
Pagi di rumah Ainsley, mereka tidak terlalu sibuk karena mulai sekarang sudah ada kak Rania yang berjaga di toko. Zen, Amara dan Joshua pun bersiap-siap sendiri untuk pergi ke sekolah.
"Kak, apa siang nanti kita akan benar-benar pergi ke rumah om Damian?" tanya Joshua, dia juga mulai membiasakan memanggil pria dewasa itu dengan nama om Damian, tidak lagi om Ford.
"Iya sayang, Joshua mau kan?" balas Ainsley pula dan Joshua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Hanya wajah Zen yang nampak tak antusias tentang hal tersebut, tapi sejak dulu wajahnya memang seperti itu. Jadi tak ada satupun yang bertanya apakah dia bersedia atau tidak.
Jam 1 siang akhirnya Zen pulang sekolah, dia sudah melihat dua mobil mewah terparkir di halaman rumah sederhananya.
Sudah bisa langsung menebak bahwa itu adalah dua mobil milik Om Damian.
"Zen, kamu sudah pulang. Ganti baju dan makan lah dulu, adik-adikmu sudah menunggu," titah Ainsley.
Zen menganggukkan kepalanya kecil, dia melihat om Damian dan om Leo duduk di ruang tamu.
Ainsley bahkan masuk ke dapur dulu untuk menyiapkan makanan Zen, meski mereka akan pergi untuk makan siang bersama di rumah kak Damian. Tapi tetap saja Ainsley tak bisa melihat perut adiknya kosong, belum lagi jika nanti di sana adik-adiknya merasa tidak nyaman, jadi Ains harus pastikan sendiri bahwa semuanya sudah makan dengan cukup.
15 menit kemudian akhirnya mereka semua pun pergi, dua mobil beriringan menuju rumah utama keluarga Lynford.
Naik mobil mewah seperti itu Amara, Joshua dan Rora senang sekali. Berulang kali memainkan tombol yang ada di mobil tersebut, memainkan kacanya naik dan turun.
__ADS_1
Sementara bi Ema malah merasa tidak nyaman, jadi ingin muntah rasanya. Tau begini dia naik motor saja bersama dengan Zen.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, sebuah rumah megah dan mewah mereka datangi hingga membuat anak-anak itu sampai tercengang menatapnya.
"Di dalam nanti jaga sikap kalian ya," pinta bibi Ema dan para anak mengangguk patuh. Damian menggendong Rora untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Mommy Jilliana, Daddy Bastian dan Rachel langsung menyambut keluar. Langsung memeluk meski mereka masih berada di teras.
"Hampir saja mommy marah jika kamu tidak datang," ucap mom Jilliana, setelah memeluk Ainsley dia mencubit gemas hidung sang anak. Ya, baginya kini Ainsley adalah anaknya juga.
"Rora sayang, gendong Oma ya?" pinta mom Jilliana pula pada balita tersebut, tapi Rora menolak, justru memeluk om Damian semakin erat.
Dan selalu ada saja perasaan canggung bagi Rachel tiap kali bersitatap dengan Zen.
Padahal diawal kepergian mereka tadi dan sepanjang perjalanan, semua anak-anak merasa takut dan gugup. Takut yang disayang hanya kak Ainsley, tapi ternyata mereka juga.
Di meja makan sudah tersaji banyak sekali makanan, disaat anak-anak malu dan takut untuk mengambil, mom Jilliana adalah yang sibuk sendiri memasukkan makanan itu di piring anak-anak. Rumah yang terasa ramai seperti ini begitu menyenangkan bagi mom Jilliana, tak apa meski dia kadang harus mengomel, tapi kebahagiaan seperti ini jelas tak bisa dia beli dengan uang.
Di sela-sela kebersamaan itu, Damian berulang kali melirik ke arah sang kekasih. Terus mencuri-curi kesempatan agar mereka memiliki waktu untuk saling menyentuh.
Bukan apa-apa, Ainsley sebelumnya sudah melarang Damian menunjukkan kemesraan di hadapan umum seperti ini. Selain merasa takut, bagi Ainsley tindakan tersebut juga tidak sopan.
__ADS_1
Biarlah hubungan mereka ini cukup keduanya saja yang tau, sebelum diutarakan bersama pada Daddy Bastian dan mom Jilliana.
"Kak Ains, ayo kita pergi ke kamar kakak. Kamar itu bahkan sudah ada sejak 17 tahun lalu," ucap Rachel dengan tidak sabaran, sebegitunya mereka menunggu kedatangan Ainsley di rumah ini.
"Benarkah? Aku jadi benar-benar terharu," balas Ainsley dengan kedua mata yang melengkung sendu.
Rachel justru tertawa dan memeluk lengan kak Ains erat. Dia langsung menarik kakak perempuannya tersebut untuk naik ke lantai 2, bahkan meninggalkan anggota keluarga lain yang masih berkumpul di ruang tengah. Baru saja mereka berkeliling ke kamar anak-anak yang lain yang ada di lantai 1.
Kesempatan itu tak Damian sia-siakan, dia langsung menyusul Rachel dan Ainsleynya.
"Ini kamar kak Damian, ini kamarku, ini kamar kak Ainsley," terang Rachel, kamar mereka bertiga memang bersebelahan. Sebuah tempat yang membuat hati Ains jadi sendu sendiri, dan makin tercengang ketika Rachel membawanya masuk ke dalam kamarnya itu, kamar dengan nuansa merah muda, warna kesukaannya ketika kecil. Warna yang pernah kak Damian tanya di dalam penjara, dan Ains menjawab merah muda.
Kini dia tidak bisa memiliki kamar seperti ini karena banyak hal yang harus dia pikirkan lebih dulu, sekolah adik-adiknya dan untuk makan mereka sehari-hari.
"Kamar ini indah sekali," ucap Ains lirih.
"Seindah kamu ya?" goda Damian yang tiba-tiba datang, hingga membuat Ainsley dan Rachel sama-sama geli mendengarnya.
"Hii, apaan sih kak!" kesal Rachel pula, tanpa diketahui olehnya diam-diam Damian menyentuh pinggang Ains sejenak.
Memeluknya sesaat.
__ADS_1
Perlakuan sederhana, tapi manis sekali.