Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 100 - Kesepian Yang Menyiksa


__ADS_3

1 bulan kemudian setelah pesta pernikahan Damian dan Ainsley digelar.


Eric masih sering datang ke Zen Minimarket, tapi sekarang dia tidak pernah lagi bertemu dengan Ains. Dia hanya bertemu dengan Rania dan sesekali remaja yang selalu menggunakan masker. Eric tidak tau bahwa remaja itu adalah inspirasi dari nama toko ini, Zen.


Sementara Helena benar-benar putus asa, sebab Tante Jilliana pun tidak bisa memberinya dukungan apapun. Bahkan terakhir saat Helena datang menemui Tante Jilliana, wanita paruh baya itu malah mengatakan terang-terangan jika dia akan coba menerima Ains. Kini Tante Jilliana hanya sedang meluluhkan hati sang suami.


"Arght! Sial! Sial Sial!" pekik Helena, dia berada di dalam mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah utama keluarga Lynford. Bingung mau kemana lagi setelah semua ini.


Drt drt drt, suara ponsel berdering dan membuat Helena makin frustasi, tanpa melihat siapa yang menelponnya Helena langsung saja menjawab panggilan tersebut.


"Halo!" jawab Helene dengan nada tinggi, dipikirnya yang menelpon ada sang mama.


"Akhirnya kamu menjawab teleponku, Hel," jawab seorang gadis di ujung sana. Lalu tertawa kecil dan membuat Helena langsung tau suara milik siapa ini.


Vanesa, wanita yang dulu menjadi saingan Helena untuk mendapatkan Damian. Dengan sesumbar Helena mengatakan pada Vanesa dan semua teman-temannya bahwa dia akan menikah dengan Damian, dan saat itu terjadi Vanesa harus mencium kakinya. Begitupun sebaliknya, jika Helena tidak berhasil menjadi istri seorang Damian Lynford, maka Helena akan mencium kaki Vanesa.


"Kemana saja kamu? Aku dan teman-teman sudah menunggu, kami ingin melihatmu mencium kakiku," kata Vanesa, lalu tertawa lagi dengan sangat puas.


"Kurang ajar!" maki Helena pula, lalu dia putuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Arght!!" pekik Helena lagi.


Dia benar-benar sudah tidak bisa lagi hidup di kota ini. "Sial! apakah aku harus pergi ke luar negeri! Akhh!!" Helena menangis sendirian. Benci sekali dengan kehidupannya yang jadi berantakan seperti ini.


Sementara Ainsley makin lama makin tak bisa dia sentuh, karena mendapatkan perlindungan penuh dari Damian.


Masih putus asa seperti ini, tiba-tiba Helena melihat sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah ini. Dia lantas menghapus air matanya sendiri dan melihat Siapa yang datang, betapa terkejutnya dia ketika melihat Damian lah yang turun dan turun dari dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Helena sontak buru-buru membuka pintu juga dan berlari menghampiri kak Damiannya. datang dengan wajahnya yang sudah sembab.


"Kak Damian!" ucap Helena, karena berlari kini suaranya jadi terengah. Sementara Damian langsung mengambil langkah mundur untuk menciptakan jarak aman di antara mereka berdua.


Langkah mundur yang membuat Helena jadi menatapnya dengan nanar. Hubungan di antara mereka benar-benar telah berubah, dari dulu yang begitu dekat kini jadi sangat berjarak.


"Kenapa jadi seperti ini Kak, padahal selama ini aku yang selalu mendampingi kamu," lirih Helena.


"Jangan tanyakan pertanyaan itu padaku, tapi tanyakanlah pada dirimu sendiri, kenapa kamu berubah begitu banyak."


Helena terdiam.


Lalu bicara lagi saat melihat kak Damian hendak berlalu melewatinya begitu saja.


"Kak Damian yang salah! selama ini Kak Damian selalu memperlakukanku dengan spesial!" maki Helena.


"Tapi_"


"Cukup Hel, apa yang sudah rusak tidak akan bisa diperbaiki lagi. lebih baik mulai sekarang kita jadi orang asing," putus Damian. Akhirnya dia benar-benar berlalu begitu saja dan meninggalkan Helena. Tidak peduli meski wanita itu sesekali masih memanggil namanya.


"Kak ..." lirih Helena pula, yang hanya ditemani oleh tangisnya sendiri.


Damian kembali datang ke rumah ini Bukan tanpa tujuan. Dia ingin menyampaikan kabar bahagia tentang kehamilan sang istri pada ayah dan ibunya.


Sebenarnya Demian memang sudah enggan untuk melakukan ini semua, sudah berniat untuk benar-benar memutus hubungan di antara mereka, tapi ... Ains tidak menginginkan keputusannya tersebut. Ains ingin Damian terus mencari cara untuk memperbaiki hubungan mereka.


Ains selalu berdoa agar anak ini menjadi penghubung di antara mereka.

__ADS_1


Karena itulah hari ini dan yang datang.


Menghadap pada mom Jilliana yang kini malah terlihat lebih kurus daripada sebelumnya.


"Mom," panggil Damian.


Dan langsung dibalas oleh tangisan mom Jilliana. "Dam, kamu datang Nak, apa Rachel dan Ains ikut?" tanya mom Jilliana, dia benar-benar merasa kesepian hingga tak bisa dengan baik melanjutkan hidupnya. Kesepian yang sangat menyiksa.


Sementara kenangan di saat mereka semua masih berkumpul bersama terus menghantui, bahkan dinginnya wajah Zen selalu dia ingat dengan jelas, pertengkaran di antara Amara dan Joshua pun terngiang-ngiang di dalam telinganya. Dan bayangan saat dia menggendong Rora dan bercengkrama dengan Bibi Ema sangat dia rindukan.


Retaknya hubungan dua keluarga bukan karena karena Damian dan Ains, tapi karena egonya sendiri yang terlalu tinggi. Kini mom Jilliana juga sadar bahwa selama ini Helena selalu meracuni dia dengan pemikiran-pemikiran buruk tentang Ains.


Dan mendengar pertanyaan sang mommy seraya melihat tangisnya yang begitu pilu membuat Damian jadi merasa tidak tega sendiri, menyesal pula karena baru sekarang dia bersedia mendatangi rumah ini. Padahal sejak menikah dengan Ains, setiap hari istrinya itu selalu meminta dia untuk berkunjung ke sini.


"Boleh mommy memeluk mu Dam?" tanya mom Jilliana pula dan Damian hanya mampu mengangguk. Entah sudah berapa lama mereka berselisih seperti ini dan pada akhirnya kembali saling memeluk dengan erat. Masalah yang awalnya hanya kecil jadi bergulir kemana-mana sampai menghancurkan sebuah keluarga, jika ingat hal itu rasanya lelah sekali. Dan kini mom Jilliana memeluk anaknya dengan erat. "Maafkan mommy Dam, maafkan mommy," ucap mom Jilliana pula.


"Tidak Mom, akulah yang salah," balas Damian pula, Ternyata dia tidak sanggup ketika melihat mommynya nampak terpukul seperti ini. Mengingatkannya pada kejadian 17 tahun lalu, disaat mommy Jilliana menangis dan meminta maaf pula, maaf karena tidak bisa menjaga Damian dengan baik hingga Damian berakhir jadi korban penculikan anak.


Pada akhirnya Damian pun memeluk mommynya erat sekali. Berulang kali juga meminta maaf atas semua yang terjadi. "Apa Ains akan memaafkan mommy Dam? Apa Rachel akan memaafkan mommy?" tanya mom Jilliana dengan cemas, takut jika dia telah terlambat.


"Tentu Mom, Rachel sangat merindukan mommy, Ains juga," jawab Damian.


"Apa mommy ingin bertemu dengan merek sekarang?" tanya Damian pula namun mom Jilliana ragu untuk menjawab.


"Bagiamana dengan Daddy? Dimana Daddy sekarang?" tanya Damian, terus bertanya karena mom Jilliana hanya diam.


"Daddy ada di kamar, dia sakit," jawab mom Jilliana dengan tenggorokan yang terasa tercekat.

__ADS_1


__ADS_2