiarkan para gadis bekerja keras lebih dibandingkan dia.


"Terima kasih, Josh," kata Rachel dan Joshua mengangguk dengan senyum yang terukir lebar. Dia lantas kembali melangkah cepat untuk keluar dari dalam kamar ini.


Suasana di sana benar-benar kental dengan hawa kekeluargaan.


Setelah Joshua kembali bersama Zen dan bibi Ema serta Rora. Akhirnya mereka semua mengambil foto bersama. Ada yang diambil melalui ponsel milik Rachel, ada juga foto yang diambil melalui kamera fotografer yang tersedia di sana.


Mereka tertawa bersama melihat hasil foto itu, sampai akhirnya seorang perias masuk ke dalam kamar ini dan ingin kembali memeriksa sang pengantin, jadi semua orang diminta untuk keluar lebih dulu.


Dan di luar sana Rachel berserta Amara masih sibuk melihat-lihat foto yang ada di dalam ponsel Rachel.


"Hih, ini kenapa mataku terpejam," rengek Amara, karena ada salah satu foto yang menunjukkan wajahnya sedang tidak baik, bukannya tersenyum dan menatap ke arah kamera, Amara malah memejamkan mata dan bibir sedikit terbuka.

__ADS_1


"Jelek sekali!" sahut Joshua kemudian, dia adalah yang paling semangat jika menggoda Amara.


"Diam kamu!" kesal Amara pula dan Joshua malah jadi semakin tertawa.


"Kirimkan foto-foto itu padaku," ucap Zen pada Rachel, bicara dengan suaranya yang khas, terdengar dingin dan penuh perintah yang tak bisa dibantah.


"Oke," jawab Rachel, mereka sudah saling menyimpan nomor ponsel satu sama lain, jadi saat itu juga Rachel langsung bisa mengirimkan foto-foto itu melalui pesan singkat.


Ting! Pesan pun diterima oleh Zen. Remaja dengan wajah datar itu lantas duduk di salah satu sofa. Dia geser ke kiri layar ponselnya untuk melihat semua foto yang dikirimkan oleh Rachel.


Sampai akhirnya berhenti di foto yang terlihat paling sempurna, saat Zen berdiri tepat di samping kak Ains.


Zen lantas mengatur foto tersebut untuk jadi wallpaper di ponselnya. Dia tersenyum saat melihat kini ponselnya menunjukkan hari paling bahagia untuk sang kakak.


"Aku akan menjadikan foto ini sebagai wallpaper di ponselku," ucap Rachel tiba-tiba hingga membuat Zen langsung mengalihkan pandangannya, dari ponsel ke arah Rachel di hadapannya.


Karena Zen merasa apa yang mereka lakukan jadi seirama, padahal tak ada komunikasi yang tercipta, semuanya terjadi begitu saja.


Zen bahkan memutuskan untuk langsung bangkit dari sana, mencari Rora dan melihat Apa yang dilakukan oleh adik kecilnya tersebut.


"Mana lihat, foto mana yang mau kak Rachel jadikan sebagai wallpaper?" tanya Amara antusias.


"Harus foto yang aku terlihat cantik," timpal Amara lagi.


"Yang ini Amara, bagus kan?" tanya Rachel pula dan Amara langsung mengangguk setuju. Foto itu sangat indah, dia juga terlihat cantik di sana.


Apalagi kak Zen berdiri tepat di samping kak Ains, menjadikan foto itu terlihat sangat sempurna.


Tanpa pikir panjang lagi, Rachel pun mengatur foto tersebut untuk menjadi wallpaper ponselnya.


Tanpa disadari oleh Rachel dan Zen, kini wallpaper ponsel mereka menunjukkan foto yang sama.

__ADS_1


*


*


Jam pun bergulir, sampai akhirnya berada tepat di waktu-waktu yang sudah dinantikan oleh semua orang.


Akhirnya Ainsley dijemput untuk mendatangi ballroom tempat acara dilaksanakan.


Dalam perjalanannya menuju ballroom tersebut dia didampingi oleh orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Bahkan Megan ikut dalam barisan itu juga.


Damian sudah menunggunya di sana, sudah berdiri menyambut kedatangannya di tempat pengucapan janji suci.


Saat pintu Ballroom dibuka lebar-lebar, semua orang sontak menatap ke arah pengantin wanita yang masuk.


Deg! jantung Ains dan Damian sama-sama berdegup, iramanya sama seolah keduanya pun telah terhubung di dalam batin.


Bukan hanya Damian, namun semua tamu undangan pun menatap takjub pada pengantin wanita tersebut. Apalagi kedua mata Ains yang biru jadi nampak makin bersinar dengan begitu indah.


Ainsley akhirnya mengambil langkah pertamanya untuk memasuki ballroom tersebut, menginjak jalur yang sudah penuh dengan kelompak bunga mawar putih. Indah sekali.


Pernikahan ini terasa terlalu sempurna untuknya, sampai bibir Ainsley tidak berhenti untuk tersenyum. Apalagi ketika melihat kak Damian di ujung sana, membuat kebahagiaan jadi bertambah berkali-kali lipat.


Cantik. Batin Damian saat melihat Ains berjalan ke arahnya, diiringi musik yang mengalun indah, wanita paling cantik itu datang.


Damian lantas mengulurkan tangan kanannya dan Ains menyambut dengan lembut, sampai akhirnya Damian menggenggam erat tangan Ains.


Semua tamu dibuat terharu dengan pemandangan manis itu. Tak ada satupun yang menyela tentang Ains dalam pernikahan ini. Ains dan Damian sama-sama beruntung memiliki satu sama lain.


Mereka berdua bahkan dengan gamblang mengucapkan janji pernikahan tersebut, dan ditutup dengan ciuman bibir di hadapan semua tamu.


"Kya! Ains!" pekik Megan yang merasa geli sendiri.

__ADS_1


__ADS_2