
Siang menjelang sore saat itu akhirnya Rachel ikut pulang ke rumah kak Ainsley. Meski selalu mendapatkan tatapan tajam dari Zen, tapi Rachel pun tidak tahu ke mana lagi Dia harus pergi.
Sementara kak Ainsley selalu memeluk dan menyambutnya dengan hati yang terbuka. Kak Ainsley memang tidak banyak bicara, tapi entah kenapa Rachel merasa nyaman. Tatapannya yang teduh tak mampu dia abaikan.
Kepergian Rachel tersebut pun, langsung didengar pula oleh Daddy Bastian di kantor. Sekarang dia sedang pusing sekali memikirkan tentang pekerjaan dan tiba-tiba kini Rachel menambah beban pikirannya.
Semenjak Damian meninggalkan perusahaan, kini banyak sekali hal yang terbengkalai. Belum lagi selama ini Damian memegang proyek yang sedang berlangsung. Helena saja tak bisa dia andalkan, tetap saja rasanya berat sekali setelah Damian pergi.
"Astaga Rachel!" Daddy Bastian sampai mengusap wajahnya dengan kasar saking frustasinya.
Dia lantas memanggil sang asisten pribadi untuk menangani tentang hal ini.
"Cari di manapun Rachel berada dan tarik dia untuk pulang!" titah Daddy Bastian. Dia tidak bisa turun tangan langsung Karena sekarang baginya pekerjaan adalah yang paling penting.
Daddy Bastian telah mengambil alih proyek yang dulu ditangani oleh Damian.
"Baik, Tuan," jawab sang asisten patuh.
*
*
Di rumah Ainsley, Rachel menggunakan baju Ains untuk ganti. Ains juga meminta Rachel untuk tinggal di dalam kamarnya.
"Istirahat di kamarku juga tidak apa-apa, kok," sahut Amara dengan ramah, kak Rachel baginya cantik dan baik. Amara suka sekali pada kak Rachel.
"Terima kasih, Amara," jawab Rachel pula.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kamu temani kak Rachel untuk makan, sana," titah Ains pula.
Amara mengangguk, dia kemudian memeluk kak Rachel untuk di ajak ke dapur.
Zen yang sejak tadi ada di sana pun hanya memperhatikan dengan tatapan dingin. "Aku tidak suka dia ada di sini, Kak," ucap Zen kemudian.
"Keluarganya sudah jahat, untuk apa kita menolong Rachel," timpal Zen pula.
"Zen, kakak juga marah atas perlakuan mereka yang seperti ini. Kakak juga ingin memaki. Tapi Rachel sudah meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang tidak dia lakukan," balas Ainsley, sekali lagi Ainsley katakan bahwa yang mengeluarkan Zen dari sekolah adalah Bastian Lynford, Rachel tidak ada hubungannya sedikitpun.
Tapi Zen tidak peduli dengan penjelasan tersebut, tetap saja dia membenci Rachel.
Zen bahkan memutuskan untuk pergi lagi ke toko. Selama ada Rachel di rumah ini dia tak akan betah tinggal di sini.
Karena dunia sedang menunjukkan ketidakadilannya. Hidup Zen mendadak berantakan, lalu kenapa Rachel tetap disambut dengan baik?
Bibi Ema yang membukanya dan langsung dibuat terkejut, pasalnya nampak jelas jika raut wajah tamunya itu tidak ramah.
"Panggil Rachel sekarang juga, aku datang untuk menjemput dia pulang," ucap pak Andre.
"Anda siapa?" tanya bibi Ema pula, dia tetap menahan daun pintu tidak mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.
"Tidak perlu banyak bertanya, panggil Rachel sekarang juga atau aku akan masuk dengan paksa." Pak Andre juga menunjukkan beberapa orang berbadan kekar yang ikut bersamanya, dia tidak hanya datang seorang diri ke sini.
Bibi Ema mendadak takut, dia ingin menutup untuk itu lagi dengan buru-buru, tapi sayang pergerakannya terbaca dan akhirnya seseorang menahan pintu tersebut.
Lalu mendorong dengan kuat sampai bibi Ema nyaris terjatuh, untunglah Dia segera berpegangan pada sofa yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
Keributan itu akhirnya terdengar oleh Ainsley, Rachel dan Amara, sementara Joshua dan Rora sedang masih tidur siang.
"Bibi!' teriak Amara lalu memeluk bibinya erat, cepat sekali Jika sang bibi merasa ketakutan.
"Nona Rachel, tuan Bastian memerintahkan saya untuk membawa anda pulang," ucap pak Andre kemudian, Setelah dia lihat dengan jelas jika Nona mudanya ada di rumah ini.
"Tidak! Aku tidak mau pulang! aku akan tinggal bersama Kak Damian!" tolak Rachel, dia bahkan langsung bicara dengan suara yang tinggi tanda penolakan.
Tapi tentu saja ucapannya itu tidak didengarkan oleh pak Andre, dia justru menggerakkan tangan kanannya dan memerintahkan para anak buah untuk segera menarik Rachel segera keluar dari rumah ini.
"Tidak! Aku tidak mau!" pekik Rachel.
"Lepas!!" pekik Ainsley pula, dia berusaha untuk melepaskan Rachel dari cengkeraman para pria tersebut.
Namun sayang, Ainsley dan Rachel sama-sama kalah tenaga. Hingga mereka semua berada di luar Ainsley tak sanggup menahan Rachel.
"Menyingkir!' bentak pak Andre lalu mendorong Ainsley hingga jatuh ke jalanan. Bibi Ema, Amara dan Rachel serentak berteriak memanggil Ains.
Sebuah pemandangan yang membuat Damian mengepalkan tangan di ujung sana.
"PAK ANDRE!" teriak Damian, dia melangkah cepat dan melayangkan sebuah pukulan keras di wajah asisten sang daddy.
BUGH! Satu pukulan yang mampu membuat pak Andre tumbang.
Tidak hanya itu, Damian pun menghajar para bodyguard tersebut lalu menarik adiknya keluar dari mobil.
Rachel menangis dan berlari memeluk kak Ains.
__ADS_1
Tak ada yang bisa menghentikan amarah Damian saat ini.