Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 107 - Selalu Luluh


__ADS_3

Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit akhirnya daddy Bastian sudah diizinkan untuk pulang. Kini pria paruh baya itu lebih banyak diam, merenungi semua kesalahannya selama ini. Bahkan Daddy Bastian tidak bisa meminta Damian dan Ains untuk tinggal di rumah utama mengingat mereka telah menikah, kini dimanapun keduanya akan tinggal dad Bastian tak akan merasa keberatan.


Daddy Bastian juga tidak memaksa Damian untuk kembali ke perusahaan keluarga Lynford, kini apapun keputusan anaknya itu akan dia dukung.


Sementara Rachel kini sudah sepenuhnya kembali tinggal bersama kedua orangtuanya.


Jam 10 pagi akhirnya mereka sudah tiba di rumah, daddy Bastian langsung beristirahat di dalam kamarnya ditemani oleh mom Jilliana.


Damian dan Ains pilih untuk duduk bersama di ruang tengah.


"Kak," panggil Ains, hingga membuat sang suami menoleh ke arahnya.


Damian langsung mengelus puncak kepala Ains dengan lembut, belum bicara apa-apa dia sudah lebih dulu memberikan sentuhan lembut ini. Memberikan kenyamanan yang tak terkira bagi Ains.


"Kenapa? Kamu ingin istirahat di kamar? Ayo ke kamarku kalau begitu," ajak Damian langsung. Selama ini dia belum bisa mengajak Ains untuk masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya yang sesungguhnya, kamar yang dia huni sejak kecil hingga dewasa. Di dalam kamar itulah dia selalu mengingat tentang Ains kecil.


"Bukan Kak, aku hanya ingin tau apa rencana kak Damian setelah ini," jawab Ains kemudian. Sekarang semua hal memang selalu mereka bicarakan berdua, bahkan kadang untuk keputusan Damian di perusahaan pun berdiskusi dulu dengan Ains.


Keduanya sepakat untuk terus saling terbuka, tak ada yang boleh ditutup-tutupi, meski hal kecil sekalipun.


"Tentang apa? Perusahaan keluarga Lynford?" tanya Damian dan Ains mengangguk.

__ADS_1


"Aku sudah terikat kontrak dengan tuan Erland, jadi tidak bisa keluar begitu saja. Sekarang mungkin aku hanya akan mengawasi dari jauh, belum bisa berkontribusi penuh seperti dulu," terang Damian. Dia pun sadar, kini kondisi sang ayah sudah tidak memungkinkan untuk memikul semua beban di perusahaan, mau tidak mau dia harus ambil alih.


Namun dari itu semua ada satu hal yang membuat Damian cemas, dia takut Ains akan merasa kesepian jika dia sibuk dengan pekerjaan.


Damian tak ingin Ains merasa sendiri, apalagi hamil muda begini Ains jadi lebih sensitif.


"Lalu kita bagaimana?" tanya Ains lagi, kini bertanya dengan suara lirih.


"Apanya yang bagaimana?"


"Kita akan tinggal di mana? di sini atau tetap di rumah," tanya Ains dengan lebih rinci.


"Maumu bagaimana?"


"Baiklah kalau begitu, kita akan tetap tinggal di rumah yang sekarang. Dad Bastian pasti mengerti, lagipula di rumah ini sudah ada Rachel."


"Benar tidak apa-apa?" tanya Ains lagi, takut salah. Mereka baru menikah, jadi rasanya butuh waktu lebih banyak untuk berdua.


"Iyaa, aku tau alasan kenapa kamu tidak ingin tinggal di sini."


"Kenapa?" tanya Ains dengan cepat.

__ADS_1


"Karena kamu belum puas tentang bulan madu kita, iya kan?" goda Damian dengan senyum yang nampak mesyum. Sekarang Rachel tidak tinggal di sana lagi, jadi mereka berdua bisa bebas melakukan apapun dan dimanapun.


"Hih Kaak!" kesal Ainsley, meski itu juga salah satu alasan tapi tetap saja Ains merasa malu jika digoda seperti ini.


"Setelah tugas para pelayan selesai aku akan meminta mereka untuk pulang, jadi kita akan benar-benar tinggal berdua saja," goda Damian lagi, malah makin menjadi-jadi.


"Kak! Hentikan!"


"Aku ingin kita melakukannya di ruang tengah, di dapur, di meja makan."


"KAK!" pekik Ains, saking kesalnya karena jadi digoda terus.


"Ayo kita pulang sekarang." Damian malah merengek.


Membuat Ains langsung memukul lengannya. Tapi bukannya merasa kesakitan, Damian malah terkekeh.


"Aku akan ke kamar mommy, kita pamit pulang saja," putus Damian kemudian. Awalnya hanya menggoda Ains, namun kini dia malah benar-benar menginginkan istrinya tersebut.


"Kak Damian! nanti saja!"


"Sekarang sayang," jawabnya dan membuat Ains tak mampu membalas lagi, dia selalu luluh tiap kali mendengar sang suami memanggilnya sayang.

__ADS_1


Kini bukannya berontak, Ains justru pipinya bersemu merah.


__ADS_2