Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 29 - Mungkin Aku Salah Dengar


__ADS_3

"Zen, bisa kita bicara berdua?" tanya Ainsley, dia bertanya seperti itu setelah mereka semua selesai makan siang bersama.


"Baik, Kak," jawab Zen dengan patuh. Rora juga sudah berada di dalam gendongan Bibi Ema, jadi Ainsley dan Zen bisa bicara di dalam kamar remaja tersebut.


Ya, Ainsley memutuskan untuk mereka berdua bicara di dalam kamar Zen. Ainsley pilih duduk di tepi ranjang dan Zen menarik kursi belajarnya untuk mendekati sang kakak.


"Kak Ainsley mau bicara tentang apa?" tanya Zen, justru dia yang lebih dulu memulai pembicaraan di antara mereka berdua, seolah menunjukkan kedewasaan yang dia punya.


"Apa selama ini kamu diam-diam menabung?" tanya Ainsley.


Zen hanya bisa mengangguk, "Kenapa? Jadi di sekolah kamu tidak jajan?"


"Pagi di rumah aku sudah sarapan, jadi di sekolah aku tidak merasa lapar lagi."


Ainsley justru ingin menangis ketika mendengar kalimat itu, tapi dia tidak ingin memutuskan hati Zen dengan menyalahkannya. Cukuplah Ainsley menyalahkan diri sendiri yang belum mampu memberikan yang tebaik untuk adik-adiknya. Rumah yang mereka huni juga belum jadi hal milik, tiap bulan Ainsley harus membayar angsuran ke bank.


"Bibi Ema tadi bicara pada kakak, katanya bibi dan Zen menabung, jika ditambah uang tabungan keluarga kita, kita bisa menyewa ruko di pinggir jalan dan membuka toko. Apa ide seperti itu berasal darimu?"


"Iya kak," jawab Zen singkat, Amara dan Joshua sudah cukup besar untuk menjaga Amora. Pagi bibi Ema dan kak Ainsley bisa bergantian menjaga toko. Pulang sekolah aku bisa jadi kurir untuk memperluas penjualan kita. Aku sudah memikirkan ini sejak lama." Terang Zen.


"Apa kamu tau ruko yang bisa kita sewa? Bukankah ada temanmu yang tinggal di daerah sana?"

__ADS_1


Zen tersenyum saat mendengar tanggapan sang kakak, merasa gagasannya diterima dengan baik. "Iya Kak, teman ku Reino tinggal di daerah situ. Jika kakak ingin lihat-lihat kita bisa pergi sekarang juga," balas Zen penuh dengan semangat.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita bersiap. Kita cari Ruko yang bagus, yang sesuai dengan uang kita. Setelah itu kakak akan cari mintra untuk mendapatkan barang-barang isi toko dengan harga miring," jelas Ainsley.


Dulu bibi Ema punya warung kecil, tapi di pinggiran kota usaha tersebut tak bisa berkembang. Karena itulah mereka semua mutuskan untuk pergi ke kota dan mengandalkan Ainsley untuk bekerja.


Kini akhirnya mereka memutuskan untuk kembali membuat usaha. Membuka toko berbagai macam kebutuhan pokok, serta berbagai kebutuhan sehari-hari.


Saat Ainsley kembali ke dalam kamarnya untuk mulai bersiap-siap pergi, dia melihat ponselnya menyala ada tanda pesan masuk, ternyata ada pula panggilan tak terjawab dari kak Ford.


Melihat itu semua Ainsley putuskan untuk langsung menghubungi, tak butuh waktu lama panggilannya pun mendapatkan jawaban.


"Kak," panggil Ainsley dengan segera.


"Maaf, aku tadi bicara dengan Zen."


"Kenapa dia?"


"Tidak ada apa-apa, hanya bivara sedikit."


"Rora?"

__ADS_1


"Dia sudah 100 persen sehat, tadi juga makannya banyak."


"Lain kali jika ada yang sakit kabari aku, kita langsung pergi ke rumah sakit bersama-sama."


"Iya Kak."


"Jangan iya iya saja."


"Iya Kak Ford!" balas Ainsley dengan suara yang lebih tinggi, hingga membuat Damian akhirnya terkekeh.


"Damian," panggil Helena tiba-tiba dan terdengar pula oleh Ainsley di ujung sana. Sebuah nama yang membuat jantung Ainsley jadi berdenyut nyeri.


Damian juga sama terkejutnya, jadi dia buru-buru memutuskan sambungan telepon tersebut, "Ains, nanti aku akan menghubungimu lagi," kata Damian.


Tut! panggilan itu mati.


Ainsley terdiam sesaat, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan satu kata tersebut.


"Damian?" gumamnya dengan suara yang bergetar. Ainsley sadar, di dunia ini nama Damian jelas tak hanya ada satu, tapi entah kenapa nama itu selalu mampu membuat hatinya berdesir nyeri.


Sebuah ikatan yang terjalin lama namun rasanya sulit sekali untuk dilupakan.

__ADS_1


Damian Lynford.


"Mungkin aku salah dengar," ucap Ainsley kemudian.


__ADS_2