Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 55 - Keluarga Yang Ainsley Ciptakan


__ADS_3

ini semua terjadi di luar kendali Damian. Dalam rencananya dia belum akan mengatakan tentang pertemuannya dengan Ainsley, tapi kini semuanya sudah terlanjur terbongkar.


Kedua orang tuanya pun telah mendesak untuk segera dipertemukan. Mommy Jilliana bahkan langsung berteriak memanggil Rachel untuk diajak pulang menemui wanita yang telah menyelamatkan kakaknya tersebut.


Dan sekarang Damian jadi merasa menyesal sendiri karena telah menceritakannya, pasalnya sekarang Ainsley masih banyak butuh waktu untuk istirahat, sebab semalam dan pagi tadi dia terus menyentuh Ainsley dengan penuh gairrah.


Astaga, bagaimana ini? Batin Damian, jadi bingung sendiri.


"Dam, kabar baik tidak perlu ditunda-tunda, Jadi sekarang juga ayo antar kami semua untuk segera menemui Ainsley," ajak mommy Jilliana yang hingga kini hatinya masih terus diselimuti oleh rasa haru. Dia bahkan sampai melupakan semua cerita yang didapatkan dari Helena.


Sedikitpun tidak mempermasalahkan semua itu. Mommy Jilliana dan Daddy Bastian telah berjanji pada diri mereka sendiri, ketika Ainsley telah ditemukan maka mereka akan mengangkatnya jadi anak. Tak akan membeda-bedakan dengan Damian dan Rachel. Bahkan berhak pula atas sebagain harta keluarga Lynford.


"Baiklah Mom, ayo kita pergi," jawab Damian akhirnya, sebelum dia mengemudi mobilnya Damian lebih dulu mengirim pesan kepada sang kekasih, mengatakan tentang kedatangannya dan semua keluarga. Mengatakan pula bawa semua orang kini telah tahu bahwa dia adalah Ainsley yang selama ini keluarga Lynford cari.


Di ujung sana Ainsley membaca pesan tersebut dengan kedua mata yang terbuka lebar. Belum apa-apa jantungnya sudah bergemuruh hebat, keringat dingin cepat sekali menguasai dua telapak tangannya tersebut.


"Bi, Bibi Ema?!" panggil Ainsley dengan suara yang tinggi. Ainsley bahkan berlari keluar dari kamarnya, langsung lupa dengan sakit yang sejak tadi dia rasakan di inti tubuhnya.


"Ains, kenapa kamu berlari seperti itu?" cemas bibi Ema.


"Kak Damian dan keluarganya akan datang ke sini. Mereka semua sudah tau bahwa aku adalah Ainsley," terang Ainsley dengan kedua mata yang berkaca-kaca, gugup dan takut yang jadi 1.


Entah bagaimana perasaan sekarang, rasanya campur aduk. Kisah 17 tahun lalu memang begitu membekas diingatan. Hingga tiap kali mengingatkannya, selalu menghadirkan debar yang tak biasa.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Ains, bibi akan minta Zen untuk pulang," jawab bibi Ema. Zen memang masih remaja, tapi rasanya jika Zen ada di rumah ini maka akan jadi penguat untuk semua orang.


Ainsley bahkan langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Saat itu juga bibi Ema segera menghubungi Zen melalui sambungan telepon. Saat itu Zen sedang mengirimkan pesanan belanja dari salah satu pelanggan.


Mendengar ponselnya berdering Zen menghentikan motornya di tepi jalan. Zen memang tidak pernah sekalipun melewatkan panggilan telepon dari keluarganya.


Jadi satu-satunya laki-laki dewasa di keluarga membuat Zen merasa memiliki tanggung jawab yang besar, dia harus bisa melindungi semua keluarganya.


"Halo Bi," jawab Zen.


"Nak, kamu dimana sekarang?"


"Baiklah, apa bisa kamu sekarang pulang Nak? Ada yang ingin bibi katakan padamu," ucap bibi Ema pula, Zen belum tau tentang cerita Damian dan Ainsley di masa lalu.


"Baik Bi, aku akan pulang sekarang," balas Zen patuh, saat panggilan telepon itu terputus dia pun segera melajukan motornya untuk pulang.


Untunglah dia lebih dulu datang daripada rombongan keluarga Lynford.


Sepertinya diburu oleh waktu, bibi Ema pun menceritakan semua hal itu pada sang anak. Tentang masa lalu kak Ainsleynya dan seseorang yang selama ini mereka kenal dengan sebutan Om Ford.


Tentang keluarga Lynford yang bukan orang biasa, tentang om Damian yang memiliki niat serius untuk menikahi kakaknya dan sekarang tentang keluarga Lynford yang hendak datang ke rumah ini.

__ADS_1


Amara dan Joshua juga ada di sana ikut mendengarkan.


Zen juga sedikit pun tidak memotong cerita bibi Ema, di ujung pembicaraan mereka Zen bahkan hanya menganggukkan kepalanya tanda paham.


Dan setelah semua itu akhirnya mereka mendengar suara pintu yang di ketuk dari luar.


Tok tok tok!


Deg! Semua orang tentu terkejut. Hanya Rora yang tidak tau apa-apa dan kini berada di gendongan Ains.


"Kak, biar Rora aku yang gendong," pinta Amara.


"Tidak mau! Aku mau dengan mommy, wlek!" Rora justru menolak dengan lidah yang menjulur.


"Rora, tidak boleh seperti itu," tegur Ainsley, setelah bicara dengan Rora, kini tatapan Ainsley tertuju pada Amara, "Tidak apa-apa Amara, biar kakak yang gendong Rora," ucap Ainsley pula.


Joshua lantas menggenggam erat tangan Amara.


"Bibi akan buka pintunya," kata bibi Ema.


"Tidak Bi, biar aku yang buka," sahut Zen dengan cepat.


Lihatlah, keluarga itu seolah hendak melindungi satu sama lain. Keluarga yang Ainsley ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2