Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 38 - Tarik Dan Ulur


__ADS_3

Nafas Ainsley terbuang dengan berat, sampai dadanya nampak jelas jika naik turun. Gugup dan berdebar yang jadi satu.


Sementara Damian masih membelai wajah Ains dengan lembut, sampai akhirnya kedua tangan itu bergerak untuk menukar kancing baju sang wanita.


Cup! Damian mencium lagi, sampai Ainsley memejamkan mata dan tak sadar jika kancing bajunya telah terbuka sebagian. 4 kancing teratasnya telah lolos dan kini Damian bisa membelainya dengan lembut meski masih berpenutup. Ciuman itu lantas turun ke dagu lalu menuju leher, dan terakhir bermuara di atas dada Ains. Satu sesapan Damian berikan di atas sana sampai membekas merah.


Sementara Ainsley yang tak pernah merasakan rasa ini sebelumnya hanya mampu menganga, memejamkan mata merasakan tubuh yang berdesir nikmat.


Anggaplah Ainsley gila, tapi dia tetap diam meski tau kini kak Ford telah memiliki seorang wanita. Ainsley bahkan lebih gila sampai dia bersedia memberikan tubuhnya seperti ini, seolah benar-benar ingin memuaskan sang Tuan atas dirinya.


Makin lama baju kemeja Ainsley makin turun, sampai kini jatuh dilengan gadis tersebut. Pundak dan daddanya terpampang jelas di hadapan Damian, tapi bra itu masih terpasang tak ada yang berani melepaskan.


Keduanya sama-sama tau, itu adalah perlindungan terakhir mereka. Jika sudah lepas pasti semuanya akan berada di luar kendali.


Damian hanya mampu meremasnya dengan kuat, sampai tubuh Ainsley meliuk menikmati gairrah yang membara.


"Kak, jangan lupa ini di toko," lirih Ains, bicara diiringi dessah yang menggoda.


"Aku tau, sedikit lagi," ucapanya. Meski tak bisa melihat secara langsung, tapi Damian kini mampu merasakannya. Salah satu tangannya masuk ke dalam pelindung itu hingga mampu menyentuh secara langsung puncak dadda Ains yang menegang.


Sentuhan intim itu berakhir saat Damian makin tak kuasa mengendalikan diri. Satu-satunya wanita yang dia inginkan adalah Ains, bukan yang lain.


Di akhir permainan itu, Damian mengecup bibir Ains dengan lembut. "Kamu adalah milikku," ucap Damian, mengklaim.


"Apa aku boleh memiliki teman dekat pria?"


"Tidak boleh, hatimu dan tubuh mu serahkan semuanya padaku."


"Kalau kak Ford bagaimana? Apa kak Ford memiliki kekasih?"


Damian terdiam sesaat, dia menatap intens kedua mata Ainsnya. "Iya, aku memiliki kekasih. Ini kekasihku," balasnya lalu mencium Ainsley dengan ganas.

__ADS_1


Tapi Ainsley justru terkekeh dan coba melepaskan ciuman itu, "Kekasih kontrak ya?" tanya Ainsley lagi dan kali ini Damian tidak menjawab, hanya kembali memasangkan kancing baju Ains yang tadi dia lepas.


"Sabtu besok tepat satu tahun kita bersama, waktu cepat sekali berlalunya ya?" ucap Ainsley lagi, ya, begitulah wanita paling ahli dalam menghitung waktu.


"Hem, berarti usiamu sudah 25 tahun. Harusnya sudah siap jika melewati mallam perttama."


"Iss apasih!" kesal Ainsley, dia juga memukul dadda Damian. Dia sedang bicara serius malah diajak bercanda dengan bicara mesyum.


"Cepat makan burgermu, setelah itu kita keluar. Zen pasti sudah menunggu lama," kata Damian setelah tugasnya selesai, kini baju Ains kembali terpasang dengan sempurna.Dia tersenyum karena telah banyak meninggalkan tanda merah di dadda Ainsnya.


Dada yang awalnya begitu bersih kini penuh dengan warna merah.


Damian juga menurunkan Ains agar tidak duduk di meja lagi. Entah butuh waktu berapa menit mereka di sana, tapi saat keluar Damian langsung pamit pulang.


"Nanti malam aku akan menghubungimu," kata Damian dan Ainsley mengangguk.


Sebelum benar-benar pergi Damian menarik hidung Ains dengan gemas, entah kenapa rasanya tak ingin pisah.


*


*


Pertemuan dua keluarga itu terjalin dengan hangat, apalagi malam ini Helena terlihat cantik sekali, sampai sering jadi bahan pembicaraan.


"Ternyata Helena benar-benar sudah dewasa, cantik sekali," ucap mommy Jilliana.


"Sangat serasi dengan Damian ya?" balas Mama Venya, ibu Helena yang juga adalah sahabat mommy Jilliana semasa kuliah.


Itulah kenapa mereka pun begitu antusias sekali ketika masalah perjodohan ini dibicarakan.


Selesai makan malam semua keluarga berkumpul di ruang tengah, kecuali Rachel karena anak itu memutuskan untuk langsung kembali ke kamar. Harus belajar karena besok ada ujian.

__ADS_1


"Dam, mungkin kamu sudah tahu apa tujuan Om dan tante malam ini datang ke sini," ucap om Joe memulai pembicaraan mereka. "Om ingin kamu dan Helena untuk bertunangan," sambungnya kemudian.


"Maaf Om _"


"Pa, aku dan Damian selama ini tidak memiliki hubungan yang seperti itu, jadi rasanya terlalu cepat jika tiba-tiba membahas tentang pertunangan," potong Helena sampai membuat Damian tak jadi bicara, dia mulai memainkan sandiwara. Drama seperti ini sudah dia bicarakan lebih dulu pada sang ayah dan ibunya.


Mommy Jilliana nampak setuju pula dengan ucapan Helena tersebut.


"Pertunangan akan sangat mengikat, aku tidak mau jadi merasa terbebani," ucap Helena, memainkan pancingnya tarik dan ulur.


"Iya, Tante paham maksudmu sayang. Meskipun pertunangan dan pernikahan ada di depan sana, tapi lebih baik memang kalian saling membuka hati lebih dulu, jadi kekasih saja dulu," sahut mommy Jilliana. Dia pun tersenyum merasa memahami Helena.


"Benar, aku juga ikut saja bagaimana keputusan mereka," sambut Mama Venya.


"Bagaimana, Dam?" pertanyaan ini berasal dari Daddy Bastian.


"Maaf Dad, Mom, om dan Tante. Tapi aku benar-benar hanya menganggap Helena sebagai adik. Aku tidak bisa memiliki hubungan yang seperti itu dengan Helena."


"Aku juga merasakan hal yang sama Dam, kita sudah seperti saudara. Tapi aku akan coba untuk membuka hati, kita bisa memulainya bersama," sahut Helena.


"Iya, mulai semuanya dari awal dulu. Begitu juga bagus sayang," balas mama Venya.


"Papa juga setuju," sambung papa Joe.


"Terima kasih sayang," ucap mommy Jilliana pula, seraya memeluk Helena. Melihat betapa dewasanya Helena membuat mommy Jilliana jadi tambah sayang.


Sementara Damian sudah berada di pojok, tak bisa berontak.


Dan Daddy Bastian satu-satunya orang yang tau bahwa Damian tidak menikmati pertemuan malam ini.


Diam-diam Helena tersenyum kecil, setidaknya kini Damian tau bahwa hubungan mereka telah naik satu tangga. Bukan lagi teman ataupun saudara, tapi sepasang kekasih yang coba untuk menerima satu sama lain.

__ADS_1


Terimakasih Ma, Pa, sudah membukakan jalan untukku agar semakin dekat dengan Damian. Batin Helena, dia senang sekali. Sangat senang.


__ADS_2