
Siang hari setelah keadaan Ainsley membaik, akhirnya Damian membawa sang kekasih untuk pulang.
Kini di Zen Minimarket sudah ditunggui oleh Rania dan Zen, sementara bibi Ema dan anak-anak yang lain pulang ke rumah.
Sekitar jam 2 siang Ainsley dan Damian datang, tiba-tiba keduanya menghadap pada bibi Ema dan tentu membuat wanita paruh baya tersebut jadi terkejut. Banyak sekali hal yang membuatnya kaget hari ini.
"Bi, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan pada Bibi," ucap Damian, memulai pembicaraan mereka.
"Iya, silahkan," jawab bibi Ema yang masih saja bicara secara formal, baginya tuan Ford adalah bos Ains, meskipun sudah berulang kali tuan Ford mengisyaratkan untuk bersikap biasa saja.
Dalam kesempatan kali ini Damian menjelaskan hubungannya dengan Ainsley yang sebenarnya, tentang 17 tahun lalu saat mereka masih anak-anak. Tentang peristiwa penculikan yang mereka alami berdua. Damian juga tidak menyangka bahwa gadis kecil yang selama ini dia cari adalah Ains. Perasaan bahagia itu tak mampu Damian tutupi.
Ainsley bahkan kini masih menjatuhkan air mata tapi dengan bibir yang tersenyum manis.
Bibi Ema makin tercengang tiap mendengar cerita demi cerita yang Damian utarakan.
"Sekarang aku memutuskan untuk menikahi Ainsley, karena itulah aku ingin mendapatkan restu dari bibi Ema," terang Damian setelah bercerita panjang lebar.
Bibi Ema lantas menutup mulutnya yang menganga, seketika bingung harus bagaimana. Cinta mereka mungkin tulus tapi kini keduanya tak hanya berpatokan pada cinta. Apalagi jika ingat Damian bukan berasal dari kalangan biasanya.
Damian adalah keturunan konglomerat yang jauh berada di atas mereka.
__ADS_1
Mungkin Damian bisa menerima Ainsley dan semua kehidupannya, tapi bagaimana dengan keluarga Damian?
Sesaat bibi Ema hanya terdiam, dia menatap ke arah Ains dengan sendu. Sungguh, bibi Ema adalah orang yang paling menginginkan kebahagiaan Ains. Lantas apakah jalan seperti ini bisa benar-benar membahagiakan anaknya.
"Bi," panggil Damian, karena bibi Ema mendadak jadi seperti patung.
"Bibi pasti akan merestui kalian, bibi akan selalu mendukung apapun keputusan Ainsley, Tapi ..." Bibi Ema mengambil jeda sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi kamu dan Ains sangat berbeda, jangan gegabah mengambil keputusan. Kenalkan dulu secara baik-baik, Ains pada keluarga mu," timpal bibi Ema kemudian.
Damian membalasnya dengan anggukan kepala yang nampak mantap, tentu saja hal itu akan dia lakukan.
"Terima kasih Bi, setelah mengenalkan Ainsley. Aku juga akan membawa kedua orang tuaku untuk datang ke sini," balas Damian dengan yakin, dia masih belum sadar bahwa mungkin saja jalannya tak akan mudah.
Bahkan hingga detik ini saja, Helena masih terus membuntuti mereka.
"Kamu benar-benar sudah sangat jauh melangkah Dam," gumam Helena, kini ditangannya sudah ada sebuah dokumen tentang jati diri Ains. Semalam dia membayar seorang detektif mahal untuk menyelidiki semuanya. Data terakhir yang dia dapatkan adalah Damian membayar semua hutang wanita itu di bank.
"Jalan Pak," titah Helena pada sang supir, sebelum Damian pulang dia akan lebih dulu menyerahkan dokumen ini pada Tante Jilliana.
Tiba di rumah utama keluarga Lynford, Helena langsung menunjukkan wajahnya yang sendu. Langsung mencari dimana keberadaan sang Tante.
"Hel, kenapa kamu terlihat sedih seperti ini sayang?" tanya Tante Jilliana dengan cemas.
__ADS_1
"Tan, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada Tante. Tapi aku mohon Tante yang kuat, jangan katakan apapun pada Om Bastian."
"Hei, ada apa ini?" tanya Tante Jilliana dengan bingung.
"Jangan bicara di sini, ayo kita bicara di perpustakaan," ajak Helena, ya, di rumah tersebut memang ada sebuah perpustakaan.
Akhirnya mereka datang ke sana.
"Tante janji dulu padaku, jangan katakan pada siapapun bahwa aku yang menyampaikan tentang kebenaran ini. Aku takut Tante," mohon Helena, mulai bersandiwara jadi yang paling takut dan tersakiti.
"Ya ampun, Tante jadi bingung sendiri sayang. Ada apa sih? Tante janji tidak akan mengatakan apapun pada yang lain," balas Tante Jilliana pula.
"Kemarin aku mengikuti Damian, tapi ternyata dia tidak benar-benar pergi ke tempat Aldian," terang Helena.
Dahi Tante Jilliana seketika berkerut dan makin terkejut saat Helena menceritakan semua yang dia tau, cerita yang sudah ditambah-tambahi hingga makin mendramatisir keadaan.
Ternyata Damian telah memiliki seorang wanita simpanan, penari striptis yang dia temui di Klub Malam. Damian membelikan wanita itu 1 unit apartemen Luxury, membangunkan sebuah minimarket dan membayar semua hutang-hutang wanita itu di Bank. Wanita itu bahkan telah memiliki satu anak berusia 4 tahun.
"Namanya adalah Ains, Tante," ucap Helena dengan sendu, sedih karena Damian telah dimanfaatkan habis-habisan oleh wanita tersebut.
"Tante jangan marah pada Damian, dia tidak salah. Dia hanya diperdaya oleh wanita itu," terang Helena lagi.
__ADS_1
Sementara Tante Jilliana sudah kehabisan kata-kata, tak menyangka anaknya begitu tersesat.
Ya Tuhan, batin Tante Jilliana. Mulai berpikir bagaimana caranya melepaskan sang anak dari benalu tersebut.