Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 74 - Ains, kamu menangis?


__ADS_3

"Mommy mohon sayang, ini semua demi Damian," pinta mom Jilliana lagi, dia sampai ingin bersimpuh untuk keinginannya tersebut, namun Ainsley menahannya dengan cepat.


Mom Jilliana hanyalah seorang ibu yang tak ingin keluarganya jadi hancur, seorang ibu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Karena itulah dia sampai bertindak sejauh ini.


Dan meski mom Jilliana mengatakannya dengan sangat lembut, dengan permohonan yang nampak jelas, nyataya tetap membuat luka di hati Ainsley.


Fakta sampai kapanpun memang tak akan pernah berubah, bahwa dia dan Kak Damian memang sangat berbeda, kasta yang begitu jauh. Ainsley hanya wanita biasa dengan masa lalu yang kelam, sementara Damian seorang pewaris dengan kehormatan yang tak diragukan.


Ainsley hanya terdiam, tak tau harus menjawab apa. Karena ini semua sangat berbeda dengan angan-angan yang dia ciptakan bersama kak Damian.


*


*


Seharian Ainsley merenungkan permintaan mom Jilliana tersebut. Sedikit pun dia tidak menunjukkan senyumnya, meski hanya senyum hambar.


Rania yang sejak tadi mengawasi pun langsung melaporkan semuanya pada asisten Leo. Meski bekerja di di sini dan Zen yang membayarnya, tapi tetap saja Rania adalah mata-mata yang ditugaskan oleh Leo, untuk selalu melindungi nona Ainsley, wanita sang Tuan Muda.


'Nyonya Jilliana datang dan nampak memohon, setelah itu nona Ainsley nampak begitu murung,' lapor Rania dalam pesan singkatnya.


Leo di ujung sana pun langsung menghubungi tuan Marcel untuk meminta nomor ponsel baru milik tuan Mudanya. Leo pun telah mengetahui tentang perginya tuan Damian dari keluarga Lynford.


Dia masih diam di sini karena belum mendapatkan perintah apapun dari sang Tuan, tuan baginya adalah tuan Damian, bukan tuan Bastian.

__ADS_1


"Diam-diam lah saat menghubungi Damian, Leo. Ini demi kebaikan kita semua. Lagipula sekarang Damian sudah bergabung dengan perusahaan Davidson," ucap Marcel. Kini dia sedang bersama dengan Aldian, membicarakan pula tentang hal ini. Mereka berdua sepakat untuk tetap membantu Damian meski dibawah tekanan om Bastian.


"Baik Tuan," jawab Leo patuh.


Setelah Leo mendapatkan nomor ponsel yang baru milik Tuannya, dia pun langsung menghubungi tuan Damian.


Tapi sayang, panggilannya tidak mendapatkan jawaban.


Bahkan dia coba mengirim pesan, pesannya itupun tak langsung diterimakan, masih pending.


"Tuan Damian pasti sangat sibuk," gumam Leo.


Akhirnya dia kembali menghubungi Rania dan tetap memastikan sang Nona dalam keadaan aman.


*


*


Saat malam pun Damian tidak pulang ke rumah Ainsley.


Damian yang mendadak hilang seperti ini membuat Ainsley makin gundah, belum apa-apa dia telah merasa kehilangan di dalam hati, sepi yang terasa begitu menyiksa.


Tidak, aku tidak bisa kehilangan kak Damian. Bagaimana ini? Haruskah aku jadi manusia yang paling tidak tau diri? Batin Ainsley.

__ADS_1


Dia mengurung dirinya di dalam kamar. Terus menatap layar ponselnya menunggu kabar sang kekasih.


Jam 9 malam barulah telepon itu berdering, panggilan dari seseorang yang sejak tadi sudah dia tunggu.


"Kak, darimana saja? Kenapa tidak mengabari aku?" tanya Ainsley langsung.


Di ujung sana, Damian justru tersenyum. Dia duduk dan bersandar di sofa, merebahkan tubuhnya yang lelah. Mendapatkan tantangan dari tuan Erlan membuatnya bekerja dua kali lipat dari pada orang lain.


"Maaf Ains, hari ini aku sibuk sekali," jawab Damian jujur.


"Kak Damian dimana sekarang?" tanya Ainsley.


"Aku di rumah."


"Rumah mana?"


"Tentu saja rumah daddy Bastian."


Dan Ainsley tau itu adalah jawaban bohong, kini bahkan Ainsley tidak tau dimana kak Damiannya menghabiskan malam.


Begini saja sudah membuat air mata Ainsley jatuh, tak kuasa melihat kak Damian yang terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Padahal pria itu menanggung semua beban sendirian.


"Ains, kamu menangis?" tanya Damian.

__ADS_1


__ADS_2