Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 57 - Ini Tidak Mungkin


__ADS_3

"Tidak Dad, aku akan tetap tinggal di sini bersama bibi Ema dan adik-adikku yang lain," putus Ainsley, dia pun kembali bicara sebelum Daddy Bastian menanggapi ucapanya tersebut ...


"Terima kasih karena telah mencemaskan aku selama ini, terima kasih karena sudah berusaha untuk mencariku. Bagiku ini sudah lebih dari cukup, Daddy dan semuanya tidak perlu membalas apapun padaku," timpal Ainsley kemudian. Selama ini pun dia tidak pernah merasa telah jadi seseorang yang menyelamatkan kak Damian.


Justru Ainsley lah yang merasa telah diselamatkan oleh pria itu. Kak Damian yang membuatnya menemukan harapan untuk bebas, kak Damian yang dengan kekuasaannya akhirnya mampu memberantas semua kejahatan itu.


Sudah saling mengetahui seperti ini saja, sudah cukup bagi Ainsley. Dia tidak ingin lebih, apalagi sampai hendak diberi sejumlah uang.


Keputusan Ainsley itu akhirnya tak bisa Daddy Bastian bantah, apalagi saat dilihatnya Amara yang juga menangis, sementara Joshua dan Zen menahan kesedihannya. Dia jadi tidak tega untuk memisahkan Ainsley dari semua orang.


"Baiklah kalau begitu, Daddy tidak akan memaksamu lagi," balas Daddy Bastian. "Tapi ingatlah satu hal ini Ains, sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Lynford. Daddy dan mommy adalah kedua orang tuamu, ya?" pintanya lagi dengan sangat sungguh-sungguh. Dia bahkan berulang kali meminta Ainsley untuk datang ke rumahnya bersama dengan semua keluarga baru Ains.


Sekarang mereka akan terus terhubung, mulai sekarang mommy Jilliana dan Daddy Bastian pun akan memperlakukan Ainsley seperti anaknya sendiri. Menyayanginya sama seperti mereka menyayangi Damian dan Rachel.


Dalam kesempatan ini baik Daddy ataupun mommy tak ada yang mengutarakan langsung bahwa mereka berniat untuk mengangkat Ains jadi anak. Mereka masih merasa haru, tapi percayalah kelak Daddy pasti akan melegalkan hubungan tersebut. Menjadikan Ainsley jadi anaknya yang sah secara hukum, jadi kelak Ainsley pun akan mendapatkan harta warisan darinya.


Damian juga sejak tadi hanya diam, hanya terus tersenyum merasa bahagia dengan pertemuan ini. Makin bahagia ketika dia lihat semua keluarganya pun menerima Ainsley dengan tangan yang terbuka.


"Besok pokoknya harus pergi ke rumah mommy, Damian akan menjemputmu," kata mommy Jilliana ketika keluar dari rumah tersebut, keluarga Lynford akhirnya pamit untuk pulang.


Di teras rumah tersebut, mommy Jilliana berulang kali memeluk Ainsley dengan erat. 17 tahun dalam pencarian membuatnya pun sangat menyayangi Ainsley. Apalagi setelah mengetahui bagaimana beratnya hidup Ains selama ini, makin membuatnya merasa iba. Sementara keluarga mereka bisa berkumpul di tempat yang nyaman.


"Iya Mom, besok aku akan berkunjung," balas Ainsley.


"Bi, aku mohon besok datang ke rumah ya. Datang setelah Zen pulang sekolah. Pokoknya semuanya aku tunggu di rumah," ucap mommy Jilliana lagi, dia tidak hanya memperlakukan Ainsley dengan baik, tapi juga memperlakukan semua keluarga Ainsley dengan tulus.


"Terima kasih Nyonya, kami akan datang," balas bi Ema yang merasa tak enak hati sendiri. Mereka semua sampai terkesan memohon hanya untuk meminta mereka datang.


"Terima kasih Bi, kalau begitu kami pamit dulu," balas mommy Jilliana. Kali ini dia peluk semua anak-anak tersebut, Rora, Amara, Joshua, Zen dan Ainsleynya. Daddy Bastian juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Sementara Rachel hanya merasa canggung ketika dia berhadapan dengan Zen. Di sekolah mereka terkesan bermusuhan, karena selama ini sekolah mereka pun saling bersaing dalam prestasi. Tapi di sini mendadak mereka jadi keluarga.


Tapi mau tidak mau Rachel pun memeluk juga, dan Zen hanya membalasnya dengan pelukan kecil.


Ya ampun, ini sangat mengerikan. Batin Rachel. Setelahnya dia segara buru-buru menyusul sang mommy.


Pemandangan itu tentu membuat Helena mendelik. Tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Kenapa mereka saling berpelukan seperti itu? Kenapa Tante Jilliana tidak terlihat marah?" gumam Helena, mulai merasa kesal sendiri. Mulai takut bahwa semua keluarga Damian akan merestui hubungannya dengan Ains.


Kini banyak sekali pertanyaan yang berterbangan di dalam kepalanya, namun karena tidak menemukan jawaban apapun pikirannya mendadak jadi buntu.


Satu-satunya hal yang bisa Helena lakukan adalah segera menekan pedal gas dan pergi lebih dulu dari sana. Demi mendapatkan semua jawaban akhirnya dia menuju rumah utama keluarga Lynford.


Kembali pura-pura tidak tahu dan seolah telah menunggu sejak tadi di rumah ini.


"Tante, darimana saja? Aku sejak tadi datang tapi tidak ada siapapun," tanya Helena.


Tapi belum sempat mommy Jilliana menjawab, Rachel sudah lebih dulu bicara, "Kak, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi," pamit Rachel pada sang tamu, Helena pun mengangguk.


"Om juga mau istirahat sebentar," pamit Daddy Bastian.


Sementara Damian tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum kecil lalu pergi dari sana juga. Ingin segera mandi dan menelpon sang kekasih.


Kini di ruang tengah itu hanya ada mommy Jilliana dan Helena. Helena mampu melihat dengan jelas kebahagiaan yang terpancar dari wajah Tante Jilliana. Mendadak semua orang seolah bahagia sekali setelah pulang dari rumah jallang itu.


Tapi Helena tak boleh buka suara, dia harus selalu pura-pura tidak tau apa-apa.


"Tante darimana? padahal aku ingin makan malam masakan Tante," ucap Helena dengan manja.

__ADS_1


"Sini, Tante akan menceritakan sesuatu padamu," jawab mommy Jilliana, dia juga menarik Helena untuk duduk di sofa.


"Tante bahagia sekali Hel, sangat bahagia," ucap mom Jilliana kemudian.


"Apa yang membuat tante bahagia seperti itu?" tanya Helena penasaran, sampai jantungnya ingin meledak saking tidak sabarnya ingin tau.


"Ains yang selama ini dekat dengan Damian, ternyata adalah Ainsley."


Deg! kedua mata Helena sontak mendelik, bahkan jantungnya pun sontak berdenyut nyeri.


Bagaimana bisa?


Tidak mungkin!


Wanita itu pasti bohong!


Dia pasti mengada-ada semuanya!


"Benarkah Tan? Apa sudah terbukti?" tanya Helena dengan suara yang nyaris bergetar.


"Benar Hel, dia sempat hilang ingatan. Karena itulah om Bastian tidak bisa menemukannya, saat kecil Ains tidak memiliki nama. Ains baru mendapatkan ingatannya lagi setelah kasus ini di tutup. Ya Tuhan, Tante bahagia sekali karena telah menemukan dia. Bersikap Baiklah pada Ains, Hel. Ya?" mohon Tante Jilliana pula.


Alangkah bahagianya jika mereka semua bisa hidup rukun, tak ada yang lebih diinginkan lagi oleh mommy Jilliana selain ini. Kedamaian hati di masa tuanya.


"Kamu hanya salah paham Hel, Ains jadi penari striptis untuk menghidupi semua keluarganya," terang mommy Jilliana pula, yang tak ingin ada perselisihan diantara mereka.


Namun mendengar cerita dan permintaan Tante Jilliana tersebut, Helena justru semakin tersulut api amarah. Diam-diam dia mengepalkan kedua tangannya kuat. Coba tersenyum meski dalam hati mengumpat.


Sial! Ini tidak mungkin. Akh! Pekiknya dan hanya mampu dilakukan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2