
"Kalian ingin pulang atau menginap di sini?" tanya bibi Ema setelah pembicaraan serius tentang mom Jilliana dan dad Bastian berakhir.
"Bagaimana Kak?" tanya Ains pula pada sang suami, dia akan mengikuti apapun keputusan suaminya tersebut, termasuk mau menginap di sini atau tidak. Ains menatap ke arah sang suami dengan intens. Tiap kali suaminya hendak bicara, Ains selalu menatap intens seperti ini.
"Pulang saja ya, kita harus siapkan baju Rachel. Nanti biar pelayan yang mengantarnya ke rumah sakit," jawab Damian.
"Biar aku saja yang antar bajunya kak," sahut Zen yang tiba-tiba datang ke ruang tengah tersebut. Zen terlihat lebih segar, nampak jelas jika remaja tersebut baru saja selesai mandi.
"Ya sudah tidak apa-apa kalau kamu mau antar, kalau begitu kita pulang sekarang saja," putus Damian pula dan semua orang mengangguk patuh.
Di dalam mobil yang sedang melaju, Ains menoleh ke belakang dan melihat adiknya. Akhirnya merasa heran kenapa kini Zen nampak begitu peduli dengan Rachel, padahal selama ini Zen yang paling nampak acuh.
"Zen, kenapa tiba-tiba kamu ingin mangantar kan baju Rachel? Padahal kan bisa meminta tolong pada pelayan," tanya Ains.
Damian yang sedang fokus mengemudi tidak ikut bicara, dia hanya mendengarkan sekaligus tetap fokus menatap jalan raya. Hanya sesekali melirik ke arah istrinya.
"Tidak apa-apa Kak, aku hanya kasihan pada Rachel," jawab Zen, seperti biasa dia bicara dengan suaranya yang terdengar dingin.
Dan mendengar jawaban itu Ains pun mengangguk kecil, mengiyakan pula. Rachel tentu sangat terpukul datas kondisi sang ayah, apalagi selama ini Rachel pun begitu merindukan kedua orang tuanya.
Puas mendengarkan jawaban sang adik, Ains pun tidak mengajukan pertanyaan lagi. Dia kembali duduk menghadap ke depan.
Tiba di rumah Damian, Ains langsung menyiapkan baju ganti untuk sang adik ipar. 1 koper kecil telah siap diantarkan oleh Zen.
"Kenapa tidak bawa mobil saja, Zen?" tanya Damian, karena Zen lebih pilih untuk pergi menggunakan motornya yang masih tertinggal di rumah ini.
"Tidak usah kak, nanti setelah mengantarkan baju untuk Rachel aku akan langsung pulang ke rumah," jawab Zen.
"Benar bisa membawa koper itu di depan?"
"Iya bisa," jawab Zen yakin.
Ains tersenyum kecil, "Zen bisa Kak, dia sudah biasa mengantarkan barang-barang untuk para pelanggan menggunakan motor itu," jelas Ains pula. Dia tentu sudah biasa melihat sang adik membawa barang menggunakan motor seperti ini, sementara Damian tidak.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati. Jika sudah tiba di rumah kabari kak Ains," balas Damian pula dan Zen pun mengangguk.
Remaja tampan tersebut segera menyalakan mesin motornya dan pergi dari sana. Tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan beberapa menit.
Zen datang tanpa mengatakan apapun pada Rachel lebih dulu, tiba-tiba dia sudah mengetuk pintu kamar dengan membawa koper tersebut.
Rachel yang membukakan pintu pun sampai terkejut dibuatnya. "Zen," ucap Rachel dengan kedua mata yang membola.
"Aku tidak lama, hanya mengantar baju untuk mu," jawab Zem langsung.
"Ayo masuk dulu," ajak Rachel pula, dia membuka pintu lebar-lebar.
"Tidak, aku akan langsung pulang."
"Aku panggil mommy sebentar."
"Tidak usah, bawalah masuk koper ini," balas Zen, dia mendorong koper kecil tersebut lalu diserahkannya pada sang pemilik.
Namun Zen tidak ingin mendengar panggilan tersebut, dia tidak lagi menoleh ke belakang dan tetap jalan lurus meninggalkan lantai khusus ruangan VIP tersebut.
Sementara Rachel buru-buru menarik kopernya untuk masuk. Bertemu mom Jilliana di ruang tengah. "Mom, aku turun sebentar. Tadi Zen mengantarkan koper ini tapi dia langsung pulang," jelas Rachel.
Mom Jilliana hanya sempat mengangguk, karena setelah sang anak menyampaikan hal tersebut, Rachel langsung berlari keluar.
"Ya ampun anak-anak itu," gumam mom Jilliana, kini Rachel telah benar-benar menghilang dari pandangannya.
Keluar dari ruangan sang ayah lari Rachel makin kencang saja, namun dia usahakan pula agar larinya tak terlalu menimbulkan suara. Rachel terus berlari sampai akhirnya tiba di lobby rumah sakit, di sana akhirnya dia melihat punggung milik Zen.
"Zen!" panggil Rachel, dia berhenti tepat di hadapan Zen dengan nafas yang terengah.
"Kenapa kamu ke sini? aku akan langsung pulang," kata Zen.
"Aku akan mengantarmu sampai di parkiran," jawab Rachel, nafasnya makin naik turun. Rachel sampai tidak sadar jika Zen menatapnya dengan lekat.
__ADS_1
"Buang-buang waktu," ucap Zen tanpa perasaan. Hingga membuat Rachel mendengus kesal. Namun meski begitu mereka tetap berjalan bersama menuju area parkir rumah sakit tersebut.
Kini matahari telah tenggelam, di sana hanya diterangi oleh lampu-lampu sorot. "Masuklah, aku tidak pernah memintamu untuk mengantarkan ku seperti ini," kata Zen.
"Terima kasih," sahut Rachel pula, daripada menanggapi ucapan Zen tersebut dia lebih pilih untuk mengucapkan kata terima kasih. "Terima kasih karena sudah mengantarkan bajuku," timpal Rachel kemudian.
"Aku dipaksa kak Ains," bohong Zen.
Sebuah jawaban yang berhasil membuat bibir Rachel jadi mencebik. Padahal dia sudah terharu Zen datang lagi ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan bajunya, tapi ternyata malah dipaksa oleh kak Ains.
"Hais, tau begitu aku tidak mengantarmu sampai ke sini," kesal Rachel.
"Memang, sudah ku bilang tindakanmu ini hanya buang-buang waktu."
Rachel makin menekuk wajahnya.
"Apa besok kamu sekolah?" tanya Zen kemudian.
"Tentu saja, besok kan ada ujian! Aku bisa pergi dari sini," jawab Rachel, jadi bicara dengan nada ketus.
"Besok pagi aku akan menjemputmu."
"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri!" kesal Rachel.
"Aku akan tetap datang," balas Zen.
"Tidak usah, aku akan meminta Reino saja yang menjemput ku!" jawab Rachel asal.
"Jangan merepotkan orang lain, Reino tidak sekolah di tempat kita," balas Zen, mereka malah jadi berdebat.
"Kenapa kamu yang protes? Reino pasti mau mengantarku tanpa paksaan, karena selama ini Reino selalu baik padaku!" kesal Rachel, "Pulanglah sana! Aku akan masuk lebih dulu!" timpal Rachel, dia menghentakkan salah satu kakinya sebelum benar-benar berbalik dan pergi.
Kini giliran Zen yang hanya mampu menatap punggung gadis tersebut.
__ADS_1