
"Kamu serius Al? Ains seorang penari striptis?" tanya Megan setelah Helen berlari karena tiba-tiba mual.
Aldian hanya mampu mengangguk, dia lantas merogoh ponselnya dan coba untuk menghubungi Damian. Ingin mempertanyakan langsung benarkah Damian mengeluarkan banyak uang hanya demi wanita itu. Wanita yang tidak jelas asal usulnya dan tidak jelas pula apa hubungan mereka.
Aldian hanya tidak ingin Dimanfaatkan oleh Ains, apalagi mengingat masa lalu wanita tersebut. Bahkan hal tak mungkin kejadian seperti akan terjadi.
Tut Tut Tut! Panggilan itu terhubung, tapi sayang Damian tidak menjawabnya. Baru ingat jika akhir pekan seperti ini Damian memang sulit untuk ditemui, pria itu benar-benar menghabiskan semua waktunya untuk Ains.
Shiit! Batin Aldian. Dia teelah termakan semua omongan Helena.
"Al, kenapa wajahmu jadi mengerikan seperti itu?" cemas Megan, "Ku pikir kita tidak boleh terlalu percaya dengan Helena, dia seperti itu karena cemburu. Harusnya kamu pertanyakan baik-baik pada Damian lebih dulu, baru bisa menyimpulkan," timpal Megan lagi.
Meskipun terkejut karena kebenaran tentang Ains, tapi dia paling anti dengan semua ucapan Helena. Megan sangat paham bagaimana perangai wanita itu, dia hanya akan melakukan apapun demi kepentingannya sendiri.
Dan mendengar ucapan Megan, Aldian jadi mengusap wajahnya kasar. Seperti pria yang tak punya kepribadian, karena kini dia pun membenarkan pula ucapan Megan tersebut.
Pembicaraan mereka terjeda saat melihat Helena mulai kembali menghampiri. "Aku pergi," pamit Helena dengan suara yang terdengar habis, cukup banyak dia memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.
"Jangan gegabah kamu Hel. Ku harap kamu tidak langsung mengatakan ini semua pada Om Bastian dan Tante Jilliana. Pastikan semuanya lebih dulu pada Damian," ucap Aldian hingga membuat langkah kaki Helena jadi terhenti.
Wanita itu tersenyum miring, lantas kembali menatap ke arah Aldian. "Aku tau apa yang harus aku lakukan," ucapnya, dia tak suka diatur-atur oleh orang lain.
Dan setelahnya Helena pun benar-benar keluar dari apartemen tersebut.
"Lihatlah, dia tidak benar-benar perduli pada Damian. Dia hanya cemburu karena Damian mencintai wanita lain, bukan mencintai dia!" ucap Megan menggebu, sebagai sesama wanita dia sangat memahami tentang hal ini.
Sedangkan Aldian seketika terdiam, menyesalkan tentang dirinya yang telah terhasut oleh Helena.
Sekarang wanita itu telah mengetahui tentang masa lalu Ains, lalu bagaimana dengan Damian?
Entahlah, seketika pikiran Aldian jadi buntu.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Helena putuskan untuk menginap di hotel. Dia enggan pulang ke rumahnya, enggan pula pulang ke rumah Tante Jilliana.
Helena menginap di sebuah hotel yang tak begitu jauh dari apartemen Luxury. Rasa keingintahuannya belum terpuaskan, dia masih ingin terus melihat hubungan Damian dan jallang tersebut.
*
*
Pagi pun datang.
Ainsley sedikit kesulitan berjalan. Jadi dia lebih banyak digendong oleh Damian saat hendak melakukan apapun.
Setelah sarapan bersama Damian menghubungi sang asisten untuk mengurus semua pelunasan pinjaman Ainsley di bank. Leo juga dia perintahkan mencari karyawan untuk Zen Minimarket, jadi Ainsley dan bibi Ema tidak perlu lagi berjaga dengan penuh, mereka masih bisa sesekali mendatangi.
Ainsley tak bisa menolak semua itu, karena Damian pun melakukan semuanya sendiri, tidak butuh izin sang wanita.
"Kak," panggil Ainsley setelah nampak kak Damian memutuskan sambungan telepon itu.
"Tapi_"
"Tidak ada tapi, mulai sekarang kamu adalah tanggung jawabku."
"Tapi_"
Cup! Cium Damian agar Ainsley berhenti melayangkan protes.
*
*
Di Zen Minimarket, bibi Ema di buat heran saat ada seseorang yang mengaku asisten pribadi tuan Ford datang menghadap.
__ADS_1
Zen juga langsung maju untuk mempertanyakan tujuan pria itu datang.
"Anda siapa?" tanya Zen dengan suara yang dingin, dia bahkan masih memakai masker warna hitamnya.
"Saya adalah Leo Tuan, saya asisten pribadi tuan Ford. Saya datang ke sini membawa berbeda orang yang bisa anda pilih untuk jadi karyawan di Zen Minimarket," terang Leo, dia lantas menunjuk ke arah luar, di sana sudah berderet beberapa orang wanita, mungkin sekitar 15 orang.
Kata tuan Damian harus wanita, tidak boleh Pria. Alasannya jelas dia tak ingin karyawan tersebut nanti menggoda nona Ains.
Leo bingung kriteria yang diinginkan oleh bibi Ema dan Zen seperti apa, karena itulah dia bawa semua dan biarkan mereka yang memilih sendiri. Lagipula orang-orang itu adalah yang terbaik dari semua pilihan.
Bibi Ema tercengang, Joshua yang sedang menggendong Rora pun tercengang juga, sementara Amara sudah menganga mulutnya. Sedangkan Zen menatap tanpa minat.
"Aku akan hubungi kak Ains dulu," jawab Zen mengambil keputusan, bibi Ema dan yang lain langsung mengangguk setuju.
Dan saat Zen menghubungi sang kakak, akhirnya dia tau bahwa pria dewasa bernama Leo ini memanglah benar utusan om Ford.
Panggilan itu putus dan Zen kembali menghadapi om Leo.
"Baiklah, aku akan pilih salah satu diantara mereka," putus Zen.
Leo tersenyum lebar, senang karena tugasnya selesai.
Seolah wanita dewasa bernama Rania adalah pilihan Zen.
"Perkenalkan, nama saya adalah Rania. Biasa dipanggil kak Ran," ucapnya memperkenalkan diri pada semua orang.
"Rania memang bekerja di sini, tapi dia adalah karyawan kami. Jadi kami yang akan membayarnya," terang Leo.
"Tidak," balas Zen dengan cepat, "Kak Ran bekerja di sini, jadi kami yang akan membayarnya," putus Zen tak bisa dibantah. Ini adalah usaha keluarga mereka, Zen tidak ingin bergantung pada siapapun. Termasuk pada kekasih kakaknya.
Leo sampai kehabisan cara menghadapinya anak dengan sorot mata dingin tersebut.
__ADS_1
Astaga, dia masih kecil tapi sudah terlihat mengerikan. Batin Leo.