
"Rachel, tenangkan dirimu dulu. Sampaikan kabar ini pada kak Ains secara perlahan. Setelah itu telepon Zen untuk datang ke rumah," kata Damian, memberikan instruksi pada sang adik.
Tak sampai di sana Damian juga berulang kali menjelaskan pada adiknya bahwa semuanya baik-baik saja, Damian tidak ingin Rachel jadi berpikir berlebihan, apalagi sampai menangis dan tak terkendali.
Sekarang Daddy Bastian sudah mendapatkan penanganan.
Damian juga meminta nanti Rachel ke rumah sakit bersama dengan kak Ains dan Zen sekaligus.
Dan meski sang kakak sudah berulang kali mengatakan padanya bahwa semua ini baik-baik saja tapi nyatanya setelah panggilan telepon itu terputus Rachel tetap saja menjatuhkan air matanya,menyentuh dada yang terasa begitu sesak.
Seketika ada rasa penyesalan pula di dalam dirinya kenapa selama ini tidak mengunjungi kedua orang tuanya tersebut, sampai dia tidak tahu bahwa kondisi sang ayah sudah kritis.
Sebelum keluar dari dalam kamar ini dan mengatakan semuanya pada kak Ains, Rachel putuskan untuk menghubungi Zen lebih dulu.
Di percobaan pertamanya menghubungi Zen untunglah langsung mendapatkan jawaban, dengan suara tangisan itu dia mengucapkan kata, "Halo."
"Kamu menangis? ada apa?" tanya Zen di ujung sana, Dia baru saja masuk ke dalam toko setelah mengantarkan pesanan salah satu pelanggan dan betapa terkejutnya ketika mendengar suara Rachel menangis dalam sambungan telepon ini.
Zen sampai menghentikan langkahnya di depan meja kasir.
"Zen, datanglah ke rumahku sekarang. Nanti aku akan menjelaskan semuanya di rumah," jawab Rachel di antara isak tangisnya yang terdengar dengan jelas.
"Katakan ada apa? Aku tidak ingin menunda untuk mengetahui tentang hal ini," balas Zen dengan suaranya yang khas, terdengar dingin dan penuh perintah. Semua kalimat yang keluar dari mulutnya seperti titah yang tidak bisa ditolak.
"Daddy Bastian masuk rumah sakit, dia terkena serangan jantung," jawab Rachel, tangisnya terdengar semakin kencang saja, suara Rachel pun jadi sesenggukan.
Dan dijelaskan seperti ini Zen langsung bisa memahami kondisi Rachel. Setelah semua yang terjadi, setelah perselisihan panjang yang ada di antara mereka tetap saja tak bisa mengubah fakta bahwa Daddy Bastian adalah sang ayah.
"Baiklah, aku akan datang ke sana sekarang juga," balas Zen kemudian, bahkan setelah mengucapkan kalimat tersebut dia pun langsung memutus sambungan telepon ini, tidak mendengar lebih dulu jawaban Rachel di ujung sana.
"Kak Rania, Aku harus pergi ke rumah kak Ains. Sepertinya aku tidak akan kembali lagi ke toko," pamit Zen pada kak Rania, sekarang kak Rania tidak hanya berjaga sendirian di sini, tapi juga ada kak Toni sebagai rekan kerjanya yang baru.
"Apa semuanya baik-baik saja, Zen?"
__ADS_1
"Iya."
"Kalau begitu hati-hatilah."
"Baik Kak," jawab Zen pula, setelah mengambil tasnya yang berada di ruang istirahat, dia pun segera keluar dari toko ini dan menuju rumah kak Ains.
Menempuh perjalanan beberapa menit hingga akhirnya dia tiba di rumah megah tersebut.
Zen memarkirkan motornya di depan teras rumah, lalu langsung berlari dan masuk ke dalam rumah. Kebetulan pintu utama tidak ditutup, seolah penghuni rumah ini memang sudah menunggu kedatangannya.
Dan benar saja, saat Zen masuk dia sudah melihat Rachel dan kak Ains menunggu di ruang tamu.
"Zen," panggil kak Ains.
Zen lantas menatap ke arah kak Ains sekilas, lalu segera berpaling ke arah Rachel yang nampak begitu terpukul, menangis sampai wajah dan hidungnya merah.
"Semuanya akan baik-baik saja, Daddy Bastian pasti akan sembuh," kata Zen. Selama ini dia adalah orang yang paling acuh kepada Rachel, bahkan terkesan selalu menjaga jarak.
Zen bahkan melangkahkan kakinya maju untuk mendekati gadis cengeng itu. Dia mengelus puncak kepala Rachel agar tenang.
"Ayo kak, kita pergi sekarang," ajak Zen pula.
Kak Ains mengangguk.
Sementara Rachel malah jadi makin menangis saat mendapatkan sentuhan dari Zen, rasa haru makin menguasai hatinya ketika seseorang bisa memahami keadaannya yang sedang bersedih.
Saat itu juga akhirnya mereka pergi ke rumah sakit, menggunakan satu mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir.
Tepatnya jam 4 sore mereka semua tiba di sana. Dan Damian sudah menunggu kedatangan semua orang di depan rumah sakit.
Damian langsung memeluk Rachel dengan erat, membuat tangis Rachel makin pecah.
Sungguh, Ains pun begitu bersedih tentang hal ini. Rasanya Dia tidak sanggup melihat kesedihan suami dan adik iparnya. Setelah memeluk Rachel dengan erat, kini Damian sedikit melerai pelukannya pada sang adik, memberi ruang agar dia pun bisa memeluk sang istri.
__ADS_1
Sementara tatapannya sesekali tertuju ke arah Zen.
"Daddy belum sadar, tapi di dalam ada mommy yang menunggu kedatangan kita semua," jelas Damian.
"Ayo kak, Aku ingin segera bertemu dengan mommy," sahut Rachel.
"Tapi tenangkan dirimu lebih dulu Rachel, di rumah sakit kita tidak boleh mengganggu pasien yang lain," jelas Damian, selain alasan ini dia pun tak ingin tangis Rachel jadi sumber kesedihan semua orang.
Mom Jilliana pasti akan semakin terpukul ketika melihat anaknya menangis seperti ini. Sementara yang harus mereka lakukan sekarang adalah tetap tenang, jadi penguat untuk satu yang lainnya.
Dan mendengar ucapan sang kakak yang penuh perintah itu pun, akhirnya Rachel coba menenangkan dirinya sendiri, berulang kali menarik dan membuang nafasnya perlahan, juga menghapus semua air matanya agar secepatnya hilang.
Setelah Rachel cukup tenang, barulah Damian mengajak mereka semua untuk segera masuk ke dalam rumah sakit, menuju ruangan di mana sang ayah mendapatkan perawatan.
Meskipun saat ini Rachel sudah tidak menangis lagi tapi tenggorokannya tetap saja terasa begitu tercekat, tubuhnya pun gemetar seolah tak sanggup menghadapi kenyataan tentang kondisi sang ayah.
Zen dapat melihat kecemasan Rachel dengan jelas, jadi dia bergerak tanpa sadar menggenggam erat tangan Rachel, hingga jari-jari mereka saling bertautan.
Kak Ains dan kak Damian tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan sebab keduanya berjalan di depan, sementara Rachel dan Zen mengikuti di belakang.
"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku," kata Zen suara yang terdengar cukup pelan.
Rachel tak mampu menjawab dengan kata-kata, dia hanya mampu mengangguk.
"Daddy Bastian adalah orang yang kuat," kata Zen lagi, terus memberikan dukungan.
"Kamu sudah memaafkan Daddy Zen?" tanya Rachel, lalu menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis.
Zen pun mengangguk. Dia bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah memberikan kata maaf, namun ketika melihat Rachel seperti ini seketika kepalanya mengangguk dengan sendirinya.
"Terima kasih," kata Rachel, nyatanya dia tak sanggup menahan air matanya, jatuh lagi dan dia hapus dengan cepat-cepat.
Zen kemudian melepaskan genggaman tangan mereka, kini dia memeluk pundak Rachel.
__ADS_1