
"Kenapa kamu sangat egois Ains? Apa kamu tidak sadar jika sudah menghancurkan sebuah keluarga?" tanya Helena dengan sorot mata yang mendadak berubah sendu, dia ingin mengambil simpati Rachel atas perdebatannya dengan Ainsley.
"Kak Helena jangan sembarangan menuduh kak Ains, mommy dan Daddy sendirilah yang ingin keluarga ini hancur," sahut Rachel, malah dia yang menjawabi ucapan Helena.
"Hanya gara-gara ego mereka bahkan tega membuatku dikeluarkan dari sekolah," timpal Rachel lagi dan kali ini membuat Helena tak mampu menjawab lagi. Malah jadi kesal karena Rachel secara terang-terangan membela Ainsley dibandingkan dia.
"Rachel, sudah cukup," ucap Ainsley, dia mengelus pundak Rachel agar tenang. "Lebih baik sekarang kamu pergi, Rachel akan tetap bersamaku," kata Ainsley pula dan jelas kalimat itu dia tujukan untuk Helena.
"Baiklah, aku mohon jaga Rachel dengan baik," balas Helena, mengalah lebih dulu adalah keputusan yang tepat.
"Tentu," balas Ainsley dengan cepat.
"Jika Rachel butuh apapun katakan padaku."
"Tidak akan, jika Rachel butuh sesuatu aku dan kak Damian bisa mencukupinya," jawab Ainsley telak.
Helena benci sekali karena wanita di hadapannya ini selalu menjawab. Yang dia inginkan adalah Ainsley yang penakut dan selalu patuh.
__ADS_1
"Aku serius ingin menjalin pertemanan denganmu Ains, ku mohon Jangan bersikap sinis seperti itu padaku," pinta Helana.
"Maaf Hel, aku tidak bisa berteman dengan seseorang yang mencintai calon suami ku," jawab Ains, tak ingin kalah bicara.
"Ayo Rachel, kita masuk," ajak Ainsley pada sang calon adik ipar, dia juga bahkan langsung menarik Rachel untuk mengikuti langkahnya segera masuk dalam toko, meninggalkan Helena yang masih berdiri di sana. mereka tidak menoleh ke belakang sedikitpun sampai benar-benar menghilang di dalam toko tersebut.
"Kurang ajar, jallang tidak tahu diri!" geram Helena, bicara dengan suara yang pelan namun penuh penekanan, menandakan kekesalannya yang sudah membumbung tinggi.
Helena menghentak lantai dengan satu kakinya, lalu pergi dari sana. Rencananya selalu saja gagal, membuatnya geram sendiri.
*
*
Dan mendengar permintaan maaf itu, Rachel justru terkekeh pelan.
"Kakak keren, nanti jika aku mencintai seseorang aku juga akan berjuang seperti kak Ains," balas Rachel, tanpa pikir panjang dia bicara seperti itu. Cinta baginya memang perlu diperjuangkan, tidak dengan mudah memberi celah untuk orang ketiga.
__ADS_1
Zen yang berada di meja kasir dan juga mendengar ucapan Rachel itu pun tersenyum miring, namun tak ada yang bisa melihat senyumnya karena dia selalu memakai masker. Baginya Rachel begitu kekanak-kanakan.
"Hus, kenapa bicara cinta-cintaan, sekarang tugas utama mu adalah belajar," tegas Ains.
Helena makin tertawa lalu mengangguk patuh, kedatangan Helena barusan sungguh tidak berpengaruh apapun bagi keduanya. Ainsley dan Rachel tetap menjalani hari ini dengan bahagia.
Saat sore dan waktunya pulang, Rachel bersama Zen dalam satu motor. Sementara Ains sendirian.
Melewati jalanan yang sudah biasa mereka lewati.
Tiba di rumah langsung di sambut anak-anak dan bibi Ema.
Ainsley diam-diam memeriksa ponselnya dan tidak melihat satupun notifikasi dari sang kekasih.
Dia tau kak Damian sangat sibuk. Namun Ainsley tidak memilih untuk ikut acuh juga, dia tetap memberikan kabar seperti biasa.
'Aku sudah pulang kak.' tulis Ains dalam pesan singkatnya.
__ADS_1